Lanjut ke konten

Konser Musik Degung Gamelan Sunda Sukses di Manchester, Inggris

Mei 3, 2010

Pusat Musik dan Drama Martin Harris University of Manchester mengelar konser musik Degung Gamelan Sunda oleh sekelompok mahasiswa musik di universitas ternama di kota Manchester yang digelar di Konser Hall Cosmo Rodewald, 2 Mei 2010.

Kelompok yang terdiri dari 16 siswa tahun kedua pada program sarjana musik di University of Manchester itu sebelumnya mengikuti 12 kelas selama enam bulan di bawah bimbingan ahli Gamelan Sunda terkemuka di Inggris, Dr Rachel Swindells.

Maulana Syuhada, mahasiswa Ph.D di Management Science di Lancaster University dalam keterangannya mengatakan bahwa konser yang berjalan dengan sukses itu mendapat sambutan dari penonton yang baru pertama kali mendenger gamelan Sunda.

Dikatakan, kelompok dari Pusat Musik Drama Martin Harris yang terdiri dari mahasiswa itu melakukan beberapa repertoar tradisional Sunda seperti Manintin Serang dan Lutung Bingung Lalayaran serta kontemporer seperti Senggot-Sekar Duaan (Gunung Guntur).

Usai konser beberapa penonton menyatakan kekagumannya dan bahkan banyak yang bertanya serta sekedar ingin mencoba alat, dan tentu saja memberikan kesannya yang sangat positif, ujarnya.

Ungkapan “its very beautiful!” dan “impressive!” terlontar dari penoton yang sebagian besar masyarakat Inggris, ujar Maulana yang juga ikut menampilkan “Kacapi Suling” bersama Simon Cook memainkan alat musik rincik dan Rachel Swindells yang memainkan suling bambu.

Simon Cook, yang bermain dan bernyanyi bersama Kecapi Suling merupakan seorang figur penting dalam memopulerkan gamelan Sunda di Inggris sejak akhir 1980-an.

Awalnya Simon Cook bermain gamelan Jawa Tengah tahun 1979 dan pernah tinggal di Belanda, namun staf pengajar musik di Egham ACS International School itu datang ke Indonesia untuk belajar gamelan dan tinggal selama dua belas tahun, mengkhususkan diri dalam musik Sunda.

Simon yang mengajar gamelan di Royal Holloway, Universitas London adalah direktur Sekar Enggal, sebuah ensemble Sunda bermarkas di City University, London.

Dalam konser tersebut, Trio Maulana Syuhada yang memainkan alat musik Indung Kacapi dan Simon Cook serta Rachel Swindells menampilkan potongan repertoar tradisional seperti Jipang Lontang, Budak Ceurik, Nimang dan Dareuda.

Maulana merasa prihatin dengan kurangnya perhatian dari masyarakat Indonesia terhadap kesenian Indonesia yang sering kali ditampilkan di Inggris.

“Apakah ini cerminan dari apresiasi masyarakat Indonesia yang masih rendah terhadap seni tradisional,” ujar Maulana.

Diakuinya pagelaran musik gamelan sering kali ditampilkan oleh berbagai kelompok pengemar musik tradisional asal Inggris. Bahkan belum lama ini di Manchester digelar “Gamelan Weekend” dimana para master gamelan UK yang tergabung dalam “Southbank Gamelan” mengorganisir penampilan dan workshop gamelan, tari dan wayang kulit.

Dikatakannya, dalam acara berbeda seperti konser gamelan Sunda dari Grup Degung Manchung, konser gamelan Jawa oleh kelompok Grup Southbank, dan pertunjukan Wayang Kulit dengan dalang Matthew Cohen, dirinya tidak menemui satu pun pengunjung asal Indonesia.

“Di satu sisi kita marah ketika ada seni tradisional diklaim negara lain seperti kasus klaim Malaysia tetapi pada kenyataannya apresiasi dan penghargaan terhadap seni tradisional masih rendah,” katanya.

Sumber: Antara

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.235 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: