Yayasan Saiboga: Praktek Dokter Gratis untuk Semua Kalangan
Di zaman sekarang, rasa-rasanya sulit mendapat pengobatan di tempat praktek dokter secara gratis. Namun di Balikpapan, ada sebuah yayasan sosial. Mereka melayani pengobatan secara gratis untuk semua kalangan masyarakat. Nama yayasan tersebut adalah Saiboga.
Di sebuah rumah berukuran 10×15 warna putih sore itu terlihat begitu lengang. Di terasnya hanya ada beberapa pot bunga dan sebuah kursi panjang yang terbuat dari bambu. Pekarangannya cukup luas. Inilah tempat praktek dokter gratis tersebut.
Dari luar rumah, seperti tak ada tanda-tanda bahwa rumah itu adalah tempat praktek berobat. Sebuah stiker bacaan doa masuk rumah terpampang di pintu. Begitu masuk ke ruangan dalam, barulah terlihat kursi kayu warna putih tersusun empat jejer. Di depannya sebuah meja tempat mendaftar dilengkapi komputer dan alat tensi darah.
Sore itu, praktek ini tak ada pasien yang berobat. Sepi sekali. Di teras tampak tiga orang sedang duduk santai sambil mengobrol. “Sehari masih bisa dihitung yang berobat. Padahal gratis tanpa dipungut biaya apa pun,” kata Zarkasi, sang penghuni rumah juga pengelola sekaligus penanggung jawab praktek, tersenyum.
Oleh Zazar, sapaan buat Zarkasi, rumah itu ia sekat menjadi dua. Sebelah untuk ditinggali dan sebelahnya lagi untuk tempat praktek.
Hari itu, Zazar sedang “tugas” bertiga. Dokter yang bersamanya adalah dokter Anton dan perawatnya, Edy Sugiarto. Praktek ini buka setiap hari Senin hingga Jumat dengan jadwal terbagi. Pertama, buka pukul 09.00 sampai 12.00 Wita. Kedua, buka pukul 16.00 hingga pukul 19.00 Wita. “Masih bisa dihitung yang berobat di sini. Sebulan, mungkin sekitar 40-an orang saja,” sebut Zazar.
Praktek Dokter Gratis ini memang masih terlihat tersembunyi. Dari tepi jalan di kawasan DI Panjaitan RT 29 No 11 Kelurahan Sumber Rejo atau Gunung Guntur, pasien harus masuk gang berjarak 10 meter. Lorong itu cukup besar dan bisa dilalui mobil sejenis truk. Di tepi jalan tadi hanya bertandakan spanduk putih berukuran 3x 2,5 meter bertuliskan “Praktek Dokter Gratis”.
Penggagas pengobatan gratis adalah Yayasan Saiboga. Yayasan ini dibentuk oleh lima orang pekerja dari berbagai perusahaan. Mereka berniat ingin berbagi dan bersosial di bidang layanan kesehatan secara gratis. Mereka ada yang bekerja di perusahaan bergerak di bidang servis kontraktor dan retail dengan berbagai jabatan. “Sehari-hari kami sudah bergelut dengan ekonomi di perusahaan. Nah, kini kami ingin sepakat bersosial buat masyarakat,” ujar pria berkacamata ini. “Saiboga” sendiri berasal dari kata India yang berarti “memberi”.
Pria yang menjabat sebagai manajer operasional di tempatnya bekerja ini mengatakan, Yayasan Saiboga murni sosial. Tak ada misi atau tujuan terselubung. “Kami sering dapat anggapan yang tidak-tidak. Disangka dari partai yang punya maksud tertentu. Ada yang nyangka aliran sesat atau ada doktrin. Kami tak terpengaruh hal itu. Niat kami memang murni sosial. Tidak ada tujuan apa-apa,” ujar Zazar, lantas geleng-geleng seraya tertawa.
Berdiri tahun 2009 lalu, para pengurus yayasan tadi mengajak beberapa dokter dan perawat berpengalaman di Balikpapan. Komitmen dan misi mereka paparkan untuk mengajak para ahli medis tersebut. Yakni, tak ada nilai ekonomi apalagi keuntungan yang ingin dicapai. “Beberapa dokter sepaham dan tertarik gabung secara sukarela. Sama-sama bersosial dan melayani masyarakat tanpa pamrih apa pun,” kata Zazar.
Masyarakat yang berobat di sini tak ada pembatasan dari golongan tertentu. Zazar menuturkan, semua boleh datang dan berobat di tempat ini. “Orang yang mampu pun ada yang berobat di sini. Bisa jadi dia cocok dengan berobat di sini. Pasien ada yang datang bermobil. Bahkan mau membayar. Tapi kembali lagi, komitmen kami tidak menerima bayaran apa pun,” kata pria alumnus Fakultas Administrasi Bisnis Untag Surabaya ini.
Dokter yang praktek sekarang ini berjumlah tiga orang. Dulu hampir mencapai sepuluh orang. Para dokter ini pun bukan dokter baru. Mereka dokter yang justru punya pengalaman di rumah sakit. Seperti dokter jaga di UGD Rumah Sakit Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan dan rumah sakit swasta lain. Perawatnya juga perawat senior dari berbagai rumah sakit. Mereka bergabung karena punya visi dan misi yang sama murni untuk sosial.
Salah satu diantaranya adalah dokter Anton. Ia sehari-hari sebagai dokter jaga di UGD Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan. Pria lulusan Fakultas Kedokteran Wijaya Kusuma Surabaya tahun 1994 ini, tertarik gabung karena benar-benar punya misi sosial.
“Tak ada embel-embel apapun. Karena tujuan sosial. Itu saja alasan saya mau gabung. Meski tanpa dibayar sepersen pun. Baik dari yayasan maupun pasien,” ujar dokter Anton. “Sehari-hari saya tetap utamakan dinas di rumah sakit. Kan dokternya ganti-gantian. Setelah selesai dinas barulah mengobati pasien di praktek ini,” sambungnya.
Ada juga Edi Sugiarto, salah satu perawat jaga. Sehari-hari, ia bertugas sebagai perawat senior di UGD Rumah Sakit Kanudjoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan. Jika dinas pagi di RSKD, maka ia berangkat ke tempat praktek sore hari. Begitu juga sebaliknya.
Ketertarikan Edy gabung saat bertemu dokter Anton dan Zazar. Ia juga ingin menolong masyarakat dengan keahlian yang ia miliki. “Nilai sosial. Itu saja. Alhamdulillah saya sudah puas dan tercapai sebagai pegawai negeri. Makanya waktu dan ilmu saya sekarang untuk membantu orang. Membantu, membantu dan membantu,” ujar pria lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Satria Bakti Nganjuk ini.
Dengan tempat praktek yang lain, praktek pengobatan gratis ini juga sama dalam hal pelayanan dan penanganan pasien. Misalnya penanganan perawatan luka robek akibat kecelakaan hingga operasi kecil. Semua sesuai standar pengobatan rumah sakit. “Jangan ragu atau takut,” sebut Zazar, lagi.
Bahkan mereka punya sedikit kelebihan serta kelengkapan dari sisi peralatan medis dibanding praktek lain. Jika pasien harus menerima pertolongan rawat inap, dokter pun memberi surat rujukan dibawa ke rumah sakit.
“Ada juga melayani proses khitan. Gratis. Alatnya sudah modern dan aman yaitu Electric Cautery Set atau lebih familiar dibilang pakai laser. Apa ya, pokoknya daftar, masuk, dan pulang tidak dipungut biaya apa pun,” ujar pria kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini.
Untuk pelayanan khitan, biasanya praktek ini baru kebanjiran pasien. Para dokter bisa melayani pasien khitan lebih dari lima orang dalam sehari. Waktunya, kata Zazar, saat anak-anak sekolah masuk musim liburan.
Penanganan pengobatan lain ada juga. Seperti pasien yang mengalami gejala hipertensi atau darah tinggi. Dokter di sini lebih dulu akan memberi obat yang sesuai untuk menyembuhkan penyakit tersebut. “Pokoknya sama-lah dengan praktek untuk orang sakit. Obatnya juga begitu. Tapi jika melebihi keterbatasan dokter, dokter tetap akan memberi resep obat,” katanya.
Ada juga pengecekan gula atau diabetes, kolesterol, dan asam urat. Alatnya pun lengkap dan modern, yaitu bermerek Easy Tourch. “Nyeri lambung hebat, darah tinggi, dan muntah-muntah. Jika ada pasien gagal jantung, kami juga sediakan penanganan pertama. Tabung oksigen bagi penderita sesak napas juga kami siapkan,” tambah Edi Sugiarto, salah satu perawat di tempat ini.
Yayasan Saiboga, lanjut Zazar, ingin semua pelayanan, pengobatan sampai obat diberikan kepada masyarakat secara gratis. Saat ini baru pelayanan, konsultasi, dan pengobatan yang diberikan secara gratis. Di luar obat yang dokter berikan saat di praktek, pasien sementara harus menebus sendiri di apotek.
“Kami belum memiliki izin untuk pemberian obat secara gratis pada pasien. Sudah dibicarakan dengan Dinas Kesehatan. Tapi, ada satu persyaratan yang belum kami miliki, yaitu asisten apoteker. Karena ini penting sebagai penanggung jawab pemberian obat buat pasien. Mudah-mudahan nanti obatnya juga bisa gratis,” harap Zazar.
Pasien yang berobat di tempat ini, diakui Zazar, memang masih minim. Ia memaklumi. Menurutnya, banyak masyarakat yang belum percaya. Tanda tanya besar sering muncul saat melihat plang praktek dokter gratis.
“Apa betul gratis atau hanya akal-akalan. Ada juga yang mengira kalau dokter yang ngobatin ini masih baru dan tidak berpengalaman. Ada saja yang mengira begitu. Padahal silahkan manfaatkan praktek dokter gratis ini,” katanya.
Semua perlengkapan dan stok obat yang ada di sini disediakan oleh Yayasan Saiboga. Jika habis, para pengurus tadi tak pernah mengeluh mengeluarkan uang pribadi untuk mengurusnya. “Ini sudah tanggung jawab pengurus yayasan. Misi sosial tadi,” tutur Zazar.
Suatu hari, pernah Zazar dan pengurus lain ingin memberi informasi pengobatan gratis ini dengan memasang plang informasi di pinggir jalan. Tetapi, mereka ditegur dan dilarang. Dalam aturan kesehatan, memang tidak boleh berpromosi atau beriklan.
“Padahal kami hanya ingin masyarakat tahu saja ada pengobatan dan konsultasi kesehatan benar-benar gratis tanpa biaya. Tapi itu sudah ada aturan bahwa bidang kesehatan tak boleh berpromosi,” katanya.
“Kami juga senang jika ada pasien yang sekadar datang untuk diskusi atau konsultasi tentang kesehatan. Semua gratis,” tambah dokter Anton, yang mengaku senang bergabung dan menganggap kegiatan ini merupakan bagian dari ibadah.
Sumber: kaltimpost.co.id
Kontributor: Joni Pramita



















Salam .. kami, sekolah, osis, sedang mengadakan pengobatan gratis, sunatan masal dan maulid nabi, bersediakan kiranya Saiboga membantu kami. Acara kami laksanakan tanggal 25 pebruari. Mohon balasan.
Bambang di Jakarta Timur. Telp. (021) 940 745 14