Mahasiswa ITB Bangun Sekolah Dasar Tahan Gempa di Pengalengan
Siapa bilang cuma Jepang yang punya teknologi bangunan tahan gempa? Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) membuktikan, teknologi tahan gempa juga bisa dibangun anak negeri. Melalui program Sipil Bangun Desa (Sibades), Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) ITB membangun sekolah tahan gempa di daerah Pangalengan, Bandung. Sekolah terpilih adalah SDN Puncakraya yang pada 2009 lalu hancur akibat gempa bumi.
Ketika itu, sekolah yang menampung 143 siswa ini mengalami kerusakan hingga 70 persen. Gempa menghancurkan bangunan sekolah dan hanya menyisakan empat ruang kelas. Selain itu, salah satu dari ruang kelas yang tersisa itu terpaksa dialihfungsikan menjadi ruang guru. Akibatnya, para siswa pun harus bergiliran menggunakan ruang kelas untuk belajar.
Ketua Sibades 2011 Fardy Muhammad Ichsan menjelaskan, pembangunan sekolah tahan gempa ini sesuai dengan tema program kerja mereka tahun lalu yakni pendidikan dan mitigasi bencana gempa. SDN Puncakraya dipilih karena ia terletak di daerah terpencil sehingga belum mendapatkan bantuan dari pemerintah.
“Setelah mendapatkan lokasi yang cocok, kami pun berkomunikasi dengan warga mengenai rencana ini. Dengan begitu, hasil yang dicapai dapat memuaskan semua pihak dan mendapat dukungan dari warga,” kata Fardy.
Dengan bimbingan dosen, Fardy dan timnya kemudian membuat desain bangunan sekolah yang tahan gempa. Mereka dibantu empat dosen yang ahli dalam bidang struktur, fondasi, tanah, dan perairan. Peletakan batu pertama pun dilakukan pada 1 Oktober lalu.
Pembangunan sekolah ini melibatkan juga panitia dari warga setempat. Mereka bertugas mengawasi pembangunan setiap harinya. Sementara, perkembangan pembangunan dipantau seminggu sekali oleh tim Simbades.
“Kami memilih tukang dari warga setempat agar ada transfer ilmu pengetahuan. Sehingga ketika nanti mereka mendirikan bangunan baru, bangunan tersebut dibangun dengan prinsip tahan gempa,” Fardy mengimbuhkan.
Biaya pembangunan sekolah tahan gempa ini menghabiskan dana Rp 400 juta. Kepala Bidang Teknis Sibade 2011 Rendy Anditya menjelaskan, biaya pembangunan fisik sebesar Rp300 juta didapatkan dari PT Perkebunan Nasional VIII. Tim ini juga menggunakan uang hadiah Sibades sebelumnya dari pemerintah Jawa Barat sebesar Rp50 juta untuk modal awal.
Dana tersebut digunakan untuk membangun tiga ruang kelas, satu gudang, dan kamar kecil. Mereka juga menggelar seminar mitigasi bencana gempa bumi dengan menggandeng Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB.
Rendy menuturkan, Sibades yang merupakan aplikasi pengetahuan mereka di kampus, memberi pengalaman yang sangat berharga.
“Awalnya sempat khawatir, apalagi memikirkan dana yang dibutuhkan. Tapi akhirnya kami senang karena semua berjalan lancar,” Rendy memaparkan.
Rektor ITB Akhmaloka memberi apresiasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat oleh anak didiknya tersebut.
“Ini adalah inisiatif mahasiswa Teknik Sipil. Hal ini sangat baik. Pimpinan akan selalu mensuport hal seperti ini,” kata rektor.
Sementara, Kepala Sekolah SDN Puncakraya Dudu Ruyadi mengaku sangat berterima kasih atas bantuan tersebut. Menurutnya, ketika belum ada bantuan, pihak sekolah terpaksa membangun kelas dari bambu untuk memenuhi kebutuhan akan ruang kelas.
“Saya sangat senang dan sangat berterima kasih atas bantuan dari mahasiswa Teknik Sipil ITB. Kelas baru tersebut akan dipakai untuk kelas kecil, kelas satu, dua, dan tiga. Mereka (HMS) seperti pahlawan,” kata dia.
Kegiatan Sibades ini bukanlah yang pertama kalinya dilakukan HMS ITB. Tahun lalu mereka sukses merekonstruksi jembatan Cicariu di Desa Ciroyom, Kabupaten Bandung Barat.
Sumber: okezone.com


















Lacak Balik