Lanjut ke konten

Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) Miliki Bank Ikan

April 8, 2011

Komunitas nelayan punya bank? Ya…Komunitas Nelayan Tomia alias Komunto di Wakatobi, Sulawesi Tenggara telah memiliki tiga bank. Mereka mempunyai bank ikan di tengah laut, di dekat Pulau Tomia. Ketiga bank itu masing-masing terdapat di Pasi Keawa, Ujua Tondo, dan Ou La Malaju.

Bank ikan tersebut murni rekayasa nelayan untuk melawan kemiskinan sekaligus melestarikan biodiversitas. Bank ikan mereka bukan kajian para ilmuwan, peneliti, apalagi birokrat.

”Ikan, bagi kami, adalah jaminan masa depan. Tanpa ikan, kami tidak bisa membeli apa-apa,” kata Koordinator Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan Komunitas Nelayan Tomia (Komunto) Saharuddin Usmi, akhir Maret lalu di Jakarta.

Saharuddin menghadiri talk show di Jakarta terkait dengan penerimaan penghargaan Equator Prize 2010. Ia menerima medali penghargaan itu di American Museum of Natural History, New York, Amerika Serikat pada 20 September 2010. Penghargaan disampaikan oleh Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Development Programme/UNDP).

Atas penghargaan tersebut, Saharuddin berhak membawa pulang 5.000 dollar AS untuk komunitasnya. Komunto adalah salah satu di antara 25 penerima penghargaan tersebut dari 300 komunitas yang diseleksi UNDP. Komunitas yang diseleksi itu berasal dari 66 negara di dunia.

Dari Indonesia terdapat dua komunitas peraih Equator Prize 2010, yakni Komunto dan Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) Nusa Tenggara Timur. YMTM mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan.

Komunto didirikan pada September 2006. Kini terdapat 165 nelayan dari Pulau Tomia, Wakatobi, yang menjadi anggota Komunto. Menurut Saharuddin, sekretariatnya masih sering berpindah dari rumah anggota yang satu ke rumah anggota lain.

”Kami tidak pernah mengharap bantuan dari mana-mana. Makanya, kami mengorganisasi diri ke dalam 13 kelompok dan mengerjakan apa saja yang penting serta berguna bagi kami. Salah satunya adalah bank ikan,” kata pria kelahiran Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 25 Mei 1975 ini.

Alasan terpenting mendirikan tiga bank ikan, menurut Saharuddin, adalah memberi manfaat kehidupan bagi ikan-ikan meskipun ujung-ujungnya ikan-ikan itu nantinya memberikan sumber penghidupan bagi para nelayan setempat. ”Sederhana saja,” kata suami dari Nur Aisyah dan ayah dari Muhammad Sulaiman ini.

Burayak ikan

Bank-bank ikan berupa lokasi himpunan terumbu karang. Di sini tersimpan burayak-burayak ikan yang berseliweran lincah, bermain dan bersembunyi di juluran lidah-lidah karang. Kelak, burayak-burayak ikan itu tumbuh dewasa. Mereka akan menjadi ikan tangkapan para nelayan. Ikan dewasa yang datang dan masuk bank mempunyai perilaku memijah. ”Ini sangat dilarang untuk ditangkap,” ujar Saharuddin.

Dia mengatakan, bank ikan tidak begitu luas, hanya sekitar 100 meter kali 100 meter. Para nelayan dilarang memasuki area tersebut supaya tidak mengganggu perkembangan burayak-burayak ikan dan ikan-ikan yang akan bertelur.

”Tidak ada sanksi bagi anggota Komunto yang melanggar aturan itu. Kami hanya menuntut kesadaran nelayan untuk tidak melanggar area bank ikan karena itulah sumber makanan (kami),” katanya.

Menurut Saharuddin, sejauh ini belum pernah ada anggota Komunto yang melanggar area perlindungan di ketiga bank ikan tersebut meski ketiga bank ikan itu letaknya relatif berjauhan. Para nelayan juga disarankan menggunakan teknik menangkap ikan yang aman. ”Anggota Komunto disarankan menangkap ikan dengan kail,” katanya.

Dengan cara memancing, ikan-ikan yang tertangkap bisa terseleksi, yakni yang benar-benar layak konsumsi.

Saharuddin bercerita, ada kegelisahan para nelayan Tomia sebelum Komunto dibentuk. Wilayah perairan mereka dahulu dipenuhi ikan yang mudah sekali ditangkap. Namun, berangsur-angsur jumlahnya merosot.

Kerusakan terumbu karang juga menjadi akar keresahan nelayan. Praktik pengeboman ikan atau metode penangkapan ikan tak ramah lingkungan lainnya banyak menimbulkan kerusakan terumbu karang.

Ikan-ikan yang bernilai tinggi menjadi buruan utama, seperti ikan napoleon (Cheilinus undulatus). Jenis ikan ini menjadi menu konsumsi bergengsi di negara tetangga sampai Hongkong.

Saharuddin mengatakan, sebelum terlibat pembentukan Komunto, sekitar tahun 2006 nelayan sudah sulit menjumpai ikan napoleon. Padahal, ikan napoleon bermanfaat bagi kelangsungan hidup terumbu karang.

Ikan napoleon memangsa telur-telur biota bulu seribu (Acanthaster plancii). Bulu seribu merupakan hewan pemakan karang. Ikan napoleon mampu menjaga keseimbangan biota bulu seribu sehingga ledakan populasinya tak akan memusnahkan terumbu karang.

”Sayang, ikan napoleon sudah susah ditemui. Terakhir kali saya melaut dan mendapatkan hanya beberapa ekor ikan napoleon itu tahun 1998,” kata pria yang pernah mengecap pendidikan di SD Tanjung Pinang, Riau, SMP Negeri 2 Tomia, dan  STM Kendari, Sulawesi Tenggara ini.

Talombo dan Onitula

Saharuddin mengatakan, edukasi bagi komunitasnya merupakan hal terpenting. Komunto merealisasikan edukasi dengan membuat siaran radio komunitas Talombo FM dan Onitula FM. Ini sekaligus menjadi saluran radio hiburan bagi masyarakat Tomia.

Stasiun radio Talombo didirikan tahun 2007, sedangkan Onitula pada 2009. Kedua radio tersebut juga berguna untuk mengurai persoalan komunitas nelayan Tomia dan pembinaan bagi generasi muda. Kedua radio tersebut juga mengomunikasikan berbagai dinamika masyarakat Tomia.

Layaknya sebuah koperasi, Komunto pun menjalankan simpan pinjam uang. Komunto juga menekankan pentingnya melibatkan kaum perempuan dalam mengatur keuangan bagi rumah tangga masing-masing.

Edukasi Komunto relatif berjalan lancar melalui siaran-siaran radionya. Gerakan lokal seperti menanam mangrove juga dijalankan. Tak ada pamrih yang mereka harapkan dari dunia luar.

”Seperti ketika kami mendidik generasi muda untuk selalu memelihara dan menanam mangrove, kami sendiri tidak memahami apakah itu berdampak bagi dunia. Akan tetapi, kami memahami mangrove bermanfaat untuk ikan. Ini juga supaya kami tetap bisa hidup,” tutur Saharuddin menambahkan.

Bersama komunitasnya, Saharuddin adalah corong pembangunan. Mereka menjalani kehidupan sebagai komunitas makhluk paling berakal budi yang mencari penghidupan dengan cara terhormat: tidak merusak lingkungannya!

Sumber: Kompas

lihat juga komunto & yayasan mitra tani mandiri raih equator prize 2010

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.238 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: