Rustono: Raja Tempe di Jepang
Bungkus itu terbuat dari plastik putih yang kualitasnya terlihat biasa-biasa saja. Di atasnya terdapat label bertuliskan, “Rusto Tempe” Made in Japan. Di bawah label itu tertera tulisan dalam huruf kanji, yang kira-kira menjelaskan akan kandungan produk tersebut dan beratnya.
Ada catatan kaki berbahasa Inggris dalam bungkus itu, tertulis “Tempe an original, delicious cultural food, with no cholesterol made by Rustono, an Indonesian living ini Shiga Perfecture. It is a traditional fermented 100% soybean product.” yang artinya kira-kira, “Tempe asli, makanan tradisional nan enak, yang tidak mengandung kolesterol. Dibuat oleh Rustono, warga Indonesia yang tinggal di Provinsi Shiga (Jepang). Produk ini terbuat dari biji kedelai yang 100 persen dibuat dengan proses peragian secara tradisional.”
Tempe Rusto Made in Japan mudah didapatkan di berbagai supermarket di seluruh negeri Matahari Terbit. Ia menjadi makanan populer di Jepang karena bangsa ini memang menyukai produk-produk hasil peragian. Tempe Rusto dengan berat 250 gram dijual dengan harga 500 yen atau sekitar Rp 50 ribu. Di Indonesia, khususnya di Jawa, tempe seberat itu paling dijual dengan harga Rp 1.000 saja.
Perjalanan dalam udara dingin musim gugur ke daerah pegunungan di Katsuragawa yang terletak sekitar 30 kilometer dari Kyoto adalah perjalanan yang menyajikan keindahan alam Jepang. Jalan menanjak berliku dihiasi pepohonan momiji yang daunnya mulai memerah cerah di sepanjang jalan. Kabut meliputi puncak-puncak gunung dan hutan pinus lalu berakhir di sebuah lembah hijau. Rumah tradisional Jepang beratap rumbia tebal masih tampak di sana-sini dengan tamannya yang khas seakan bersatu dengan alam. Itulah awal perjumpaan saya dengan Rustono (41), sang Raja Tempe, sebagaimana teman-teman Jepang menyebutnya.
Di kawasan desa yang indah inilah konotasi yang menyepelekan tempe, seperti sebutan bangsa tempe atau mental tempe, sirna. Dari sinilah tempe mulai dikenal dan merambah hampir ke seluruh Jepang. Kemasan seberat 200 gram dengan label Rusto’s Tempeh bergambar ilustrasi suasana kehidupan kampung di Jawa tersebar di berbagai toko swalayan di Jepang.
Sebuah rumah tradisional Jepang, cagar budaya yang telah berusia dua abad, adalah tempat perjanjian saya bertemu dengan Rustono. Ketika kaki mulai melangkah memasuki gerbang kayu di halaman berpagar bambu, terdengar tiupan saksofon sopran yang mendendangkan lagu ”Going Home” dari Kenny G.
Rupanya sang raja sedang asyik melantunkan lagu penuh kerinduan yang menghanyutkan itu dengan duduk santai di batu besar di tengah taman di bawah rindangnya pohon momiji, ditingkah suara gemercik sungai jernih yang membelah desa, ditemani sang istri di sampingnya.
Semangat dari kerinduan
”Kampung halaman di tanah kelahiran memang selalu mendatangkan rindu,” Rustono menjelaskan ketika ditanya tentang lagu favoritnya itu. ”Dan berdendang dengan tiupan saksofon adalah alunan suara jiwa paling dalam,” tambahnya.
Kerinduan akan tanah kelahiran di sebuah kota kecil Grobogan, nun jauh di pedalaman Jawa Tengah dengan hamparan sawah dan hutan jati, rupanya masih saja mengusik Rustono meskipun sudah 13 tahun dia menetap di Jepang.
Bagi Rustono yang alumnus Akademi Perhotelan Sahid (masuk tahun 1987), kerinduan tersebut bukanlah bernuansa sendu berlarut-larut, melainkan pembawa semangat menentukan keputusan jalan hidup.
Tahun 1997, setelah enam tahun bekerja di Hotel Sahid Yogyakarta, perubahan jalan hidup mulai menunjukkan arahnya. Ketika sebuah grup wisatawan Jepang berkunjung ke Yogya, seorang bidadari dari Negeri Matahari Terbit, Tsuruko Kuzumoto, yang tinggi semampai berkulit kuning langsat menambat hati Rustono. Dan rupanya dia tidak bertepuk sebelah tangan. Tahun itu juga berangkatlah Rustono menyusul ke Jepang dan mulai menempuh hidup barunya di Kyoto.
Berbagai pekerjaan pernah dia lakukan. Dari bekerja di perusahaan roti sampai ke perusahaan sayur-mayur. Di situ Rustono banyak memerhatikan etos kerja karyawan Jepang. Selain penuh tanggung jawab, mereka juga berupaya mencapai target dan ikut serta dalam menjaga kualitas produksi. Pun Pemerintah Jepang sangat teliti dengan secara periodik memeriksa kualitas produksi, meninjau perusahaan, sampai memerhatikan kebersihan ruangan, termasuk peralatan dan meja kerja.
Menurut pengamatan Rustono, makanan adalah kebutuhan paling pokok kehidupan manusia. Itu sebabnya mengapa segala bentuk makanan diproduksi di Jepang dan industrinya sangat maju. Terbetik dalam pikiran Rustono, kenapa tidak mencoba membuka usaha makanan yang belum ada di Jepang. Inspirasinya datang setelah mengenal nato, sebangsa makanan dari kedelai yang rasanya sangat khas untuk lidah Jepang.
Jadilah dia mencoba membuat tempe dengan sedikit pengetahuan yang pernah dia kenal. Selama empat bulan dia berkutat mencoba membuat tempe, dengan ragi dari Indonesia dan kedelai Jepang, tetapi selalu gagal. Hingga kemudian dengan menggunakan air dari sumber mata air di kediaman mertua, dia berhasil membuat tempe.
Perjalanan panjang
Jalan untuk mencapai keberhasilan usaha yang dia tempuh sangatlah panjang dan terjal. Meskipun berhasil dalam percobaan membuat tempe, dia belum yakin benar. Pastilah itu bukan hanya karena menggunakan air asli dari mata air langsung.
Setelah anak pertamanya, Noemi Kuzumoto, berusia tiga tahun, dengan izin istrinya Rustono kembali ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat tempe kepada 60 perajin tempe di seluruh Jawa.
Beberapa perajin memang ada yang tidak sepenuhnya memberi rahasia pembuatan tempe, tetapi banyak hal yang bisa dia serap dari pengalaman para perajin tempe di Jawa Tengah. Misalnya, kenapa tempe bisa lebih terasa gurih, bagaimana hasilnya tempe yang dibungkus dengan daun bambu atau daun pisang, ataupun dengan plastik, dan bagaimana bisa menghasilkan fermentasi tempe dengan baik.
Yang kemudian tak kalah berat adalah memperoleh izin produksi di Jepang. Dia harus melalui penelitian dan tes di laboratorium, hingga harus memenuhi kesanggupan bertanggung jawab atas kualitas dan kandungan bahan produksi sesuai dengan yang tertera di kemasan bahwa kandungan gizi tempe kedelai setara dan kandungan gizi daging, termasuk mematuhi peraturan daur ulang kemasan.
Kendala cukup berat yang juga dapat dia lalui adalah soal menghadapi iklim alam di Jepang. Fermentasi tempe hanya bisa berhasil dalam cuaca kelembaban 60 persen hingga 90 persen, yang tentu saja tidak masalah di Indonesia. Di Jepang yang mempunyai empat musim, mempunyai kelembaban udara yang dibutuhkan tempe hanya pada musim panas. Tetapi, lewat penelitian kecil-kecilan dan telaten, hasilnya sangat besar. Dia bisa mengatur kelembaban pada segala musim di dalam ruangan produksi.
Peralatan produksi juga hasil inovasi Rustono sendiri. Alat pencuci kedelai dia modifikasi dari bekas mesin pencuci cumi-cumi yang dia dapat dari perusahaan perikanan. Begitu pula untuk pengemasan, dia datangkan mesin bikinan Bantul dan Surabaya.
The King of Tempe
Meskipun julukan ini hanya gurauan teman-teman sejawatnya, rasanya memang tak ada yang salah. Kini kapasitas produksi Rustono setiap lima hari bisa mencapai 16.000 bungkus tempe dengan kemasan 200 gram. Untuk mendukung produksi, dia mengadakan kontrak kerja sama dengan petani kedelai di Nagahama, kawasan Shiga.
Dari peta penyebaran Rusto’s Tempeh yang tertera di ruang kerjanya, terlihat konsumennya tersebar di kota-kota hampir seluruh Jepang. Selain masyarakat Indonesia di Jepang dan masyarakat Jepang sendiri, konsumennya juga meliputi perusahaan jasa boga, rumah makan vegetarian, toko swalayan, sekolah, hingga rumah sakit di Fukuoka.
Memang usahanya berawal dari skala kecil dengan pemasaran dari pintu ke pintu. Rumah produksi dia bangun sendiri tanpa tukang bangunan dan tanpa pemikiran arsitektural, tetapi hanya dengan intuisi yang mirip intuisi seniman. Dan dari usaha rumahan itu sekarang Rustono mencapai taraf pembangunan pabrik tempe di kawasan pinggir hutan yang bermata air, di atas lahan 1.000 meter persegi.
Penghargaan
Di Jepang sudah banyak buku mengupas tentang tempe. Di antaranya yang terkenal adalah The Book of Tempeh, tulisan William Shurtleft dan Akiko Aoujaga. Buku besar ini lengkap dengan uraian dan ilustrasi menarik tentang pembuatan dan manfaat tempe dengan latar belakang budaya Indonesia, terutama Jawa.
Ada juga buku terbitan Asosiasi Tempe di Jepang yang dikelola para profesor dan ahli gizi. Asosiasi ini mengadakan penelitian dan setiap tahun mengadakan seminar tentang tempe. Salah satu kajiannya adalah kandungan gizi tempe tak kalah dari daging sapi.
Berbagai restoran vegetarian di Jepang banyak menyajikan olahan tempe dengan berbagai bentuk olahan Jepang, seperti misoshiru tempe dan tempura tempe. Yang paling terkenal adalah burger tempe.
Mereka memperkenalkan tempe dengan semboyan ”Makanan enak belum tentu menyehatkan, makanan tidak enak bisa menyehatkan. Tetapi, makanan enak dan menyehatkan adalah tempe!” Terberitakan pula sebuah perusahaan kosmetik memproduksi bahan kecantikan dengan jamur hasil fermentasi tempe ke dalam kapsul yang konon bisa menghaluskan kulit.
Soal hak paten yang pernah jadi pergunjingan di negara kita bahwa tempe diklaim Jepang, Rustono menjelaskan, ”Ah, itu kesalahpahaman. Bagaimana kita mematenkan tempe yang semua orang sampai di Amerika pun tahu tempe adalah makanan asli Indonesia. Apakah Jepang juga akan mematenkan sashimi atau sushi? Mereka hanya mematenkan olahan burgernya, bukan tempenya.”
Bagi yang ingin kontak silakan hubungi beliau di rustonotempeh@yahoo.com
Sumber: GM Sudarta (Kompas), Tribun Timur, GoodNewsFromIndonesia



















Wow..aku ikut bangga!apalagi diriku penggemar berat tempe:)
Ternyata raja tempe di jepang itu saudara sepupuku. Selamat mas rust. Sukses selalu. Salam dr yogya.
Saya minta alamat email dan no telp mas rustono bisa? Thanks.
Silakan Asih hubungi mas Rustono ke rustonotempeh@yahoo.com.
Halo kepada pak Rustono, bisa saya minta alamat contact personnya, karena saya dan tim dari Indonesia ingin mewawancarai beliau untuk keperluan tugas..
terima kasih
Wicaksono hubungi aja lewat rustonotempeh@yahoo.com okay!
Bangga denger ceritanya, kalo bisa aku minta contact person beliau
terima kasih.
Silakan Agus hubungi di rustonotempeh@yahoo.com.
barusan melihat tayangan di TV tentang usaha tempe Bapak Rustono di Kyoto. Turut senang juga bangga melihat kesuksesan Bapak Rustono sendiri dan “Tempe Indonesia”. MAJU TRUSS!!!
Sedikit berbagi pengalaman saja, kami sekeluarga sempat tinggal juga di Jepang, tepatnya di Fukuoka. Walau kecil-kecilan Ibu saya sempat membuat tempe disana itung-itung menambah untuk penghasilan.
(minta e-mail atau alamat jejaring sosial Pak Rustono, thanks)
Ekanto bisa hubungi beliau di rustonotempeh@yahoo.com
Selamat untuk Pak Rustono anda layak dapat bintang atas perjuangan makanan tempe untuk konsumsi warga Jepang; Saya bangga dengan ketekunan & kerja keras menambah warna makanan Jepang, kalo boleh saya minta alamat email Pak Rustono. Terima kasih
Ernanda hubungi beliau di rustonotempeh@yahoo.com. Terima kasih.
Luar Biasa. Sangat inspiratif. Makanan khas Indonesia sejak kecil saya suka…TEMPE.
Saya minta alamat e-mail Pak Rustono, Terima kasih.
Silakan Pendi kirim e-mail ke rustonotempeh@yahoo.com
Pak Rustono boleh minta alamat emailnya? Atau yg bs saya hubungi. Terima kasih.
Silakan Nanang hubungi beliau di rustonotempeh@yahoo.com
Wouh…Bangga sekali aku. Inspiratif sekali. Ini membuktikan kalo orang Indonesia bisa lebih dri pada “sekali”
kalo boleh saya minta alamat email Pak Rustono. Terima kasih sekali.
^_^
Monggo Irvan kirim e-mail ke rustonotempeh@yahoo.com
Saya bersyukur bisa melihat tayangan penjenengan di TV kemarin. Membangunkan diri saya yg telah terlelap sekian lama dengan kenyamanan & kemapanan yg semu.
Kesan mendalam yg sy dapat adalah cara pandang/hidup penjenengan yg begitu sederhana tp bisa bermanfaat untuk seluas luasnya “umat” melalui salah satunya Rusto’s Tempeh.
Subhanallah, semoga penjenengan & keluarga makin dimuliakan oleh Sang Maha Kuasa… Berkenankah bila saya mau nyuwon alamat emailnya?
Fariza silakan kirim ke rustonotempeh@yahoo.com
Mas Rus, Apakah sudah dapat mitra untuk Iles-Iles/Porang/Konjac-nya, Thanks.
Kami tunggu lho Mas. Petani Porang Banyuwangi menanti info dari anda
Mas Rus bisa dihubungi di rustonotempeh@yahoo.com, Mas Sugi!
Pak’ Rustono…aq bangga pas lihat TV ada sosok bersahaja Juragan Tempeh yang sukses di Jepang…Aq berniat sekali pengen ke Jepang. Siapa tahu bisa ke sana Tahun 2011, berharap bisa ketemu dengan anda’ saya minta contactnya yah pak’…Salam dan Makin sukses.
Untuk kontak beliau, silakan Rezha kirim e-mail ke rustonotempeh@yahoo.com
Saya bukan orang jawa tapi senang makan tempe. Oenak tenan apalagi tempe goreng bumbu
Salam sukses selalu buat pak Rustono. Saya termasuk dari keluarga pembuat tempe di Jakarta, asal dari pekalongan. Tempe tak dipandang sebelah mata lagi dengan kesuksesan pak Rustono memperkenalkan dan mepopulerkan di Jepang.
Terima kasih banyak untuk doa dan supportnya, kami tersentuh membaca komentar2 anda. Oh… ada juga adik saya di kolom ini. Mari berbagi bersama,semoga ada manfaatnya di masa depan.silahkan hubungi kami di: rustonotempeh@yahoo.com Jabat erat selaluuuuu…..
Terima kasih banyak Pak Rustono atas kunjungan, komentar serta infonya. Semoga usaha bapak semakin sukses di Jepang. Salam bangga!
Hebatttttt3x….!!! Saya baru liat profilenya d TV one. Dari cara bicaranya pak Russtono benar2x mencintai tempe bukan hanya mencari untung dari tempe. Doa kan saya pak. Saya juga mau membawa bebek goreng saya Mendunia dengan bumbu rempah khas indonesia….آمينَ .
Saya sangat terharu saat saya melihat “the king of tempe” di tayangkan di tv. Saya berharap suatu hari saya dapat menginjakkan kaki saya di Negara Matahari Terbit itu. Itu adalah cita-cita saya. ketika saya tiba di jepang nanti, insyaallah saya akan berkunjung kerumah pak Rustomo.
Terima kasih banyak atas infonya. Setelah melihat perjuangan pak Rustomo dan keluarganya, SEMANGAT saya untuk ke Jepang semakin membara…Semoga hal itu akan terjadi..
Amiin..
Syukurlah, ternyata orang Indonesia dapat berpartisipasi di negeri rantau. Kalau boleh tolong alamatnya pak Rustono, siapa tau ada kesempatan saya bisa berkunjung ke rumahnya di Jepang. Insya Allah, tahun depan saya akan kuliah program doktor di Jepang. Terima kasih.
Hormat saya,
AM ILYAS
Silakan pak AM Ilyas hubungi pak Rustono langsung di rustonotempeh@yahoo.com. Semoga sukses kuliah program doktornya pak!
Bbener-bener salut dah sama mas Rustono. jadi pengen bisnis tempe juga di sana hehehe….
Maaf bos salam kenal ya..mau nimbrung tanya nie soal tempe…BOLEH KAN???
Saya ni kan juga pembuat tempe kecil kecilan di rumah. dalam satu harinya bisa hbis kedelai 50 kg, trus yg mau saya tanyakan bagaimana caranya mr.RUSTONO bisa sukses bisa habis tempe sampai sebanyak itu seperti sekarang ini sampai dijuluki the king of tempe. Bisa kasih tips sedikit cara pelebaran, pengembangan, dan pemasaran tempe mas Rustono.. pripun mas geh??? sampun cekap semanten, matur nuwun n mohon dibalas, assallamuaallaikum.
Silakan Saiful langsung hubungi beliau di rustonotempeh@yahoo.com
Akhirnya… Suksess seperti apa yang pak Rustono harapkan… (jadi ingat waktu dulu cerita bareng di Kyoto), nomor hp anda masih aku simpan nih…Ok , sip deh pak Rustono. Gambatte neh …
Kayaknya email-nya salah tuh tolong dikoreksi dong, makasih kalau bisa nomor tlpnya juga dong!
E-mail itu diberikan langsung oleh Rustono ke iProud. Soal no. telepon, tanyakan langsung pada beliau. Mungkin ada alasan tertentu dr beliau shg tdk ingin dipublikasikan.
E-mail beliau benar. Gak ada yang salah…
Rusto’s tempeh umaiiiiiii,tabeta kotto aru kara,rustono san ganbareee…
Sy bangga dengan pak Rustono karena di waktu saya kerja di Jepang orang2 jepang di tempat saya bekerja pernah merasakan tempe buatan pak Rustono. Semua orang mengenal RUSTO’S TEMPEH termasuk saya orang Indonesia sendiri pernah merasakan juga di sana, pkk rasa tidak kalah enak dengan buatan di Indonesia, ganbaree…pak Rustono, buat INDONESIA lebih jaya lagi di mata dunia terutama di Jepang!
Salam…
Bagi kami pak RUSTONO adalah Pahlawan..khususnya bagi warga Jawa Tengah dan bagi negara Indonesia tercinta..tetap semangat semoga Allah merindhoi
usaha Pak RUSTONO…
salam
ROFII.(Penjual ketela rambat goreng dan rebus )
Maaf saya coba hubungi pak Rustono di contact yang yahoo di atas, namun sampai saat ini belum mendapatkan balasan, apakah alamat email tersebut masih valid atau sudah berganti ya? Terima kasih banyak…
iProud tidak tahu persisnya mengapa Pak Rustono tidak membalas e-mail Pak Chris. Mungkin beliau sibuk dan belum sempat buka e-mail atau sudah ganti e-mail, iProud juga tidak tahu. E-mail yang saya cantumkan berdasarkan e-mail langsung yang dikirim beliau ke iProud. Terima kasih.