Skip to content

Muhammad Arief Budiman: Eksekutif Perusahaan Genetika Orion Genomic, AS

Maret 4, 2010

Di sebuah ruang kerja di komplek Orion Genomic, salah satu perusahaan riset bioteknologi terkemuka di Saint Louis, Amerika Serikat, seorang lelaki Jawa berwajah “dagadu”—sebab senyum tak pernah lepas dari bibirnya—kerap terlihat sedang shalat.

Dialah Muhammad Arief Budiman, pria kelahiran Yogyakarta, 28 September 1970 yang pada mulanya bercita-cita menjadi pilot, lalu ingin jadi dokter karena harus berkacamata sewaktu SMP, anak pekerja pabrik tekstil GKBI itu sekarang menjadi motor riset utama di Orion. Jabatannya: Kepala Library Technologies Group. Menurut BusinessWeek, ia merupakan satu dari enam eksekutif kunci perusahaan genetika itu.

Genetika adalah cabang ilmu biologi yang mempelajari gen, pembawa sifat pada makhluk hidup. Peran ilmu ini bakal makin sentral di masa depan: dalam peperangan melawan penyakit, rehabilitasi lingkungan, hingga menjawab kebutuhan pangan dunia.

Arief tak hanya terpandang di perusahaannya. Namanya juga moncer di antara sejawatnya di negara yang menjadi pusat pengembangan ilmu tersebut: menjadi anggota American Society for Plant Biologists dan—ini lebih bergengsi baginya karena ia ahli genetika tanaman—American Association for Cancer Research.

Asosiasi peneliti kanker bukan perkumpulan ilmuwan biasa. Dokter bertitel Ph.D pun belum tentu bisa “membeli” kartu anggota asosiasi ini. Agar seseorang bisa menjadi anggota asosiasi ini, ia harus aktif meneliti penyakit kanker pada manusia. Ia juga harus membawa surat rekomendasi dari profesor yang lebih dulu aktif dalam riset itu serta tahu persis riset dan kontribusi orang itu di bidang kanker. Arief mendapatkan kartu itu karena, “Meskipun latar belakang saya adalah peneliti genome tanaman, saya banyak melakukan riset genetika mengenai kanker manusia,” ujarnya.

Sembilan tahun di Orion Genetics, bekas kasir toko kelontong di Islamic Center di Bryan College Station, Texas, itu sudah membuat delapan teknologi untuk menangani sel kanker manusia: satu sudah diganjar paten, tujuh sedang menunggu persetujuan dari kantor paten Amerika. Temuan pertama yang sudah dipatenkan adalah alat untuk menemukan biomarka (penanda molekuler) pada penyakit kanker. Bentuknya serupa cip. Untuk menciptakan cip pengendus kanker itu, “Kami mengembangkan metodenya sejak lima tahun lalu,” ujar bekas guru Al-Huda Islamic School di College Station, Texas, itu.

Tujuh temuan lainnya yang sudah dimasukkan ke kantor paten untuk mendapat pengesahan masih berhubungan dengan teknologi pemindai kanker. Masing-masing pemindai gen untuk kanker payudara, kanker ovarian, kanker hati, kanker kolon, kanker paru-paru, kanker melanoma, kanker kandung kemih, kanker ginjal, dan kanker endometrial. “Kami mem-filling tujuh paten itu dari penelitian selama tiga tahun,” kata Arif.

Daya endus alat-alat itu terhadap sel kanker bisa diandalkan. Sekadar contoh, pengendus kanker payudaranya memiliki sensitivitas di atas 90 persen. Dengan akurasi setajam itu, kalangan kedokteran menilai, temuan-temuan tersebut akan merupakan arsenal penting dalam peperangan melawan kanker–penyakit pembunuh nomor wahid di dunia.

Soalnya, kebanyakan kanker hanya terdeteksi setelah tak bisa lagi diobati. Nah, alat-alat ini mendeteksi adanya sel-sel kanker itu saat masih “kuncup” sehingga peluang dibabat habis lebih besar. Caranya pun mudah dan tidak invasif, cukup mengendus keberadaan gugus metil, sebuah persenyawaan kimia antara karbon dan hidrogen. Ini karena, “Gen-gen pada pasien kanker biasanya memiliki gugus metilasi,” ujarnya.

Sebelumnya, Arief mengembangkan teknologi untuk mengaplikasikan gugus metil pada pembacaan gen tanaman. Namanya penapis metil (methyl filtration). Penyaring metil ini berfungsi menapis DNA sampah di dalam gen sebuah tanaman, yang jumlahnya sekitar 50 persen dari seluruh gen dalam tanaman itu, dengan mendeteksi gugus metilnya. “Jadi kita tidak perlu lagi membaca semua sekuen genome dalam tanaman yang butuh waktu lama dan biaya besar seperti yang dilakukan pada proyek genome padi dengan BAC-nya,” kata anak kedua dari tiga bersaudara ini.

BAC (bacterial artificial chromosome), yang menjadi bahan desertasinya di Texas A&M Technology, adalah tonggak pertama dia dalam bidang genetika di Amerika. Berkat daya gunanya, BAC kemudian menjadi mesin utama dalam proyek megajuta dolar bertajuk “International Rice Genome Sequencing Project”. Proyek yang dipimpin Jepang ini mengerjasamakan laboratorium genome di Amerika, Cina, Prancis, Taiwan, India, Thailand, Korea, Brasil, dan Inggris.

Suami Rita Syamsuddin, sarjana Jurusan Tafsir dan Hadis IAIN Syarif Hidayatullah dan Sastra Arab Universitas Indonesia, itu tak ingin selamanya menaikkan bendera Merah-Putih di negeri orang. Ia mengaku akan pulang pada suatu hari nanti. Saat ini masih ada keinginan yang belum kesampaian: membawa riset tentang marka-marka pembeda sel kanker dan sel sehat ke tahap implementasi. “Setelah itu, saya akan pulang,” ujarnya.

Sumber: Koran Tempo

3 Komentar leave one →
  1. April 26, 2012 11:35 pm

    Wah, sangat membanggakan sekali Indonesia memiliki ilmuwan seperti bapak M. Arief Budiman..
    Bolehkah saya meminta alamat email bapak M. Arief Budiman ??
    Saya ingin sedikit berdiskusi dengan beliau..

  2. henry a cahyono permalink
    Juli 13, 2012 11:35 am

    Salut sekali dengan beliau, saya bangga sekali pernah satu SMA dengan beliau di SMA 1 Jogja, maju teruss brooo…

Trackbacks

  1. Tweets that mention Muhammad Arief Budiman: Eksekutif Perusahaan Genetika Orion Genomic, AS « Indonesia Proud -- Topsy.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: