Lanjut ke konten

Iswandaru Widyatmoko: Ahli Transportasi Jalan Raya di Inggris

April 5, 2010

Perjalanan hidup dan karier Iswandaru Widyatmoko sepertinya banyak dipengaruhi faktor kebetulan. Awalnya, setelah mengantongi titel sarjana teknik sipil dari Institut Teknologi Bandung (1992), dengan spesialisi rekayasa transportasi, Iswandaru langsung melanjutkan studi S-2 di bidang international highway engineering di University of Birmingham, Inggris. Pada 1998, ia menyelesaikan kuliah doktor di Sheffield Hallam University.

“Selama melaksanakan program S-3, selain menjadi dosen tamu, saya juga bekerja sampingan (kerja paruh waktu) mengerjakan proyek untuk industri di Scott Wilson,” kata Iswandaru tentang Scott Wilson yang termasuk dalam 10 besar konsultan transportasi jalan raya di Inggris, baik dari segi jumlah karyawan maupun turn-over.

Kebetulan, perusahaan konsultan transportasi jalan raya yang mempunyai lebih dari 80 cabang di seluruh dunia, dengan total staf sekitar 6.000 orang, itu sedang membutuhkan orang yang ahli di bidang material. Dan kebetulan pula, suami Bety Navitasari ini memiliki kualifikasi tersebut. Jadilah Iswandaru memulai kariernya di sana. Bahkan, tahun 1999 ia sengaja pindah ke Nottingham dan memulai karier di Scott Wilson sebagai Materials Engineer.

Karena prestasi bapak dua anak ini dianggap sangat baik, hanya dalam kurun setahun sudah dipromosikan menjadi Senior Materials Engineer. Setelah itu, kariernya terus menanjak ke Principal Engineer, dan pada 2006 ditunjuk sebagai Associate Director di bidang Material dan Inovasi. “Kantor kami yang di Nottingham berkembang cukup pesat. Ketika saya masuk hanya ada sekitar 25 orang staf. Saat ini stafnya sekitar 200 orang,” ucap Iswandaru.

Dengan posisinya sekarang, kelahiran 8 Desember 1968 ini bertanggung jawab menganalisis bahan konstruksi, memantau agar keselamatan kerja, kualitas dan dampak lingkungan dari kegiatan laboratorium tetap terkendali serta terakreditasi baik secara nasional maupun internasional. Termasuk, mengelola agar target business plan bisa tercapai dan profitabilitasnya terjaga.

“Selama menjabat Associate Director, saya berhasil mencapai, bahkan melampaui, target business plan untuk setiap tahun anggaran. Beberapa kali saya dikirim perusahaan ataupun klien untuk menyampaikan presentasi teknik, seperti ke Kanada, Kopenhagen, Paris dan Amsterdam, tentang keberhasilan penelitian material baru ataupun unggulan, baik di forum profesional teknik sipil maupun di saat rapat proyek dengan stakeholders,” papar Iswandaru.

Proyek yang berhasil diselesaikannya, antara lain, spesifikasi teknik untuk meningkatkan kualitas lapisan aus di landas pacu Hong Kong International Airport (2007), review desain manual dan spesifikasi nasional untuk perkerasan jalan raya di Inggris, dan beberapa spesifikasi lapisan perkerasan untuk proyek jembatan gantung di Ingria dan Cina. Ia juga memberikan jasa konsultasi untuk berbagai proyek perkuatan landas pacu dan sirkuit balapan di Afrika Selatan, Rusia dan Timur Tengah.

Atas beberapa keberhasilan yang dicapainya itu, Iswandaru pun beroleh sejumlah penghargaan, antara lain, Howard Medal dari The Institution of Civil Engineers (2009), institusi insinyur teknik sipil yang bermarkas di London untuk karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian tim peneliti gabungan antara Scott Wilson, Transport Research Laboratory, Shell Bitumen dan Lafarge Aggregate.

Pada 2007, Iswandaru mendapat penghargaan sebagai Fellow dari Institute of Asphalt Technology—institusi profesional di bidang teknologi aspal, yang merupakan pengakuan tertinggi atas kompetensi profesional di bidang teknologi aspal. Dan, tiga tahun terakhir, ia menjadi anggota komisi pengolahan British Standard untuk subject area bituminous materials (aspal), sebagai perwakilan Chartered Institution of Highways and Transportation—institusi profesional di bidang teknik transportasi dan jalan raya.

Boleh dibilang, Iswandaru sukses meniti karier di Inggris. Karena itu, ia menyarankan profesional dari Indonesia yang berminat berkarier di Inggris agar mengenal karakternya. Menurutnya, di Inggris orang dinilai bukan dari penampilan, koneksi maupun gelar akademis. Melainkan dari komitmen, kemampuan dan prestasinya. Juga, menjunjung tinggi profesionalitas dan budaya orang Inggris yang tidak sungkan memberikan apresiasi.

“Mereka menghargai ide-ide baru yang diberikan, memberikan beban pekerjaan yang proporsional, dan memberikan penghargaan yang sesuai,” ujar Iswandaru.

Kendati telah sukses berkarier di negeri orang, tidak berarti Iswandaru lupa kampung halaman. Ia merencanakan dalam waktu 2-3 tahun ke depan akan kembali ke Indonesia. “Saya akan fokus ke sekitar bidang konsultasi, penelitian atau akademis, sesuai dengan pengalaman kerja selama di Inggris,” ujarnya.

“Dream saya cukup sederhana, ingin bisa berkontribusi positif melalui bidang keahlian untuk masyarakat dan lingkungan di mana pun saya berada, sambil menikmati hari tua yang penuh kedamaian,” tambahnya.

Sumber: SWAsembada

3 Komentar leave one →
  1. Arif Widiyanto permalink
    April 13, 2010 11:35 am

    Saatnya pemerintah Indonesia memberdayakan potensi bangsa ini untuk mulai mereform SDM terutama di bidang penelitian dan ke PU an. Hayo kembalikan warga berprestasi di luar negeri ini untuk berkarya memperbaiki system sesuai dengan keahliannya masing2.

  2. Ade Supriadi permalink
    Agustus 23, 2010 11:35 am

    Satu lagi anak bangsa yg berhasil berprestasi di negeri orang, tapi bagaimana kalau di negeri sendiri? Sudah saatnya Pemerintah Indonesia melihat dan memperhatikan potensi dari anak bangsa sendiri yg tidak kalah dengan bangsa lain. Indonesia adalah bangsa yg besar. Indonesia PASTI MAJU. I Love Indonesia.

  3. Agustus 30, 2014 11:35 am

    Saya sangat terinspirasi oleh beliau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: