Skip to content

Nanu Munajar Dahlan: Penari & Koreografer Tarian Tradisional yang Karyanya Dinikmati di Mancanegara

Februari 8, 2011

Sementara banyak koreografer di kota besar sibuk menciptakan tari kontemporer dengan menggabungkan berbagai tarian tradisional atau saat pemerintah gencar mempromosikan kesenian daerah, muncul sebuah pertanyaan, “Sejauh mana tarian itu berkembang dan beregenerasi di tengah masyarakat saat lalu lintas zaman semakin semrawut?”

Sebagai penari dan koreografer, Mas Nanu Munajar Dahlan, pria kelahiran Subang, 6 Desember 1960, mengaku gelisah dengan pertanyaan itu. Kegelisahan itu memacunya pergi ke sejumlah daerah guna melihat sekaligus mempelajari tarian khas setempat. Faktanya, mayoritas  ibarat berada di tepi jurang.

Saat pergi ke Indramayu, Jawa Barat, untuk belajar tari Topeng Cikedung dan tari Topeng Losari, misalnya, dia menemukan kedua tari itu nyaris punah karena mulai kehilangan peminat dan penikmatnya. Nanu ingin mengembalikan kejayaan Topeng Cikedung dan Losari yang pernah menjadi tontonan masyarakat tahun 1970-an.

Dia memutar otak mencari cara pendekatan agar masyarakat mau menari lagi. Ide besar ternyata ia temukan di masjid kecil yang dia tumpangi setiap malam. Saat itu, ia mendengar seorang bapak melakukan wirid dengan senandung.

”Saya merasakan ketenangan dan kedamaian luar biasa. Inilah jiwa pengalaman dan kedekatan lokal yang akan saya padukan dengan gerakan tari topeng,” ujarnya.

Faktor nyanyian yang lembut dan merdu itu menjadi pendekatan utama. Ia mengadaptasi gerakan panji dari Topeng Cikedung dan Losari. Hasilnya adalah tari baru yang ia namakan Sadrah atau ikhlas, yang bercerita tentang pasrah dan keikhlasan manusia dalam menghadapi cobaan hidup.

”Hasilnya positif. Saat ini tari Topeng Losari, Topeng Cikedung, ataupun Sadrah mulai banyak ditarikan masyarakat setempat dan dipentaskan seniman tari di berbagai festival tari,” katanya.

Hingga mancanegara

Pengalaman lain ia tularkan saat merekonstruksi tarian masa kecilnya di Subang, yaitu Doger Kontrak. Doger adalah tarian ungkapan rasa syukur masyarakat Sunda tempo dulu. Nama Kontrak diambil dari buruh kontrak di perkebunan teh yang sering menarikan tari ini sekitar tahun 1940-an.

Pengaruh ibing doger (ronggeng) bisa dilihat dari gerakan domba nini, jeblagan dengan lagu kangsreng atau buah kawung, juga gerak goyang pinggul seperti buntut tikukur, gitek, dan geol yang lazim ditemui dalam ronggeng di Jabar.

”Tiga tahun belajar dari Pak Jahim akhirnya usaha berhasil. Bahkan, Doger Kontrak pernah menyabet juara dalam festival tari di Jakarta di tahun 1990,” ujarnya.

Tidak puas dengan itu, ia lantas merevitalisasi tarian Gaplek yang biasa dimainkan pascapanen masyarakat Klari, Karawang. Tak ketinggalan juga tari Cikeruhan, hasil perpaduan ketuk tilu gaya utara dan selatan Jabar yang populer di Sumedang dan Kabupaten Bandung.

Ia membangkitkan kembali Cikeruhan dengan memadukan kekhasan tarian daerah ”pakidulan” atau daerah Jabar selatan dengan gerak yang tajam (seukeut), kalem dan gahar yang dipadukan dengan gerak pakaleran dari Subang dan Karawang lewat kekhasan gerak yang dinamis, lentur atau bergelombang, dan erotis.

”Kini, selain menjadi bahan pengajaran di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, semua tarian itu sudah dinikmati pencinta tari dari berbagai negara lewat festival tari di Amerika Serikat, Jepang, Italia, Malaysia, hingga Perancis,” ujar Nanu bangga.

Latihan mental

Nanu mulai mempelajari tarian secara formal saat menimba ilmu di Konservatori Karawitan Bandung tahun 1977-1982, yang kini dikenal sebagai Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 10 Bandung. Kemampuannya semakin terasah saat dia masuk ke Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) pada tahun 1982, yang kini menjadi STSI Bandung.

”Awalnya belajar tari karena saya tidak bisa menyanyi. Namun, saya dianggap cepat menangkap gerakan tari. Akhirnya saya disarankan masuk ke ASTI,” ujarnya.

Di ASTI, keinginannya ingin menjadi penari profesional semakin tinggi. Berkat latihan keras, kemampuan teknik dan mentalnya pun semakin tajam. Ia kerap diajak oleh seniman besar, salah satunya pencipta tari jaipong Gugum Gumbira, sebagai seorang penata tari.

”Selain mental dan kemampuan teknik terasah, saya juga mendapatkan tambahan penghasilan untuk biaya sekolah. Tahun 1980-an, penghasilan saya bisa Rp 400.000 per bulan,” katanya.

Titel sarjana ASTI yang diraih tahun 1986 tidak membuat dia puas. Meski kemampuan teknik menarinya sudah terbilang kaya, ia menganggap masih miskin pengetahuan tentang seni pertunjukan. Dia sering kali merasa tidak memiliki konsep yang jelas saat mengajak masyarakat di daerah untuk menari atau membuat pertunjukan.

Nanu kemudian meneruskan pendidikan S-2 Ilmu Humaniora di Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1998-2004). ”Mengajak masyarakat untuk melakukan kegiatan seni tidak mudah. Butuh metode dan pendekatan sesuai dengan kesenangan dan minat masyarakat setempat. Bila dipaksakan, bisa dipastikan akan gagal,” ujar Nanu.

Minat masyarakat

Contoh teranyar saat dosen seni tari STSI ini mengajak masyarakat Desa Cihideung, Kecamatan Parangpong, Bandung Barat, menggelar Cihideung Festival yang berlangsung pada 20-21 November 2010. Untuk menarik minat masyarakat, ia tidak hanya menampilkan kesenian dan upacara tradisional yang kerap dibawakan masyarakat. Nanu membalut penampilan beragam kesenian itu menyesuaikan dengan mata pencarian masyarakat sebagai petani bunga potong atau penjual tanaman hias. Dia juga menyelenggarakan lomba desain kios bunga dan tanaman hias.

”Hasilnya luar biasa. Masyarakat antusias ikut dalam Cihideung Festival. Kuncinya adalah melibatkan masyarakat atau bahkan membiarkan masyarakat mengelola sendiri minat dan keinginannya,” kata pria yang memperoleh penghargaan Juara pada Festival Parade Tari Nusantara di Jakarta (1990) dan Penata Tari Terbaik Festival Kesenian Nasional (1995) ini.

Dalam kesehariannya, Nanu berkiprah sebagai Penasihat Komunitas Peduli Jaipongan Jawa Barat, Kurator Balai Pengelola Taman Budaya Jawa Barat, Ketua Asosiasi Tari Bandung, Penasihat Pedepokan Kalang Kamuning Bandung Barat, dan Penasihat Sanggar Fitria Cimahi.

Ke depan, Nanu berharap semakin banyak pihak terlibat langsung menggali potensi masyarakat yang hampir punah atau bahkan sama sekali belum terangkat. Pemerintah diharapkan memberikan dorongan semangat dan dana untuk mendukung beragam kegiatan positif warganya.

Sumber: Kompas.com (4/12)

One Comment leave one →
  1. monica permalink
    April 1, 2014 11:35 am

    boleh minta contact personnya? terimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.681 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: