Skip to content

Effendy: Profesor Kimia yang Menolak Tawaran dari Luar Negeri

Desember 23, 2009

Namanya cukup singkat, Effendy, Ph.D. Pada usia 38 tahun, dia sudah menjadi doktor bidang kimia anorganik fisik, konsentrasi kristalografi dari University of Western Australia. Dia tergolong profesor langka di Indonesia karena menekuni bidang yang langka.

Sejak 1990 hingga saat ini, Effendy tercatat telah melakukan 74 kali penelitian. Semuanya terpublikasi dalam jurnal internasional. Antara lain Australian Journal of Chemistry, Inorganic Chemistry Communication, Inorganica Chimica Acta, The Journal of Chemical Society, dan Dalton Transactions. Termasuk jurnal kimia berbahasa Jerman, Zeitschrift für Anorganische und Allgemeine Chemie.

Peneliti kelahiran Bululawang, Malang, 29 September 1956 itu juga menulis artikel untuk beberapa jurnal nasional bidang kimia. Termasuk puluhan artikel yang dia tulis untuk jurnal MIPA UM (Universitas Negeri Malang, dulu IKIP Malang), forum penelitian di Lemlit UM, dan media Alchemie FMIPA Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS).

Sejak 1985, dosen di Departemen Kimia UM itu juga menulis delapan buku kimia. Baik untuk jenjang SMA maupun jenjang pendidikan S-1. Beberapa buku yang dia tulis dalam bahasa Inggris diperuntukkan bagi siswa SMA berstandar internasional. ­Buku pertamanya berjudul: Teori VSEPR: Teori Kepolaran dan Gaya Antarmolekul. Buku ini diselesaikan dalam waktu 20 tahun, sejak masih kuliah S-1. Sedangkan buku-buku lain dia selesaikan, rata-rata 10-15 tahun.

Penelitian yang dilakukan Effendy konsisten dalam bidang kimia anorganik fisik, konsentrasi kristalografi. Dia melakukan penelitian secara berantai dalam bidang yang masih jarang diterjuni peneliti kimia di Indonesia. Karena ketekunannya dalam bidang itulah, hingga saat ini dia masih aktif sebagai visiting researcher pada departemen kimia di The University of Western Australia. Tenaganya masih dibutuhkan di sana.

Golongan penelitian yang ditekuni bapak tiga putra itu adalah basic science (ilmu pengetahuan dasar) kimia.

“Tanpa penelitian basic science yang kuat, sulit bagi negara ini bisa cepat maju dalam pembangunan bidang kimia. Bidang kimia banyak sekali kaitannya dengan kehidupan,” ungkap dosen teladan UM 1997 itu.

Dia mencontohkan, penelitiannya banyak berhubungan dengan struktur sebuah senyawa. Termasuk mensintesis (menciptakan) sebuah senyawa baru. Dengan mengetahui sebuah struktur suatu senyawa kimia secara jelas, bisa diprediksikan kegunaan sebuah senyawa tersebut. Senyawa baru yang dibuat dan dipetakan struktur atomnya bermanfaat untuk reaksi yang lebih besar. Kegunaannya bisa untuk dunia kedokteran, pertanian, industri, dan obat-obatan.

Di banyak universitas luar negeri, keahlian mengutak-atik struktur sebuah senyawa kimia penting untuk pembuatan obat-obatan kimia. Pengetahuan struktur sebuah senyawa bisa untuk menentukan arah reaksi yang diharapkan. Dengan begitu, banyak problem dalam kehidupan yang bisa diperbaiki dengan pendekatan pengetahuan struktur sebuah senyawa kimia.

“Beberapa penelitian saya digunakan untuk aplikasi pembuatan antikanker, antijamur dan antibakteri oleh ilmuwan di Australia,” ungkap Effendy.

Menjadi peneliti, katanya, adalah tugas dosen. “Tugas dosen utamanya adalah meneliti untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Di luar negeri, semua dosen begitu. Hanya di Indonesia yang tidak begitu,” sesalnya.

Saran dia kepada para dosen, mereka harus mulai konsentrasi melakukan penelitian. Sebaiknya mereka bekerja sama dengan peneliti dari luar negeri untuk bisa mengatasi masalah pendanaan. Sebab, dana penelitian sangat besar. Dia contohkan, untuk membuat sebuah senyawa baru, minimal dibutuhkan dana USD 2.000 (sekitar Rp 19 juta). Itu belum termasuk analisis struktur dan segala aspek lain. Tanpa kerja sama dengan peneliti luar negeri, sulit menghasilkan penelitian yang berkualitas dan dijadikan referensi internasional.

Dengan keilmuan yang dia kuasai, Effendy mendapat banyak penawaran mengabdi secara tetap di institusi pendidikan lain di luar negeri, misalnya The University of Western Australia, maupun sebuah universitas di Kanada. Beberapa perguruan tinggi di dalam negeri, sebut saja ITB, UGM, dan UI, juga pernah menawarinya untuk pindah meneliti. Namun, semua tawaran itu dia tolak. Hingga kini dia masih bertahan sebagai peneliti dan dosen kimia UM. Untuk tawaran luar negeri, dia memilih menjadi visiting researcher (peneliti tamu).

Mengapa semua tawaran itu dia tolak? Bagi Effendy, menjadi manusia bermanfaat jauh lebih penting ketimbang hanya mengejar materi. Untuk menjadi manusia bermanfaat bagi banyak orang, haruslah memilih wilayah yang banyak terdapat masalah. Indonesia, kata Effendy, masih punya segudang masalah yang bisa diselesaikan dengan kemampuan keilmuan yang dia miliki. Berbeda dengan negara maju yang sudah banyak tenaga ahli kimia.

Dia merasa lebih banyak bermanfaat bagi masyarakat apabila berada di Indonesia. Di luar negeri, meski kompensasi materi jauh lebih besar, dia menganggap manfaatnya hanya untuk sekelompok orang. “Saya tetap harus membangun Indonesia ini. Sebab, di sini masih banyak problem yang harus dijawab. Buku pelajaran kimia yang selalu up to date dengan perkembangan ilmu pengetahuan dunia saja, belum banyak yang ngurusi,” kata profesor yang lahir di desa kecil bernama Wandanpuro, Kabupaten Malang itu.

Ke depan, siswa bimbingan dari Prof. Allan H. White, Ph.D (profesor dengan publikasi terbanyak di dunia) itu ingin mendirikan pusat kristalografi di UM. Kristalografi bisa dikatakan sebuah metode cepat dan modern untuk mengetahui sebuah struktur senyawa kimia. Dengan kristalografi, banyak jenis bahan alam yang bisa diidentifikasi struktur kimianya untuk kemudian diarahkan kepada manfaat yang diinginkan.

“Di Indonesia pusat kristalografi belum ada. Bahkan, di LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) sekalipun. Padahal, alat dan metode ini sangat penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan kimia dan kimia aplikasi,” kata peneliti yang mengisi waktu luangnya dengan kegiatan bersih-bersih di rumah itu.

Sumber: Jawa Pos

19 Komentar leave one →
  1. Januari 12, 2010 11:35 am

    Subhanallah pak effendy memang nomor satu.
    he is the one of scienties in indonesia
    im sory i cant be chemistry teacher now because there is no opportunity to be chemistry teacher. i just try explore my english to be english teacher in SIT Hidayatullah. love you…
    your students

    • anis pie gag pake' watie :-) permalink
      Mei 29, 2010 11:35 am

      Saya adalah guru kimia yang juga mahasiswa beliau. Beliau memang dosen terbaik kami. Semoga Allah memberikan anugrah kesehatan kepada beliau sehingga bisa terus berjuang membangun bangsa ini. Pengen banget rasanya maju kaya beliau.

      • Juni 2, 2010 11:35 am

        Jangan cuma pengen banget…Maju terus…Just do it! Sy pengen jg bisa pajang Anis di blog ini spt Pak Effendy, oke!

  2. Winwin _Banda Aceh permalink
    Juni 26, 2010 11:35 pm

    Sepanjang saya bertemu dosen, sampai sekarang pak Effendylah yang terbaik. Semoga Allah jadikan semua ini sebagai salah satu amal jariah nya. Amien

  3. suwito '81 permalink
    Juni 27, 2010 11:35 am

    Assalamu’alaikum wr wb
    Saya alumni ’85 , bagaimana bisa konsultasi tentang Kimia khususnya yang berkaitan dengan proses di industri maupun Lab. Kimia nya. Harapan saya secara teori maupun praktiknya bisa padu. Wassalamu’alaikum wr wb.

  4. sariii permalink
    Oktober 15, 2011 11:35 pm

    Dosen pembimbing yang baik banget… Makasih banyak pak atas bantuannya.

  5. titis eswindro permalink
    November 5, 2011 11:35 pm

    Santun bersahaja dengan kehidupan sarat makna!
    ALLAH BLESS YOU!

  6. Alam Nasrah permalink
    November 26, 2011 11:35 am

    Rendah Hati, Motivator Sejati, mau berbagi ilmu, dan selau mendedikasikan apa yang dia lakukan sebagai ladang amal dan ibadah kepada Allah SWT. Kalau soal ilmu dan kompetensi, tidak perlu dibahas lagi, Dua Kata : Luar Biasa!
    Alam Nasrah – Ditjen Dikti

  7. Hawie permalink
    Januari 9, 2013 11:35 am

    Bukunya sangat memberikan arah dalam perkembangan ilmu kimia terbaru di indonesia… mantap pooll… Semoga semakin banyak terlahir seperti beliau.. aminnn

    • Alfi permalink
      Januari 11, 2017 11:35 pm

      Buku prof effendi yg untuk pembelajaran sma sdh dijual bebas kah? Mohon pencerahan krn sy jg ingin mengajarka k anak2

      • Adel permalink
        Maret 17, 2017 11:35 am

        sudah, Pak. Untuk Kimia X yang bahasa Indonesia sudah ada. Baru terbit 🙂

  8. Luluk Alfadia permalink
    April 29, 2013 11:35 am

    Subhanallah…
    Salam buat Anis Pak..
    Boleh minta no hpnya, Pak?

  9. dyah metty permalink
    Oktober 25, 2013 11:35 am

    hmmm….pilih dimana lebih bermanfaat ya Pak?

  10. nur wahyuni permalink
    April 11, 2015 11:35 am

    Pak effendy mmg the best…beliau dosen pembimbing skripsi sy dulu, ramah, sabar n betul2 total dlm membimbing mahasiswanya…smg senantiasa di beri kesehatan, sukses dunia akhirat untuk bpk effendi..ilmu dan jasa beliau akan selalu melekat sampai akhir hayat sy….

  11. Alkarija permalink
    Desember 25, 2016 11:35 am

    Salam om…
    Maaf om mau tanya kalo cairan yg biasa di pakai untuk membuat keras triplek or kayu yang sdh lapuk itu apa ya?
    Trims…om

  12. orang sukses permalink
    Maret 23, 2017 11:35 am

    Baca ini setelah 2jam bertatap muka dengan beliau.

Trackbacks

  1. Effendy: Ahli Kristalografi Kelas Dunia, Penemu 730 Senyawa Baru « Indonesia Proud
  2. soetta.org | Effendy: Ahli Kristalografi Kelas Dunia, Penemu 730 Senyawa Baru
  3. Effendy Sang Profesor - Stikes Madani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: