Skip to content

Mobil Listrik & Mobil Hibrida Buatan LIPI

Maret 13, 2010

Pada acara Eco Products International Fair, yang berlangsung dari 4–7 Maret 2010, ternyata ada hal yang cukup menarik di bidang otomotif, tetapi kurang mendapatkan perhatian, yaitu mobil ramah lingkungan karya putra-putri bangsa Indonesia. Keduanya, mobil hibrida dan listrik di stan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Kedua mobil tersebut kurang begitu menarik perhatian karena salah satunya adalah Kijang Super keluaran awal 1990-an, dan satu lagi hatchback kecil. Hanya saja, tulisan di samping mobil itu cukup menarik bagi orang-orang tertentu.

Pada Kijang Super ditulis “The 1st Electric Car Conversion”. Sedangkan satu lagi “The 1st Hybrid Elecric Vehicle”. Menariknya lagi, mobil hibrida ini kalau dibikin secara massal, ongkos produksinya diperkirakan Rp 50 juta.

Kedua mobil ditemui secara kebetulan karena sebagian wartawan menunggu acara pengumuman pemenang Toyota Eco Youth dengan panggung berada di depan stan LIPI. Bila tidak, bisa saja terlewatkan.

Berdasarkan keterangan Humas LIPI yang bertugas saat itu, Mustari, kedua mobil ini direkayasa oleh LIPI Bandung, yang menangani masalah instrumentasi dan mekatronika.

Mobil listrik, mobil ramah lingkungan, juga tidak lepas dari obsesi para peneliti dan ahli Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI. Cukup menarik, mobil listrik yang ditampilkan hanya konsep perubahan sistem penggerak dari mesin bensin ke motor listrik. Sedangkan bodinya memanfaatkan produk yang sudah ada. Dalam hal ini, adalah Kijang Super produksi awal 1990-an.

Karena itulah, LIPI menyebut karya mereka ini sebagai electric vehicle conversion. Kijang yang masih berpelat merah ini di ruang mesinnya kini dipenuhi baterai dan sistem kontrol elektronik yang mengatur kerja kendaraan. “Baterai ini dibeli di luar negeri,” jelas Mustari.

Spesifikasi penggerak listrik Kijang konversi ini berbeda dengan yang digunakan pada mobil hibridanya. Kendati tetap menggunakan motor listrik tiga fase, tetapi tegangan nominalnya 96 volt. Tenaga yang dihasilkan lebih besar 52 PS yang diperoleh pada putaran maksimum 6.500 rpm, sedangkan torsi 156 Nm.

Untuk charger atau sistem pengisian menggunakan tegangan 96 volt/25 ampere. Kemampuan Kijang Super ini bisa sampai 120 km/jam dan jarak tempuh untuk sekali isi baterai 75 km. Sayang, tidak dijelaskan jenis baterai yang digunakan. Begitu juga waktu pengisiannya. Padahal, dua faktor terakhir ini sangat penting untuk mobil listrik. Sama dengan merupakan nyawanya.

Di saat mobil hibrida lagi nge-tren di dunia saat ini, muncul karya asli buatan Indonesia. Sebuah hatchback kompak dengan penampilan secukupnya. Sayang, ketika diminta detail dimensinya, Mustari mengaku tidak mempunyai.

Hanya dijelaskan, mobil ini dilengkapi dengan generator dengan mesin 160 cc di belakang, sedangkan baterai di depan. Fungsi mesin untuk mengisi baterai. Selanjutnya mobil dijalankan oleh baterai. Tepatnya, mobil hibrida yang dicoba diteliti oleh LIPI adalah tipe seri. Artinya, mobil digerakkan oleh motor listrik.

Dari spesifikasi sumber penggerak dijelaskan, mobil ini menggunakan motor listrik 2-fasa dengan tegangan 72 volt, arus AC. Tenaga maksimum yang bisa dihasilkan 43 PS pada putaran 7.500 rpm. Sedangkan torsi 129 Nm. Sistem kontrol 72 volt/550 ampere.

Untuk baterai, memang bukan lithium-ion. Namun, paketnya adalah 72 volt/220 Ah. Mobil dilengkapi dengan charger 72V/25 ampere. Menurut Mustari, kemampuan mobil ini untuk dikebut 70 km/jam.

Interior mobil ini sangat sederhana dan tampaknya dikerjakan oleh mereka yang bukan ahli di bidangnya. Ini bisa dilihat dari jahitan trim interior, baik jok, setir, dan dashboard. Bahkan ketika pintu coba dibuka-tutup, tidak seperti kondisi mobil yang dijual di pasaran.

Menurut Mustari, mobil hibrida yang dikerjakan dengan trail and error menghabiskan dana Rp 200 juta. “Kalau dibikin secara massal, harganya bisa Rp 50 juta, seperempat harga penelitian,” jelasnya. Kondisinya tanpa AC dan perlengkapan hiburan serta kemudahan pengemudi atau penumpang lainnya.

Dijelaskan pula, mobil ini mulai dikerjakan LIPI sejak tahun lalu dan lebih diutamakan untuk mendalami sistem penggeraknya. “Kita coba memamerkan, siapa tahu ada perusahaan yang ingin memanfaatkan, melakukan investasi membuat mobil hibrida rekayasa ahli kita,” jelas Mustari.

Achmad Rizal, Marcomm PT TAM, insinyur lulusan ITB, ketika diminta komentar tentang mobil hibrida dan listrik LIPI ini mengatakan, secara pribadi pengembangan yang dilakukan oleh LIPI ini kurang pas. “Kalau mau mengembangkan teknologi, coba bikin baterai. Pengembangan yang banyak dilakukan perusahaan sekarang ini fokus pada baterai,” tegasnya.

Dijelaskan, komponen seperti motor listrik, sistem kontrol (elektronik), dan lainnya tidak menjadi masalah. “Coba kalau dibikin baterai yang bisa diisi dengan cepat, ringan, dan kemampuan menyimpan energi tinggi, dipastikan akan dicari bukan hanya oleh produsen mobil, juga oleh gadget elekronik,” komentar Rizal. Selain itu, menurutnya, mobil listrik dan hibrida LIPI masih menggunakan baterai biasa, bukan lithium-ion.

Sumber: Kompas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.583 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: