Langsung ke isi

LIPI Kembangkan Ubi Kayu Transgenik Untuk Lahan Kering

Mei 29, 2010

Siapa bilang lahan kering adalah lahan mati? Berkat inovasi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), lahan kering bisa menjadi lahan produktif yang menghasilkan tanaman pangan. Salah satunya adalah tanaman ubi kayu atau singkong (mannihot esculenta).

Ubi kayunya pun bukan ubi kayu biasa, namun jenis ubi kayu transgenik pertama di dunia untuk varietas Indonesia. Ubi kayu transgenik adalah hasil penelitian rekayasa genetika tanaman pangan dalam menyiasati perubahan iklim yang lebih kering di masa depan.

“Gen penyandi phytoenesynthase (Psy) yang terlibat dalam biosintesis beta karoten pada ubi kayu sudah diidentifikasi dan sudah di-sequence untuk konfirmasinya,” kata peneliti pada puslit Biotekologi LIPI Prof Dr. Enny Sudarmonowati yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh LIPI di Jakarta, 24 Mei 2010.

Gen yang diperoleh ini akan diintroduksi kembali ke tanaman ubi kayu melalui transformasi genetik yang tekniknya telah dikuasai sehingga diharapkan tidak lagi mengalami kesulitan di masa datang, ujar Enny.

Beta karoten yang diduga berkorelasi dengan ketahanan terhadap kekeringan, ujarnya, sudah bisa ditingkatkan dalam penelitian tersebut.

“Upaya menghasilkan ubi kayu yang mengandung kadar amilosa lebih tinggi juga sedang dilakukan,” ujar Enny , bahkan upaya untuk menghasilkan ubi kayu dengan amilosa lebih rendah sudah sampai di lapang uji terbatas hingga generasi kelima dan merupakan riset ubi kayu transgenik pertama di dunia untuk varietas Indonesia.

Amilosa merupakan komponen pati selain amilopektin yang komposisinya secara alami adalah 20 persen untuk amilosa dan 80 persen untuk amilopektin.

“Amilosa jika dikurangi persentasenya akan semakin baik bagi pengolahan pada industri kertas dan tekstil karena pengolahannya menjadi lebih mudah. Di LIPI sudah terbukti kandungan amilosanya bisa dikurangi jadi hanya dua hingga tiga persen dari yang alaminya 20 persen dengan cara transgenik ini,” katanya.

Sedangkan kadar amilosa tinggi (amilopektin rendah) diperlukan untuk industri pangan, khususnya makanan bagi orang yang memiliki masalah dengan pencernaan dan untuk obat-obatan pada industri farmasi, tambahnya.

Penelitian bioteknologi untuk pasca panen ubi kayu menurut dia juga sudah dilakukan, seperti untuk meningkatkan masa simpannya setelah panen dari lima hari ditingkatkan menjadi 12 hari.

Selain itu biofortifikasi (menambahkan zat gizi pada tanaman) juga sudah dilakukan terhadap singkong ini seperti memasukkan zat besi dan seng, tambah Enny.

Sumber: Antara, LIPI

2 Komentar leave one →
  1. Budi Sarli Sinto permalink
    November 5, 2011 11:35 am

    Assalamualaikum…

    Kami sangat membutuhkan ubi kayu untuk bahan tepung aci, namun sangat sulit didapatkan dalam jumlah sedang 3 SD. 5 Ton/hari, mungkin ada yang dapat membantu. Kami sangat berterima kasih jika ada yang dapat memberikan info.

  2. ahmad permalink
    Mei 2, 2012 11:35 am

    Varitas apa yang mempunyai nilai produktivitasnya tinggi?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 580 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: