Langsung ke isi

Ade Sugema: Manggis Wanayasanya Sampai Ke Manca Negara

Januari 20, 2011

Siapa yang tak kenal manggis? Bisa jadi ia adalah buah favorit atau kesukaan anda. Manggis adalah ratu buah tropis yang digemari bukan hanya di Indonesia, tapi juga manca negara.  Manggis (Garcinia Mangostana L) adalah komoditas utama ekspor buah Indonesia. Pada tahun 2006, Kementerian Pertanian mencatat ekspor manggis mencapai 5.697 ton dengan nilai lebih dari 3,6 juta dollar AS. Negara tujuan antara lain China, Hongkong, Uni Emirat Arab, Belanda, dan Arab Saudi.

Mengelola manggis memang rumit. Namun, berkat ketelatenan Ade Sugema, pria kelahiran Purwakarta pada 5 Februari 1962 ini, petani Purwakarta, Jawa Barat dan sejumlah daerah lain dapat menikmati hasil kerja kerasnya.

Jawa Barat merupakan pemasok utama produksi manggis di Indonesia. Pada tahun 2007, mengacu data Badan Pusat Statistik Jawa Barat, dari 112.722 ton produksi manggis Indonesia, 60.277 ton atau 53,4 persen di antaranya berasal dari sejumlah sentra di daerah itu, seperti Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, Purwakarta, Subang, dan Bogor.

Cita rasa khas dan penampilan menarik membuat manggis digemari konsumen. Namun, pengembangannya relatif sulit. Pohon manggis dikenal memiliki karakteristik pertumbuhan yang lambat, perakaran kurang baik, serta sensitif terhadap suhu dan intensitas sinar matahari.

Penanganan panen dan pascapanen buah yang banyak tumbuh di kebun rakyat itu juga belum maksimal. Tak sedikit kulit dan daging buah terluka dan bergetah karena cara memetik, penggunaan alat petik, dan proses pengangkutan yang kurang tepat.

Ade memulai kampanye melalui kelompok tani Wargi Mukti di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, tahun 1992. Bekal pengetahuan dari Sekolah Pertanian Menengah Atas Bandung dan pekerjaan di Balai Benih Induk Hortikultura Dinas Pertanian Jabar dia tularkan kepada anggota.

Selaku ketua kelompok tani, anggota diingatkan akan pentingnya menangani panen. Sebelumnya manggis dipanen dengan cara dikait dengan tongkat dan dijatuhkan. Cara itu rentan, membuat buah memar, pecah, dan bergetah. ”Buah yang seharusnya masuk kategori super pun bisa rusak dan tak laku karena cara panen seperti itu,” ujarnya.

Ade mengenalkan teknologi sederhana, yakni alat pemetik berupa tongkat dengan pengait dan kantong di bagian ujung, kepada petani lain. Dengan alat itu, buah tak jatuh ke tanah. Tingkat kerusakan dapat ditekan dan kualitas buah terjaga.

Teknik Pembibitan

Ade juga berupaya mengatasi lamanya masa berbuah. Pembibitan tradisional melalui biji, seperti banyak dilakukan petani, dinilai kurang efektif karena pohon baru berbuah setelah usia 11 tahun. Uji coba berkali-kali membawa Ade pada kesimpulan bahwa masa berbuah lebih cepat dengan cara penyambungan.

Dia menyambung bibit yang tumbuh dari biji dengan pucuk tegak yang dipotong dari pohon induk. Cara itu rupanya memperpendek usia berbuah menjadi kurang dari 5 tahun. Hasil uji coba terakhir, bibit sambungan mulai berbuah di usia 3 tahun, bahkan dengan ditanam di pot sekalipun.

Ade  mulai mengenalkan teknik penyambungan kepada anggota kelompok dan petani manggis lain di Wanayasa tahun 1996. Sepanjang tahun itu, Wargi Mukti memproduksi dan menjual hingga 1.000 bibit pohon. Pelan tetapi pasti, petani yang mampu membibit pohon dengan cara itu bertambah jumlahnya.

Suami dari Aas Komariah ini memperhatikan betul teknik, alat, serta sumber bibit dan pucuk sambungan. Usaha pembibitan yang ditekuninya berkembang. Sepanjang tahun 2010, misalnya, kelompok Wargi Mukti menjual hingga 15.000 bibit manggis berlabel yang dikirim ke sejumlah kota/kabupaten di Jabar dan luar Jabar. Sebagian di antaranya pesanan instansi terkait untuk program pengembangan buah tropis.

Ade tak pernah pelit untuk berbagi. Dia juga membagikan pengetahuannya kepada petani lain di Purwakarta dan daerah lain, terutama melalui wadah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ataupun Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA).

Selain teknik pembibitan, ketua HKTI Wanayasa ini juga membantu mengatasi persoalan petani. Saat pohon-pohon manggis rusak dan terancam mati karena jamur, misalnya, dia membagi ”resep” dari kesimpulan pengamatannya selama bertahun-tahun.

Ade mengamati, mengutak-atik, dan berkesimpulan atas uji cobanya. Untuk mengatasi jamur, dia meminta petani menanam pohon hanjuang atau tanaman kepulaga di dekat pohon manggis. Perakaran kedua tanaman itu dinilai efektif mematikan dan mencegah jamur pada pohon manggis.

Dari 25 petani anggota Wargi Mukti, 10 orang di antaranya kini memproduksi bibit manggis berlabel biru dan ungu dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH) Jabar. Empat dari 10 petani pembibit itu juga telah mewarisi keahlian Ade karena mampu memproduksi bibit dengan teknik sambung yang kian diminati konsumen.

Sertifikasi Varietas Unggul

Selain petani dan warga di sekitar tempat tinggalnya di Kampung Gandasoli, Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, Ade dan kebun manggisnya juga merupakan laboratorium lapangan bagi peneliti, dosen, dan mahasiswa pertanian. Beberapa tahun menjelang pengajuan pelepasan varietas unggul Wanayasa tahun 2006, kesibukan Pengurus KTNA Purwakarta ini meningkat karena salah satu pohonnya menjadi objek penelitian.

Proses pengajuan pelepasan varietas unggul itu melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Purwakarta, Pusat Kajian Buah-buahan Tropika Institut Pertanian Bogor, Balai Penelitian Buah Solok, dan BPSBTPH Jabar. Pada 25 September 2006, pemerintah menetapkan manggis wanayasa sebagai varietas unggul.

Manggis wanayasa dinilai unggul dalam ukuran buah yang memenuhi standar nasional untuk ekspor; bentuk buah bulat, warna merah keunguan, daging putih dengan rasa manis segar, daya simpan lama, kelopak kuat, dan beradaptasi dengan baik di dataran tinggi. Kini, sekitar 100 pohon milik anggota Wargi Mukti telah lolos sertifikasi BPSBTPH Jabar sebagai pohon induk. Upaya itu penting untuk menjaga mutu bibit demi menghasilkan buah yang unggul.

Setahun terakhir, Wargi Mukti memfokuskan diri dalam produksi bibit. Upaya itu dinilai penting karena semakin banyak bibit unggul ditanam masyarakat, potensi peningkatan jumlah dan mutu produksi akan meningkat. Melalui kerja sama antaranggota dan bantuan modal pemerintah, kelompok itu menargetkan produksi hingga puluhan ribu bibit per tahun. Harapannya, mutu dan jumlah manggis asal Purwakarta, juga Indonesia, dapat meningkat.

Sumber: Kompas

4 Komentar leave one →
  1. welly permalink
    Januari 20, 2011 11:35 am

    Apakah bisa mendapatkan alamat kontak Ade Sugema ataupun kelompok tani binaannya jikalau kami berminat untuk mendapatkan bibit manggis wanayasa kalau kami berasal dari luar daerah. Terima kasih

    • Juni 15, 2012 11:35 am

      bisa…..Akoe Kenal Dekat Tahu Keberadaanya……….Hubungi saja Akoe klau ngin Alamat Jelasnya.

Lacak Balik

  1. The Queen of Fruits : Manggis « Tantri's Story
  2. Kupasan MH78 – Si Hitam Manis Dari Wanayasa | Serba Serbi Dahlan Iskan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 580 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: