Buat Kertas Dari Kotoran Kuda, Siswa SMA Muhammadiyah I Babat, Lamongan Juara ASEANpreneurs Idea Canvas
Kotoran kuda yang bau dan menjijikkan ternyata bisa dijadikan kertas. Hal itu terbukti dari hasil penemuan 3 siswa SMA Muhammadiyah 1 Babat, Lamongan, Jawa Timur yang berhasil mengantarkan mereka menjadi juara di ajang ASEANpreneurs Idea Canvas.
Rencananya, ketiganya akan mempresentasikan karya mereka tersebut di National University of Singapore, Singapura, pada 26 Agustus mendatang. Mereka juga akan presentasi potensi Lamongan di hadapan wirausaha se-ASEAN.
Tim yang terdiri dari Dafina Balqis, Diah Ayu Vivit Nurfaidah, dan Muhammad Teguh Kurniawan sukses mendaur ulang kotoran kuda menjadi kertas tulis. Hebatnya lagi, ketiga siswa kelas Xl jurusan Ilmu Penegetahuan Alam (IPA) ini hanya butuh waktu tak lebih dari 3 bulan untuk melakukan penelitian hingga mempraktekkan cara pembuatan kertas kotoran kuda.
Proses Pembuatan
Ada tiga tahap proses pembuatan kertas dari kotoran kuda tersebut. Pertama, bahan dasar kotoran kuda yang telah kering di oven selama kurang lebih 15 menit lalu dilunakkan dengan bahan kimia. Kedua, setelah dicampur dengan pelunak selanjutnya kotoran tersebut dicuci dan didiamkan selama sehari lalu dicampur bahan pemutih dan perekat untuk dihaluskan dengan blender.
Terakhir, bahan yang telah diblender dicetak sesuai ukuran kertas yang diinginkan, setelah itu, hanya menunggu kurang lebih empat jam kertas berbahan dasar kotoran kuda tersebut siap untuk di manfaatkan.
Meski sukses, ketiga siswa ini mengakui masih banyak kekurangan, hal itu disebabkan keterbatasan peralatan yang mereka pergunakan. “Ya, kami masih perlu banyak belajar dan melakukan penyempurnaan hingga hasilnya bisa lebih maksimal”, ujar Teguh.
Kendati demikian, pihak pembimbing maupun sekolah, berencana mematenkan penemuan tersebut, “Kami sangat bangga dan mengapresisasi kreativitas para siswa dan kami berencana akan mendaftarkan hak paten atas penemuan ini”. ungkap guru pembimbing IPA.
Perlu diketahui, ide pembuatan kertas ketiga siswa tersebut berawal dari banyaknya kotoran kuda yang sering mereka lihat di pangkalan dokar (kereta kuda) pasar Babat. Mereka berharap, penemuan mereka ini nantinya bisa mengurangi banyaknya kotoran kuda di jalan.
Audiensi
Mereka bertiga beserta Mustafit (Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah I Babat), dan M. Najib (alumni yang juga pembina kewirausahaan dari M Brother’s Indonesia) beraudiensi dengan Bupati Lamongan, Fadeli pada 25 Juli 2011.
Najib merupakan satu dari 4 pemuda Lamongan yang terpilih menjadi duta Indonesia di event Pelatihan Pemuda se-ASEAN Desember tahun lalu di Universitas Tenaga Nasional, Kuala Lumpur, Malaysia.
Najib menjelaskan bahwa tim itu akan presentasi potensi Lamongan di hadapan entrepreneur se-ASEAN ditambah dari China dan Taiwan. Kesempatan untuk mengenalkan Lamongan pada investor saat sesi Entrepreneurs Day itu akan kami manfaatkan sepenuhnya.
“Ketiga siswa ini juga akan kami dukung dengan dokumentasi mengenai potensi investasi di Lamongan,” ujarnya.
Menurut Najib, tiga siswa yang didampinginya tersebut siap mempresentasikan karyanya di Singapura dengan pengantar bahasa Inggris. Ide awal karya tersebut menurut Dafina berawal dari keinginan untuk membuat produk daur ulang yang ramah lingkungan.
Dengan bimbingan dari M Najib, mereka kemudian memutuskan membuat kertas daur ulang dari kotoran kuda. Pemilihan kotoran kuda karena menurutnya kotoran hewan tunggangan itu memiliki serat yang lebih panjang dan banyak di banding kotoran hewan lain, seperti sapi dan kambing.
Mereka sendiri cukup terkejut dengan prestasi yang diraih. Karena selain pesertanya dari negara-negara di ASEAN plus China dan Taiwan, hanya tim merekalah yang berasal dari pelajar. Sementara peserta lainnya adalah kalangan mahasiswa.
Bupati Lamongan Fadeli menyebut prestasi tingkat ASEAN itu sebagai sesuatu yang membanggakan untuk Lamongan. Dia juga memerintahkan pada Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan setempat agar membantu mematenkan karya mereka.
Prestasi ini menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Lamongan merata. Terbukti sekolah swasta juga mampu berprestasi. “Kami (Pemkab) tentu akan membantu untuk memajukan prestasi ini dengan segala keterbatasan Pemda,” kata Fadeli.
Dafina yang lahir di Surabaya 8 Februari 1994 silam itu saat ini duduk di Kelas XII IPA 1. Dia ingin menjadi dokter. Diah lahir pada 12 Februari 1995 satu kelas dengan Dafina. M. Teguh lahir 9 November 1994 ingin jadi pengusaha.





















Selamat dan sukses, saya bangga terhadap kreatifitas sekaligus hasil karya yang dahsyat, pertahankan dan majulah terus SMA Muh. 1 Babat.
Selamat dan sukses… Jadikan ini semua adalah sebuah motivasi akan pendidikan
tempat yg jauh dari kota menjadi yang terbaik ayo maju dan semangat.