Teenage Car: Mobil Mungil Buatan SMK PGRI 6 Surabaya
Siapa bilang Indonesia tidak bisa buat mobil? Bahkan anak sekolah pun bisa membuatnya. Siswa SMK PGRI 6 Surabaya membuat mobil mungil yang disebut Teenage Car. Sesuai namanya Teenage Car atau mobil anak remaja, didesain sejak awal untuk memenuhi kebutuhan remaja, seperti bermain game.
Menurut Wuhisan, Kepsek SMK PGRI 6 Surabaya, konsep awal mobil yang dibuat oleh para siswa jurusan otomotif, mesin dan teknik jaringan komputer dan serta dibantu para guru ini didapatkan dari ide seorang siswanya yang ingin membuat mobil mini, namun sangat memenuhi kebutuhan remaja.
Sekilas, mobil yang lebih layak disebut city car ini, mirip dengan Suzuki Karimun Estillo ataupun Hyundai Atoz, namun bentuknya lebih kecil. Sejumlah keunikan yang dimiliki Teenage Car adalah setir yang biasanya berada di sebelah kanan dipasang tepat di tengah. Selanjutnya, persneling yang biasanya dipasang di sebelah kiri pengemudi, dipasang di sebelah kanan.
Dengan ukurannya yang mini, mobil ini hanya mampu menampung satu orang. Saat menengok ruang interior, tampak seorang anak kecil duduk membelakangi setir. Kebetulan, jok mobil ini bisa diputar sehingga bisa menghadap ke belakang. Anak kecil itu menggenggam stick Play Station (PS). Tanpa berkedip, matanya menatap lurus ke arah layar monitor yang terpasang di bagian belakang mobil.
Rupanya bocah tersebut sedang bermain balap mobil. Di samping monitor, terdapat tiga buah speaker aktif yang mengeluarkan suara musik yang menghentak. Meski begitu, anak tersebut terlihat cukup menikmati game yang tengah dimainkan.
“Di dalamnya dilengkapi dengan fasilitas game yang terpasang di bagian belakang,” ujar Wuhisan. “Tidak hanya itu, kursinya juga mampu berputar 360 derajat. Jadi saat menganggur di dalam mobil, si pengemudi bisa memutar kursinya ke belakang dan bermain game,” imbuh mantan pegawai karoseri mobil ini.
Mobil yang pernah tampil dalam pameran pendidikan di Jatim Expo 6 Juni 2010 lalu ini modelnya sangat menyerupai Suzuki Karimun Estillo karena lampu depan memang menggunakan lampu mobil tersebut. Sedangkan lampu belakang dipasang milik Isuzu Panther.
“Untuk pameran tahun ini, mobil Teenage Car akan kita tampilkan kembali dengan tampilan baru karena bodinya kita airbrush motif naga,” pungkasnya.
Wuhisan mengaku, sengaja membuat mobil dalam ukuran kecil. Arus lalu lintas yang cukup padat di kota besar, termasuk Surabaya, membutuhkan mobil berukuran kecil dan lincah. Belum lagi bagi anak sekolah, tentu butuh tunggangan yang berbeda.
”Biasanya anak remaja kan terlihat beda dengan kendaraan yang dimiliki teman-temannya yang lain. Itu juga menjadi alasan kami merancang mobil ini hanya muat satu orang,” paparnya.
Wuhisan yang terlihat memberi pengarahan pada siswa saat memasang beberapa komponen mobil ini mengungkapkan, mereka membutuhkan waktu sekitar 33 hari untuk membuat mobil tersebut. Ada delapan orang yang membimbing siswa, mulai dari pemasangan mesin hingga pembuatan bodi mobil. ”Sebenarnya saat ini masih baru 98 persen selesai. Lantaran nguber ikut pameran, akhirnya tetap kami ikutkan,” ujarnya.
Hampir semua fasilitas yang dimiliki mobil ini dikhususkan untuk remaja. Mulai dari audio canggih, hingga fasilitas game komputer. Jika ingin memuat dua orang penumpang, monitor dan speaker pada bagian belakang mobil harus dilepas. Konsumsi bahan bakar mobil ini pun cukup irit. Satu liter bensin bisa menempuh jarak sejauh 13 km.
Sejauh ini, mereka belum pernah mencoba melakukan test drive untuk menguji kekuatan mobil bermodal Rp33 juta ini. ”Uji coba, ya, waktu mobil kami bawa dari sekolah ke tempat pameran. Jarak dari sekolah ke pameran sekitar 13 kilometer. Paslah satu liter,” ungkap Wuhisan.
Mobil hasil karya anak siswa SMK 6 PGRI Surabaya ini wajib diperhitungkan. Para siswanya mampu membuat mobil mini yang mampu melaju 60 km/jam. Mesinnya memang bukan merupakan mesin hasil buatan sendiri, tetapi mesin Daihatsu Hijet yang mengalami modifikasi. Untuk dapur pacunya mobil yang mempunyai panjang 2 meter dengan lebar 1,2 meter ini menggunakan mesin Daihatsu Hijet 550 cc.
“Untuk sasis, sengaja kita potong untuk menyesuaikan. Agar mobil ini terlihat mini. Bahkan posisi mesin kita turunkan 20 cm dari posisi semula,” katanya.
Namun bodinya murni hasil kreasi para siswa. Wuhisan mengaku bodi mobil sengaja dibuat secara manual dan dari pelat baru. “Kita (las) kenteng biasa. Karena tidak punya mesin press,” ujarnya.
Pintu mobilnya pun unik seperti punya mobil keluaran Rolls-Royce. Engselnya berada di belakang sehingga pintu terbuka dari arah depan. Hal yang unik lainnya adalah posisi setir yang berada di tengah. Tidak seperti mobil lain yang berada di kanan.
”Dari sekian tahap dan perancangan mobil, yang paling penting adalah mengimbangkan antara mesin dengan bodi mobil. Kalau bodi mobil lebih berat dari kekuatan mesin, maka jalannya bisa lambat,” tutur Ahmad Saputra, instruktur pembuatan Teenage Car yang juga alumnus SMK PGRI 6 tersebut.
Salah satu siswa yang ikut terlibat dalam pembuatan Teenage Car, Ahmad Nur Kholis menuturkan, mobil ini cukup bagus, terutama bagi kalangan remaja. Ukurannya yang kecil dan didukung banyak fasilitas memungkinkan mobil ini bisa dibuat untuk mejeng. ”Tidak hanya ukuran kecil yang bisa melintas di jalan-jalan sempit, mobil ini juga bisa buat gaya,” ujarnya sembari tersenyum.
Sumber: detikOto.com, OkeZone.com



















Tetap semangat berkarya untuk bangsa.
Terus digae cak, ben dalane kebak