Skip to content

Titik Winarti: Pelatih Difabel yang Meraih Microcredit Award dan Diundang ke Markas PBB di New York, AS

Juni 23, 2010

Menjadi difabel atau ”different ability” bukan berarti tak berdaya. Masalahnya, banyak orang tidak tahu cara menghadapi difabel sehingga justru membuat mereka tak mandiri atau malah merasa didiskriminasi.

Di samping itu, kesempatan bekerja formal bagi para difabel amat terbatas. Apalagi, tak jarang para difabel pun mengalami diskriminasi ganda. Serba keterbatasan para difabel itu menarik hati Titik Winarti untuk membantu mereka mandiri.

Ia berusaha menyiapkan mental mereka, di samping memberikan pelatihan keterampilan dan kemampuan pemasaran. Sejak tahun 1999, sekitar 470 orang difabel yang menjadi anak didiknya telah mandiri. Mereka mampu membuka usaha kerajinan tangan dan mengembangkannya di kampung asal masing-masing.

Apa yang membuat hatinya tergerak? Anik Puji Lestari (40) yang tunarungu, misalnya, memilih bekerja di rumah Titik setiap hari. Rupanya, perempuan berkacamata yang tinggal di Surabaya itu sering dipukuli oleh suaminya. Dengan bekerja, tak hanya penghasilan yang dia peroleh, tetapi juga menjauhkan dirinya dari kekerasan dalam rumah tangga.

Berbagai masalah para difabel, seperti dialami Anik, itulah yang membuat Titik berusaha membantu mereka. Ia membuka rumahnya untuk difabel. Sebanyak 35-40 orang difabel dari sejumlah daerah di Jatim mengisi rumahnya meskipun rumah itu relatif sempit bagi mereka karena luas tanahnya hanya sekitar 200 meter persegi.

Keterbatasan sarana itu pula yang membuat dia tak bisa menampung semua difabel yang ingin belajar mandiri. Luas rumahnya terbatas sehingga para difabel terpaksa tinggal bersama keluarga Titik di rumah itu.

”Setiap kali ada difabel yang sudah mandiri dan pindah atau kembali ke kampungnya, baru saya bisa menerima difabel baru untuk dilatih,” kata Titik yang pada 1998 membuat usaha kerajinan tangan berbendera Tiara Handicraft.

Usaha kerajinan tangan itu menghasilkan, antara lain, tas perca, berbagai cendera mata dan keperluan rumah tangga berbahan baku kain. Modal awal Rp 500.000 diperoleh Titik dari meminjam pada Koperasi Setia Bhakti Wanita.

Satu–dua tahun setelah usahanya berjalan, beberapa penyandang tunadaksa datang ke rumahnya. Mereka minta diberi pekerjaan karena kesulitan mendapat penghasilan. Ia tak kuasa menolak mereka. Maka, dari dua–tiga orang difabel, lalu puluhan difabel ada di rumahnya.

”Saya tak bisa menampung lebih banyak difabel, padahal keinginan mereka untuk mandiri besar. Rumah sekaligus bengkel kerja kami tak memadai,” kata Titik yang sulit menolak orangtua mengantar anaknya yang difabel ke rumahnya.

Mengajari difabel untuk mandiri bukan pekerjaan mudah. Titik mengakui, dari puluhan difabel yang bekerja untuk Tiara Handicraft, hanya 35–40 persen yang hasilnya bisa memenuhi kualitas produk layak jual.

Ia lalu bercerita tentang tahapan pembelajaran yang diberlakukan untuk difabel. Pada masa awal, bagi mereka yang belum bisa mengurus diri sendiri, akan dilatih kemandiriannya dalam kebersihan diri, seperti mandi dan mencuci pakaian.

Biasanya, dalam dua pekan, para difabel mampu mengurus dirinya sendiri. ”Pada masa awal ini, mereka biasanya dibantu sesama difabel,” katanya.

Ketika Titik melihat difabel itu sudah siap menerima pelatihan, ia akan mengajari mereka keterampilan sesuai minat masing-masing, mulai dari menggambar pola sampai menjahit. Dari pengalamannya, rata-rata setelah sekitar dua tahun para difabel itu siap bekerja secara mandiri.

Titik tak menargetkan waktu bagi difabel untuk berlatih keterampilan di tempatnya. Dia menyerahkan sepenuhnya kesiapan untuk bekerja itu kepada setiap difabel.

”Kadang ada di antara mereka (difabel) yang kembali (bekerja di Tiara Handicraft) setelah keluar. Saya hanya membolehkan mereka untuk dua kali kembali. Saya ingin mereka benar-benar siap, terutama secara mental, sebelum memutuskan keluar,” kata Titik yang menghabiskan tak kurang dari Rp 15 juta per bulan untuk biaya hidup dan menggaji para difabel.

Salah satu hal yang dilakukan Titik untuk menyiapkan mereka adalah mengajak para difabel secara aktif dalam setiap pameran yang diikuti Tiara Handicraft. ”Ini untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka ketika harus membuka usaha sendiri.”

Setelah mereka punya usaha sendiri pun, hubungan di antara Titik dan anak didiknya tak terputus. Bila sedang banyak pesanan, ia meminta mereka membantunya memenuhi pesanan itu.

Seiring berjalannya waktu, Tiara Handicraft makin berkembang. Tahun 2005 Titik mendapat penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu diundang mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.

Jaringan pasar produknya pun semakin luas. Produk dari Tiara Handicraft dijual sampai ke Belanda, Amerika Serikat, Australia, dan Singapura. Kendati jaringannya meluas dan produksi meningkat, usaha kerajinan tangan ini tetap berlingkup mikro. Alasannya, margin keuntungan sekitar 20–30 persen yang diperolehnya relatif habis untuk biaya operasional sehari-hari.

”Ketika ada keuntungan sedikit, uang itu dipakai untuk membiayai kebutuhan sehari-hari difabel yang baru bergabung. Kondisi seperti ini berjalan terus-menerus,” kata Titik.

Ia bercerita, sebuah lembaga manajemen perguruan tinggi di Jakarta pernah berusaha membantunya mengembangkan usaha. Di atas kertas, Tiara Handicraft bisa lepas dari usaha mikro, dengan ”syarat” selama dua tahun Titik tidak menerima difabel baru.

”Ah, mereka bisa bicara begitu karena tak pernah langsung berhadapan dengan orangtua anak-anak itu ataupun para difabel,” kata Titik, yang memilih tak mengikuti saran tersebut.

Untuk menghemat modal dan bertahan di tengah persaingan usaha, Titik juga menjadikan limbah kain sebagai bahan baku produk Tiara Handicraft. Ia mendapatkan limbah itu, antara lain, dari Bali.

Titik mengakui, meski ingin usahanya lebih berkembang, dia tak mau tujuan memandirikan para difabel terpinggirkan. ”Misi utama saya adalah bagaimana menjadikan anak-anak difabel bisa mandiri atau diterima pasar kerja,” ujarnya.

Sumber: Kompas.com

6 Komentar leave one →
  1. Juni 23, 2010 11:35 am

    wuih ibu yang keren….

    makasih infonya…

    salam hangat…

    • titik winarti permalink
      Agustus 10, 2010 11:35 pm

      Salam hangat juga…
      Alhamdulillah saya banyak terkuatkan oleh mereka-mereka yang difabel… mereka ada untuk kita … agar kita tau dan lebih bersyukur…
      Semangat mereka telah menyadarkan kita tentang perjuangan hidup … untuk menjadi lebih baik

  2. puspafadhilah permalink
    Juni 24, 2010 11:35 am

    wah, saran yang sulit buat menolak difabel. Mungkin perlu dibuat pos tersendiri untuk alokasi biaya penambahan difabel baru, seandainya bisa diprediksi kedatangan difabel baru nya.

    Bu titik keren sekali..

    • titik winarti permalink
      Agustus 10, 2010 11:35 pm

      Dan memang selalu sulit untuk menolak difabel, karena saya yakin mereka datang dengan langkah dan petunjuk Allah SWT. Begitu pula Allah SWT akan menggerakkan pihak2 lain yang turut ambil bagian bersama kami di sini. Alhamdulillah Allah tidak pernah membiarkan kami sendiri….. walau kesulitatan selalu ada tapi saya yakin akan lewat… mereka aja yang menanggung cacat seumur hidup berani berjuang kenapa saya nggak…. mohon doa restunya untuk upaya kami dalam berkarya…
      Thanks…

  3. Juli 2, 2010 11:35 am

    Selamat Ibu….sukses membantu orang lain, salam hangat

  4. Maret 21, 2011 11:35 am

    Salam salut buat bu Titik, optimisme tinggi mampu membuat dia bangkit dan membuat para difabel bisa mandiri. inilah Kartini abad ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: