Lanjut ke konten

Nina Milasari dan Christina Kartika Bintang Dewi: Lewat Bata Raih Emas di International Environmental Project Olympiad, Istanbul

Mei 24, 2010

Nina Milasari (kelas 11) dan Christina Kartika Bintang Dewi (kelas 10) dari tim SMAN 5 Madiun meraih medali emas di ajang International Environmental Project Olympiad (Inepo) ke-18 di Istanbul, Turki pada 19-22 Mei 2010 yang diikuti 106 finalis dari 45 negara. Mereka menjadi salah satu dari 3 tim Indonesia yang meraih emas di ajang tersebut.

“Kami meraih emas dari 11 medali emas yang diberikan. Dari 11 emas tersebut, 3 emas di antaranya direbut Indonesia,” kata Imam Zuhri SPd, guru pendamping kedua siswi tersebut.

Selain tim dari SMAN 5 Kota Madiun ini yang meraih emas di bidang fisika, dua peraih emas lain dari Indonesia adalah SMA Santa Lorensia Serpong, Tangerang dan SMA Semesta Bilingual Boarding School (BBS) Semarang (keduanya bidang kimia).

Meski karya siswanya diakui internasional, sekolah sendiri belum punya rencana terhadap produk tersebut, termasuk mematenkan atau memproduksinya dalam skala massal.

“Itu nanti. Kami masih menunggu kedatangan Pak Imam. Mau dipatenkan atau diproduksi massal, itu kan butuh waktu untuk koordinasi antara sekolah, Dinas Pendidikan, Pemkot Madiun, dan pihak lain. Karena untuk memroduksi massal, pasti butuh dana, sarana, prasarana yang tidak sedikit, dan sekolah pasti tak mampu,” kata Wakil Kepala SMAN 5 Kota Madiun bidang Kesiswaan, Drs Priyo Ami Susilo.

Karya ilmiah yang diusung mereka ke Inepo adalah batu bata yang dibuat dari campuran tanah dan abu limbah pabrik gula (PG) yang diklaim tahan getaran atau gempa. Batu bata yang karya mereka diberi nama The Use of Sugar Factory Dust in Making Seismic Resistant Bricks. Batu bata itu sudah diuji di Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Inovasi teknologi mereka itu diciptakan melalui eksperimen berkali-kali yang memakan waktu sekitar satu tahun.

“Kami memanfaatkan abu asap dari proses pembakaran bahan baku gula yang banyak terdapat di pabrik-pabrik gula. Abu asap itu mengandung silikat yang tinggi,” katanya.

Silikat adalah senyawa yang mengandung satu anion dengan satu atau lebih atom silikon pusat yang dikelilingi oleh elektronegatif.

“Silikat atau silikon dioksida (SiO2) itu memiliki daya rekat yang tinggi dan biasa digunakan bahan baku pembuatan semen atau konstruksi lainnya,” katanya.

Awalnya, mereka memanfaatkan abu asap tersebut untuk briket yang biasa dijadikan bahan untuk pembakaran. Setelah tahu mengandung silikat yang tinggi, maka mereka mencoba memanfaatkannya untuk pembuatan batu bata.

“Batu bata yang bahan bakunya dicampur dengan silikat menjadikan batu bata lebih ringan sehingga lebih tahan getaran atau gempa. Konstruksi bahan bangunan ini cocok untuk di daerah yang rawan gempa,” katanya.

“Sebelum dicetak, harus direndam dulu sehari semalam agar kadar air berkurang dan tidak mudah pecah bila dicetak,” kata Nina Milasari saat menunjukkan batu bata tahan gempa itu di laboratorium sekolahnya.

Dengan komposisi perbandingan bahan 15 % Dust atau abu limbah pabrik gula dan 85 % tanah liat, batu bata tersebut mampu menahan beban 91831,56 Pa.

Selain lebih kuat mampu menahan beban 91831,56 Pa, batu bata ini juga lebih ringan 2 ons dibanding batu bata biasa ukuran yang sama. Tak hanya itu, batu bata ini juga lebih murah. Dengan biaya produksi Rp Rp 160 ribu per 1.000 bata, ia lebih murah dibanding bata biasa yang biaya produksinya Rp 178 ribu per 1.000 keping.

Tim sendiri setelah melaporkan kegiatan mereka ke sekolah akan ke Jakarta untuk melapor ke Kementerian Pendidikan Nasional. Seperti diketahui, persiapan keberangkatan tim ini dilakukan dengan susah payah. Pemkot Madiun kurang merespons karena merasa pengajuan permohonan bantuan dana ke ajang ini tidak pernah mereka terima.

Sebaliknya, sekolah merasa sudah 2 kali mengirimkan proposal. Akhirnya, sekolah dan komite sekolah berusaha keras mencari dana berbagai pihak, termasuk melakukan penggalangan dana ke sejumlah kampus dan terakhir dicukupi Departemen Pendidikan Nasional.

Meski demikian, Pemkot Madiun ikut bangga. “Saya ikut bangga sekali atas prestasi tingkat internasional yang diraih oleh siswa SMAN 5,” ujar Kabag Humas Pemkot Madiun, Drs Edi Hermayanto.

Adakah rasa menyesal atas sikap pemkot yang terkesan kurang mendukung keberangkatan tim ini ke Turki?

“Lho siapa yang mempersulit? Tidak ada. Ya, karena waktu itu masalah mekanismenya saja. Tapi akhirnya kan Pak Wali sudah memanggil mereka (tim karya ilmiah), dan Pak Wali sudah memberikan uang saku,” tukasnya.

Priyo menyebutkan tak ada bantuan langsung dari pemkot untuk memberangkatkan tim mereka. Dana yang mereka pakai didapat dari penggalangan dana spontanitas dari sejumlah kampus dan sekolah (Rp 35 juta), komite sekolah (Rp 10 juta), para guru SMAN 5 Kota Madiun (Rp 5 juta), dan uang saku dari Kemendiknas (Rp 6,5 juta/orang).

Kemendiknas juga menanggung tiket pesawat pulang pergi serta akomodasi selama tiga hari pelaksanaan olimpiade. Kelebihan waktu dari 3 hari pelaksanaan olimpiade ditanggung oleh tim dari uang saku hasil penggalangan dana itu.

Sumber: SurabayaPost, VIVAnews, detikSurabaya, Antara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: