Lanjut ke konten

Pelajar Indonesia Juara Global Enterprise Challenge (GEC) 2009, Skotlandia

Mei 21, 2010

Siswa-siswi terbaik Indonesia kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional dengan menjuarai Global Enterprise Challenge (GEC) 2009,  mengalahkan juara dunia tahun lalu, Selandia Baru, juara tahun 2007, Amerika Serikat, dan para negara peserta dari lima benua, antara lain Jerman, Australia, Selandia Baru, Skotlandia, Jepang, Afrika Selatan, Korea, dan Singapura.

Dengan menjuarai GEC di tahun 2009 ini, Indonesia menjadi negara Asia pertama yang memenangkan GEC sejak diluncurkan di Skotlandia pada tahun 2002.  Sementara itu, Korea kembali memenangkan penghargaan kreativitas dalam GEC 2009, mengulangi prestasi mereka tahun lalu dalam GEC 2008.

Anggota Tim Indonesia di GEC 2009 datang dari berbagai latar belakang dan sekolah, bekerja sama dalam satu tim untuk memecahkan   masalah atau challenge yang dirancang oleh NASA, yang disiarkan melalui internet secara bersamaan ke semua peserta di berbagai tempat penyelenggaraan lomba di dunia.

Tim yang mewakili Indonesia di GEC 2009 adalah tim pemenang pada ASEAN Science Enterprise Challenge (ASEC) yang diadakan 29-31 Mei 2009 yang lalu di Jakarta, yaitu Kelompok “Spoon Corporated”, terdiri dari Wismaya Adi Purnama (SMA Taruna Nusantara, Magelang), Lita Gunawan (SMAK Yahya, Bandung), Rizki Satrio Nugroho (Madania PIS, Bogor), Evelyn Antoinette (Bina Bangsa School, Kebun Jeruk Jakarta), Asyraf Firas Abdurrasyid (SMAN 1 Bandung),  dan Christa Yona Twedrian (SMA Regina Pacis, Bogor).

GEC adalah lomba inovasi dan entrepreneurial di antara kelompok para remaja usia 16-19 tahun, menggunakan teknologi internet dan menjangkau skala regional dan global.  Tim-tim peserta dari seluruh dunia harus menjawab persoalan atau challenge yang diberikan oleh NASA dan disiarkan melalui internet dari Glasgow, Skotlandia.

“Challenge” yang diberikan menuntut tim peserta merancang suatu prototipe dan rencana bisnis/marketing untuk suatu produk yang bisa dipasarkan secara komersial, demi mencapai suatu tujuan.

Semua konsep, rancangan prototipe, rencana bisnis, serta rekaman presentasi (yang durasinya maksimum hanya 3 menit) harus diselesaikan dalam waktu yang sangat terbatas, yaitu dalam 24 jam sejak “challenge” diterima.  Umumnya, tujuan ini berhubungan dengan suatu obyektif sosial atau yang terkait dengan masalah lingkungan.

GEC dimulai tahun 2002, dan lahir dari satu kolaborasi internasional antara Ken Baker, saat itu adalah Chief Executive dari Enterprise New Zealand Trust, serta Gordon McVie, yang saat itu bersama Scottish Enterprise. Rancangan lomba adalah hasil ciptaan Ken Baker dan Russ Finnerty. Saat ini sekitar 5.000 siswa dari 200 sekolah/perguruan tinggi dari berbagai negara di lima benua berpartisipasi dalam GEC setiap tahunnya.(http://www.globalenterprisechallenge.org.uk/Pages/Home.aspx).

Careers Scotland menjadi tuan rumah GEC selama lima tahun pertama, kemudian Pemerintah Wales di tahun 2007 dan Australian Business Week di tahun 2008.  Tahun ini, Skotlandia menjadi tuan rumah kembali, dengan lokasi pusat penyelenggaraan GEC ditetapkan di Universitas Strathclyde, Glasgow.

GEC didukung oleh NASA dan World Intellectual Property Organisation (WIPO). WIPO yang memberikan medali emas pada tim pemenang serta sertifikat pada masing-masing anggota tim.

Tim Indonesia berkumpul bersama mengikuti GEC pada 22-24 Juni 2009 di Jakarta, dan tim Singapura memilih untuk mengikuti lomba ini di Jakarta bersama tim Indonesia.  Dari peserta ASEC, hanya tim Filipina yang memilih mengikuti GEC dari negaranya sendiri, dan tidak bergabung bersama di Jakarta.

Masing-masing tim diberi pembekalan dan pelatihan oleh pembinanya, antara lain mencakup pendalaman pembuatan rencana bisnis, pengembangan daya pikir kreatif, pengarahan teknik presentasi, serta latihan simulasi menyelesaikan “challenge” jangka pendek.

Seperti halnya ASEC, penyelenggaraan GEC di Indonesia dilakukan oleh Surya Institute (yang didirikan dan diketuai oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D), serta United in Diversity (yang didirikan oleh MIT Sloan School of Management, Universitas Indonesia dan Sinar Harapan; diketuai oleh Rosihan Arsyad).

“Challenge”—tantangan yang harus dijawab dan dipresentasikan oleh masing2 tim—diberikan 22 Juni 2009, pukul 10.00 GMT (17.00 WIB), oleh NASA, dan dibacakan via internet oleh Jim Mather, MSP, Menteri Enterpreneurial, Energi dan Pariwisata dari Pemerintah Skotlandia, yang sekaligus membuka GEC 2009 di Glasgow, Skotlandia.  Tim-tim peserta di seluruh dunia menggarap “challenge” ini selama 24 jam dari berbagai lokasi di dunia.

Tahun ini latar belakang “Challenge” yang diberikan oleh NASA adalah bahwa setiap hari, satu milyar orang di dunia akan kelaparan, sementara rumahtangga di negara-negara G-20 membuang jutaan ton makanan sisa senilai milyaran dolar.

“Challenge” GEC tahun 2009 adalah bagaimana merancang suatu model dari suatu produk atau jasa yang inovatif, yang bisa mengurangi makanan terbuang (reduce food waste) di negara peserta serta sekaligus menolong mengatasi kelaparan di salahsatu negara termiskin di dunia.

Solusi harus dipresentasikan oleh setiap tim dalam bahasa Inggris kepada tim juri dalam bentuk rekaman maksimum 3 menit, disertai business plan, yang dikirim via internet ke para juri di Skotlandia, 24 jam setelah “Challenge” diberikan.

Tim Indonesia diberi “modal” sekedarnya (sekitar Rp.300.000) untuk “belanja” bahan baku bagi pembuatan model/maket/prototype yang akan membantu memvisualisasikan karya mereka di hadapan juri.

Pemenang ditentukan berdasarkan kombinasi pendekatan inovatif dan kreatif, pertimbangan cost-benefit dari produknya, efektivitas strategi pemasarannya terhadap target audience-nya, serta efektivitas penyampaian idenya dalam presentasinya selama maksimum 3 menit.

Tim Juri pada GEC 2009 dipimpin oleh George Abbey (Senior Fellow, Baker Institute for Public Policy, Rice University) dengan para anggotanya terdiri dari Derek Blackwood (President-Americas, the Wood Group), Angela Mathis (CEO, ThinkTank Maths Limited) dan Brian Williamson (Director, the Entrepreneurial Exchange).

Persiapan Tim Indonesia sejak penyelenggaraan ASEC di Indonesia hingga maju ke GEC didukung oleh PT Gajah Tunggal Tbk serta Saratoga Investama.

Sumber: SuryaInstitute

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: