Lanjut ke konten

Dhanni Gustiana: Pembuat Bor Gigi Bermusik Pertama di Dunia

Juni 21, 2010

Tak terdengar suara dengung berisik saat bor di tangan Dokter Gigi Dhanni Gustiana mengobok-obok mulut pasiennya. Tiap kali mata bor menyentuh gigi, saat itu pula terdengar lagu Tak Gendong yang dinyanyikan Mbah Surip. Kali lain mengalun lagu-lagu ST12 yang mendayu-dayu bak tembang Melayu.

Lagu-lagu itu mengalun dari speaker MP3 yang menempel di pangkal bor. Pasien boleh memesan lagu kesukaannya sebelum operasi. Dhanni sudah menyimpan sekitar 40 lagu di pemutar MP3 di bor gigi bermusik ciptaannya itu. Di puskemas tempat dia berpraktek, di Desa Seborokrapyak, Purworejo, Jawa Tengah, ada sejumlah lagu yang menjadi klangenan para pasien, antara lain Tak Gendong, Saat Terakhir (ST12), dan Aku Bukan Superman (Lucky Laki).

Inovasi yang dibuat setahun lalu itu sebetulnya sederhana saja. Ia mengganti bear logam yang menjadi sumber berisik dengan keramik. “Suaranya menjadi lebih halus,” kata alumnus Universitas Jember itu. Gir keramik tersambung ke speaker dan pedal di kursi operasi yang berfungsi memompa udara ke selang se bagai energi pemutar laju bor.

Butuh waktu setahun bagi Dhanni memikirkan cara menumpas suara gemuruh bor yang membikin ngilu. Dalam dunia kedokteran gigi umum, suara bor menempati urutan ketiga dari tiga hal yang paling menakutkan pasien. Dua lainnya, bayangan rasa sakit disuntik dan melihat jarum suntik. Tak mengherankan jika kunjung an ke dokter gigi kian menurun.

Memang ada bor gigi laser yang tak berbunyi. Namun, hal itu tak menghilangkan rasa jeri pasien terhadap ngilu. Harganya pun amit-amit. Satu bor laser bisa menembus angka Rp 30 juta. Dhanni bisa menghilangkan gemuruh bor hanya dengan modal Rp 2 juta. Uang itu dipakai untuk membeli mikrofon MP3, kabel, dan sewa tukang bubut. Hasilnya tak kalah fungsional dibanding bor laser.

Berkat inovasinya, puskesmas Dhanni dibanjiri pasien. Anak-anak antusias dan anteng saat gigi mereka dibor. “Kerja saya lebih prosedural dan tuntas karena tak terhalang pasien yang ketakutan,” kata bapak dua anak ini.

Dhanni juga terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Teladan Tingkat Nasional. Menurut catatan Dinas Kesehatan Propinsi Jateng, Dhanni merupakan tenaga kesehatan pertama dari Purworejo yang mendapat penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan nasional.

Karena prestasinya itu, ia berhak bertemu dengan Menteri Kesehatan serta Presiden RI  Terpilih menjadi tenaga kesehatan teladan nomor satu se-Jawa Tengah serta teladan tingkat Nasional, menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dhanni.

Menurut suami dari Drg Alfiyanti Saidah serta ayah dari Keisha Hanifa Alma Mayra dan  Ghifarrel Svensk Al Hanif ini, terpilih sebagai teladan bukan karena dirinya pintar. “Semua itu hanya suatu kebetulan saja, karena ridho dari Allah SWT dan bantuan teman2 terutama di Puskesmas Seborokrapyak serta Dinas Kesehatan,” katanya merendah.

Selain prestasinya, inovasi yang dilakukan juga menjadi sorotan beberapa media nasional. Beberapa karyanya antara lain menemukan metode baru sistem pemeriksaan kesehatan gigi anak sekolah, yaitu metode kipas gigi juga sistem bor gigi dengan musik.

Sedangkan prestasi lainnya antara lain lulusan tercepat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember (2000), Tenaga Medis Teladan Provinsi Jawa Tengah (2009), Penghargaan Dokter Teladan Nasional dari Menteri Kesehatan (2009). Selain itu,  ia menjadi penerima beasiswa prestasi akademis Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; penerima beasiswa WHO Collaborating Center Radboud Universiteit, Nijmegen, Belanda (2008); penerima beasiswa Umea International School of Public Health -Umea University, Swedia, 2009,

Ia juga menjadi Indonesian Representatives on World Congress of Preventive Dentistry di Phuket, Thailand tahun 2009, serta menjadi juri National Competition on Student Clinician Research-DENTSPLY AWARD bersama dengan Prof. Hideo Miyazaki (Niigata Univ. Jepang) dan Dr. Clive Wright (New South Wales, Australia).

Tahun lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberangkatkan dia ke St. Radboud University di Belanda. Di sana Dhanni mempresentasikan hasil temuannya itu: bor gigi bermusik pertama di dunia.

Sumber: TEMPOinteraktif, Purworejokab

4 Komentar leave one →
  1. yudha permalink
    Juni 22, 2010 11:35 am

    Kelihatannya emang sepele, tapi efeknya luar biasa berguna.

  2. livia_dental.unej permalink
    Juni 25, 2010 11:35 pm

    Ini inovasi yg sgt kreatif di bidang kedokteran gigi, baru kali ini ada inovasi dunia kedokteran gigi yg menonjolkan pd sisi entertain agar pasien tdk nervus & ttp enjoy duduk di dental chair.

  3. Juli 1, 2010 11:35 pm

    Cocok banget untuk anak usia di bawah 9 tahun yang kebetulan takut ke dokter gigi! Saya juga sebenarnya takut untuk ketemu sama dokter gigi.

  4. SATRIO permalink
    November 30, 2011 11:35 pm

    Wah…Dokter Unej ini memang kreatif, inovatif, bukti bahwa anak muda Indonesia level dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.224 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: