Skip to content

Achmad Subagio: Dosen Universitas Jember Pembuat Tepung Ketela Modifikasi (Mocaf) yang Masuk Buku Who’s Who in The World 2010

November 8, 2010

Suatu saat, ketika anda makan roti, bisa jadi roti yang anda nikmati bukan terbuat dari tepung gandum, tetapi dari tepung ketela alias singkong.

Potongan roti tawar  yang dicicipi itu terasa lezat di mulut. Bentuknya menarik perhatian, sama persis dengan roti tawar terigu merek terkenal.

Namun, satu hal yang sulit dipercaya adalah rasanya. Rasa roti tawar ini mirip dengan roti berbahan terigu. Padahal, roti tawar ini terbuat dari tepung ketela hasil modifikasi Achmad Subagio.

Perjalanan roti berbahan tepung ketela ini memang panjang. Bersama dengan sejumlah pemuda terpelajar yang andal dan suka bekerja keras, Subagio akhirnya berhasil mengembangkan industri modifikasi tepung ketela (modified cassava flour/mocaf) di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Ketela, yang selama ini dipandang sebelah mata oleh banyak orang, kini memiliki nilai ekonomi tersendiri. Kehadiran industri ini tidak saja mampu membuka mata masyarakat mengenai potensi sumber pangan selain beras, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang riil bagi pembangunan ekonomi pedesaan. Ekonomi masyarakat di lereng pegunungan yang tandus pun mulai bergerak berkat ketela.

Dengan produksi tepung antara 40 ton-150 ton per bulan, sebanyak 1.332 tenaga kerja terserap dalam kegiatan ini. Hebatnya, pekerjaan itu tidak berpusat di satu tempat—apalagi di wilayah perkotaan, melainkan terdistribusi ke pelosok pedesaan hingga lereng pegunungan. Ketela bisa menghidupi begitu banyak orang.

Alhasil, tidak ada dampak negatif seperti maraknya arus urbanisasi yang membuat pusing pemerintah. Urat nadi perekonomian di desa menjadi terpompa. Uang mengalir ke pelosok-pelosok desa, menghampiri masyarakat.

Harga singkong di tingkat petani, yang sebelumnya hanya Rp 150 per kilogram (kg), saat ini terdongkrak hingga tiga kali lipat, yakni Rp 500 per kg. Kebutuhan singkong pun tidak mampu lagi dipenuhi hanya dari Kabupaten Trenggalek, melainkan harus merambah ke wilayah sekitarnya, seperti Kabupaten Tulungagung, Kediri, Blitar, Ponorogo, bahkan sampai Kabupaten Bojonegoro.

Ini terjadi berkat meningkatnya harga keekonomian singkong ketika sudah diolah menjadi chip (irisan singkong untuk bahan baku mocaf) yang kisaran nilainya mencapai Rp 2.600 per kg. Adapun harga tepung mocaf sangat fluktuatif, tetapi tetap kompetitif jika dibandingkan dengan harga tepung terigu yang berada di kisaran Rp 5.000-Rp 8.000 per kg.

Petani singkong pun bersorak karena hasil panen mereka, yang dahulu tidak ada harganya, kini bisa dijual dengan harga pantas. Industri pendamping tumbuh, sektor transportasi merambah jalan-jalan desa, dan produk-produk perbankan yang dahulu asing mulai akrab dengan masyarakat.

Sejumlah prestasi yang berhasil ditorehkan itu tidak terlepas dari perjuangan panjang nan berliku yang dilalui Subagio. Kisahnya bermula ketika dosen Universitas Jember ini berkunjung ke sebuah pabrik tepung di Belanda pada tahun 2004.

Dalam kunjungan itu, ia terpesona dengan aneka produk makanan dan produk lainnya yang diolah dari bahan baku kentang. ”Dari satu bahan kentang bisa dapat banyak jenis produk, mulai bahan pangan sampai kosmetik. Ini, kan, luar biasa,” ujarnya.

Subagio pun mulai berpikir, di Indonesia pasti ada suatu produk yang mampu menyamai kentang. Sejak itulah dia mulai mencari dan bereksperimen dengan berbagai bahan baku. Fokusnya pada produk lokal khas Indonesia.

Subagio akhirnya menjatuhkan pilihan pada ketela pohon. Ketela merupakan salah satu bahan pangan yang banyak dijumpai di Tanah Air. Namun ironisnya, singkong kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Masyarakat pun menganggap tanaman itu sebagai tanaman yang nilai jualnya rendah. Konsumsi ketela maupun pemanfaatan produknya belum optimal. Apalagi, pemerintah masih mengedepankan beras sebagai bahan makanan pokok dengan berbagai programnya.

Subagio pun menggali ilmu pengetahuan yang dapat mengubah singkong menjadi sebuah produk yang lebih bisa diterima pasar. Ia terinspirasi dari makanan tradisional gatot dan oyen, yang pembuatannya melalui proses fermentasi.

Setelah melakukan sejumlah uji coba, sampailah Subagio pada kesimpulan mengenai modifikasi tepung ketela melalui proses fermentasi. Dalam proses fermentasi ini diperlukan enzim (senyawa) berisi mikroba yang mampu memecah sel dan inti ketela sampai bersih sehingga tidak menyisakan ampas. Ini berbeda dengan produk pati ketela yang sudah dikenal luas oleh masyarakat.

Selain tidak menyisakan ampas, modifikasi tepung ketela juga tidak boleh menghasilkan aroma ketela yang terlalu kuat seperti halnya tepung tapioka. Alasannya, dengan aroma yang tidak menyengat, tepung ketela lebih mudah diterima pasar.

Berkat usaha keras, ayah Ulummullah (13) ini berhasil memunculkan karakter tepung ketela yang baru dengan warna lebih putih serta aroma dan rasa yang sedap, tidak lagi beraroma maupun berasa singkong. Dengan kelebihan ini, mocaf bisa menjadi substitusi tepung terigu, beras, ketan, dan tapioka, di samping menghasilkan produk-produk tertentu.

”Keunggulan lain, mocaf memiliki kandungan mineral kalsium yang lebih tinggi dibandingkan dengan padi dan gandum. Mocaf tidak mengandung glutein sehingga cocok untuk penyandang autis,” katanya.

Walaupun berhasil memproduksi tepung mocaf, ini bukan berarti perjuangan Subagio telah usai. Faktanya, perjuangan sesungguhnya justru baru dimulai. Pertama, ia harus mencari pangsa pasar untuk produknya. Sasarannya harus kalangan industri supaya manfaatnya lebih luas.

Perjuangan selanjutnya adalah mengimplementasikan gagasan menjadi sebuah produk yang riil. Setelah melalui jalan berliku dan diskusi yang panjang, Subagio memantapkan hatinya untuk memproduksi mocaf di Kabupaten Trenggalek.

Selain bahan baku ketela sangat berlimpah, Subagio juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Faktor dukungan inilah yang menjadi kunci sukses produksi mocaf, bukan bahan baku. Hal ini karena bahan baku singkong banyak dijumpai di daerah lain di Tanah Air.

Kendati kini mocaf dikenal luas oleh masyarakat, pemanfaatannya masih perlu digenjot. Khususnya menggali ide-ide kreatif yang bisa menelurkan produk turunan mocaf sehingga menghasilkan bahan pangan yang lebih bervariasi, seperti beras mocaf. Sejauh ini, mi mocaf juga sudah berhasil diproduksi.

Masuk Who’s Who in The World 2010

Buku bersampul hitam polos itu sangat tebal. Jumlah halaman buku berjudul Who’s Who in the World 2010 itu mencapai 3.197 halaman, ditambah belasan halaman pengantar. Di halaman 2625, nama Achmad Subagio tercetak di dekat pojok kiri bawah halaman.

Di belakang nama yang tercetak tebal itu, ditulis beberapa biodata nama dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Jember (Unej) itu. Bagio – demikian Achmad Subagio biasa disapa- masuk dalam buku itu bersama 63 ribu orang lainnya dari berbagai belahan dunia, dengan beragam latar belakang dan profesi.

Buku Who’s Who in the World 2010 diterbitkan Marquis Who’s Who, sebuah lembaga nirlaba di Amerika Serikat yang setiap tahun merilis profil manusia di dunia yang memiliki karakter yang telah memberikan banyak manfaat bagi sesama. Di dalam buku yang terbit setiap tahun itu, juga masuk nama raja-raja di dunia, peraih Nobel, dan sebagainya.

Sekitar Agustus 2009, Bagio mendapat email dari Marquis. Melalui email, Marquis memberitahu alumnus Osaka Perfecture University, Jepang, itu bahwa dirinya dinominasikan masuk buku Who’s Who edisi 2010. Marquis mendapat data tentang Bagio berdasar referensi dan browse di internet. ”Sepertinya ada orang yang mempromosikan saya ke Marquis, tapi saya tidak tahu siapa. Marquis juga tidak memberitahu,” ujar Bagio.

Dalam beberapa korespondensi setelahnya, Bagio juga menyertakan profil diri. Salah satu yang turut disertakan adalah achievement yang sudah dilakukannya. Data achievement yang membuat Marquis tertarik adalah saat Bagio menulis tentang risetnya untuk mengembangkan teknologi mocaf (modified cassava flour) sebagai industri bisnis masyarakat pedesaan untuk ketahanan pangan. Setelah melalui sejumlah korespondensi elektronik, pada Oktober 2009 Marquis memastikan Bagio masuk dalam buku Who’s Who in the World 2010.

Sumber: Kompas, IndonesiaBuku (Radar Jember, 20/06/2010)

9 Komentar leave one →
  1. kristiawan permalink
    November 9, 2010 11:35 am

    Salut atas inovasinya buat produk lokal. Semoga ada jg tepung ubi, tepung rumput laut…shg produk berbahan baku tepung gandum bisa beralih ke bahan baku lokal.
    Utk distribusinya gimana? Apakah di pasar2 tradisional dan supermarket besar sudah tersedia? Utk wilayah jabotabek apakah sudah ada distributornya?
    Semoga temen2 UKM yg memiliki usaha kuliner, khususnya berbahan baku tepung ikut melakukan inovasi atas produk jadinya.

  2. yohan permalink
    November 22, 2010 11:35 am

    Apakah bapak memberikan asistensi atau kerja sama dalam pengembangan
    lahan dan produksi tanaman dan tepung ketela ini? Terima kasih.

    • November 22, 2010 11:35 am

      Coba Yohan kontak dan cari informasi ke:

      Universitas Jember
      Jl. Kalimantan 37, Jember
      Jawa Timur 68121
      Telepon: +62-331-330334, 333147, 334567, 336679, 336580
      Faks: +62-331-339029, 337422

      http://www.unej.ac.id

      atau ke Fak. Teknologi Pertanian Univ. Jember di:
      E-mail: usdi.ftp@unej.ac.id
      Telepon: +62 331 321785
      Faks: +62 331 321784

  3. Satri0 permalink
    November 29, 2010 11:35 am

    UNEJ harus bangga punya alumnus kaliber internasional, seperti pak Achmad Subagio.

    Cukup banyak dosen dan mahasiswa UNEJ berprestasi di tingkat nasional dan internasional. Sayangnya kurang publikasi sehingga kurang dikenal masyarakat.

    Untuk pihak manajemen UNEJ buatkan baliho seperti di UI utk dosen maupun akademisi, mahasiswa yang berprestasi!

    • November 30, 2010 11:35 am

      Yang ikut bangga akan prestasi Pak Achmad Subagio bukan cuma UNEJ, tetapi juga Indonesia.

      Untuk mengapresiasi prestasinya, iProud mempublikasikan & menyebarkan informasinya kpd masyarakat, bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional.

      Perihal baliho, coba langsung disampaikan ke pihak manajemen UNEJ. Mudah-mudahan disetujui. Jika tidak, bgmn kalau dimulai dari Satrio yg buat balihonya. Oke!

  4. aris setiawan permalink
    Desember 5, 2010 11:35 am

    Alhamdulillah….. semoga terus ada lagi subagio-subagio yang baru yang lebih memikirkan nasib rakyat.

    Apakah kami bisa bekerja sama dalam memenuhi chip nya? saya tinggal di Tulungagung dan banyak singkong sbg bahan baku mocaf.

    Terima kasih saya tunggu jawabannya
    bisa hubungi saya di 085645775670 or arfray1586@gmail.com

  5. Desember 7, 2010 11:35 am

    Salut untuk pak Ahmad Subagio, apa mocaf memanfaatkan semua jenis varietas ketela atau cuma varietas tertentu? trims

  6. arifefendi permalink
    Februari 19, 2011 11:35 am

    Salut. Kebetulan saya lagi sangat perlu informasi untuk mengembangkan usaha yang sama. Boleh kenal lebih lanjut???

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.681 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: