Lanjut ke konten

Jane Lawalata: Sutradara yang Menembus Hollywood

Februari 18, 2010

Alur cerita filmnya sederhana saja. Seorang gadis berusia 13 tahun bernama Chelsea ingin sekali ‘melejit’ seperti kedua saudara kandungnya. Abangnya Bryan melejit sebagai seorang pemain bola terpopuler di sekolahnya. Sedangkan kakak-perempuannya, Angel, melejit sebagai siswa teladan yang meraih beasiswa untuk meneruskan pendidikan ke sekolah tinggi. Chelsea melihat ada kesempatan bagi dirinya untuk melejit melalui kompetisi yang dinamakan Chatterbox, yakni lomba kecerdasan, kelugasan dan kepedulian yang terbuka bagi seluruh SMU di Amerika Serikat. Lalu apa hubungannya dengan Indonesia?

Cerita ini mengambil latar SMU Gulf Breeze, sebuah kota kecil di negara bagian Florida dan diangkat ke layarlebar oleh Chomer Family Films, sebuah rumah produksi setempat. Para pemain maupun kru film seluruhnya orang Amerika. Namun, orang yang paling menentukan karya film layarlebar Amerika ini adalah seorang perempuan Indonesia bernama Jane Lawalata. Ia penulis naskah, sutradara sekaligus penyunting.

Film yang diberi judul “Chatterbox” mengambil waktu sekitar setahun untuk proses produksi dan diluncurkan bulan November 2008 di bioskop Cinema 8 kota Gulf Breeze, lokasi syuting. Bukan Hollywood, tetapi acara premiere ini dibuat seru dengan dandanan gaya-Hollywood: karpet merah, mobil panjang limousine 6-pintu dan para pemain remaja yang bergaun panjang, lengkap dengan para ‘paparazzi’. Agar tidak mengganggu jadwal bioskop, acara yang diserbu remaja ini diadakan siang hari.

Media lokal memuji film “Chatterbox” sebagai sebuah cerita yang sekali lagi mengingatkan betapa keluarga dan teman lebih berarti katimbang popularitas apa pun. Kimberly Blair, redaktur Pelican PNJ Weekly dari Pensacola News Journal, menulis, “Di kala banyak film mengajarkan kelakuan buruk, melegakan melihat ada film seperti Chatterbox yang mengajarkan bagaimana membuat keputusan untuk alasan yang benar. Karakter-karakter di film ini mengena hati dengan anak muda.”

Jane Lawalata adalah lulusan jurusan sinema Institut Kesenian Jakarta [IKJ] yang kemudian bekerja di bagian produksi televisi RCTI dan TransTV. Konon dengan berbekal tabungan seadanya, Jane memberanikan diri merantau ke Amerika Serikat untuk memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan sinema. “Chatterbox” adalah film layarlebarnya yang pertama namun bukan satu-satunya produksi yang dibuatnya dengan rekanan sineas Amerika. Pada produksi film layarlebar “Through The Glass” yang luncur Oktober 2008 di Amerika, Jane Lawalata tercantum sebagai co-produser sekaligus penyunting.

Sumber: Langit Perempuan

2 Komentar leave one →
  1. hands roy permalink
    Juli 4, 2011 11:35 pm

    Saya mempunyai karangan film, tapi saya bingung untuk memberikan karangan saya ke seseorang yang dapat membuat karangan film saya, menjadi sebuah film. Tolong bantu saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: