Skip to content

Djahra Laliyo: Perajin, Pengusaha & Pembina Perajin Karawo

Juli 13, 2010

Karawo  dalam bahasa Gorontalo artinya sulaman dengan tangan. Karawo juga berarti kain tradisional khas Gorontalo yang pembuatannya merupakan hasil kerajinan tangan. Tak ada kain karawo yang bukan hasil kerajinan tangan. Inilah yang membedakan karawo dengan batik, misalnya. Proses pembuatan batik menghasilkan adanya batik tulis, batik cap, dan batik cetak.

Sampai sekarang pun karawo tetap merupakan hasil kerajinan tangan. Bahkan, untuk motif penghias sapu tangan sekalipun tetap disulam dengan tangan. Tak ada kain karawo yang dibuat dengan cap, misalnya, agar bisa dijual dengan harga murah.

”Pembuatan karawo memakan waktu paling cepat tiga hari dan yang terlama bisa sampai tujuh bulan. Waktu tujuh bulan dibutuhkan, misalnya, untuk membuat karawo pada satu set seprai, termasuk dua sarung bantal dan dua sarung gulingnya,” kata Djahra Laliyo, perajin, pengusaha, sekaligus pembina ratusan ibu rumah tangga perajin karawo.

Proses pembuatan karawo relatif tidak mudah. Sebelum membuat motif di atas kain, perajin terlebih dulu mendesain motif pada kertas milimeter yang berisi ribuan kotak kecil. Desain dengan ukuran sesuai yang diinginkan itulah yang bakal menjadi pegangan perajin dalam membuat karawo pada sehelai kain.

Pembuatan motif didahului dengan membuka benang-benang kain untuk membuat ruang sulaman. Setelah itu, sulaman dibuat dengan bantuan sejumlah alat, seperti pemedangan, silet, gunting, dan benang beragam warna. Semakin beragam warna pada motif karawo, kian banyak benang yang harus disulam.

Pasar bagi kain karawo tidak hanya terbatas di Gorontalo, tetapi sampai ke Manado, Sulawesi Utara. Djahra bercerita, pada pertengahan tahun 1980-an Manado, bahkan, menjadi pusat penjualan kain karawo.

”Ketika itu Gorontalo belum ramai dikunjungi wisatawan,” kata Djahra, penggiat kerajinan karawo di Kelurahan Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bonebolango, sekitar 10 kilometer arah timur Kota Gorontalo.

Djahra belajar menyulam karawo dari sang bunda, Manice Abdul. Dia mulai mempelajari sulaman karawo sejak masih belajar di bangku SMP. Sebagai anak tertua dari lima bersaudara, Djahra memahami kondisi ekonomi orangtuanya yang sehari-hari bekerja sebagai petani.

”Penghasilan orangtua saya pas-pasan untuk biaya hidup kami sehari-hari. Kecil sekali kemungkinan saya bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Jadi, saya harus bisa membuat sulaman karawo seperti para perempuan pada umumnya di Huntu Selatan,” kata Djahra.

Ketika itu pun dia sudah berpikir menjadikan kepandaiannya menyulam karawo untuk mendapatkan penghasilan. Maka, Djahra rajin belajar menyulam berbagai motif karawo dari sang bunda.

Setelah sekitar enam tahun belajar menyulam, berbagai motif karawo pun dikuasainya. Bahkan, karawo buatan Djahra kemudian banyak dicari orang. Dan, setelah delapan tahun menjadi perajin karawo, hasil kerajinan tangan Djahra mulai dicari para pedagang.

Tahun 1990, salah satu toko cenderamata di Manado sampai khusus memesan karawo buatan Djahra untuk mengisi tokonya. Untuk memenuhi pesanan tersebut, awalnya dia meminta bantuan sekitar 20 perempuan perajin.

”Ketika itu saya mendapat upah Rp 25.000 untuk satu kain karawo,” ceritanya. Djahra menyisihkan Rp 10.000 dari upah tersebut untuk para ibu rumah tangga yang menjadi perajin karawo dan telah membantunya memenuhi pesanan.

Djahra menyadari, jumlah uang itu relatif tidak besar, apalagi bila dibandingkan dengan waktu pembuatannya. Untuk satu kain kebaya bermotif karawo, misalnya, diperlukan waktu menyulam sekitar sebulan.

Agar penghasilan dari menyulam karawo ”terasa” manfaatnya, Djahra lalu menerapkan sistem arisan. Mekanisme ini membuat seorang perajin bisa mendapat penghasilan hingga Rp 200.000.

”Selain itu, mereka jadi merasa berkewajiban untuk secepat mungkin menyelesaikan sulamannya. Ini penting agar dia bisa membayar iuran arisan setiap bulan,” kata Djahra, yang ingin para ibu rumah tangga itu punya aktivitas bermanfaat di saat suami mereka bekerja di sawah.

Seiring berjalannya waktu, pesanan kain karawo pun meningkat. Dari semula hanya membina 20 perempuan perajin, tahun 1993 Djahra sudah melibatkan sampai sekitar 100 perempuan, terutama ibu-ibu rumah tangga di kampungnya.

Pada 1993, Djahra menikah dengan Abdul Wahab Mootalu, seorang pedagang kain karawo. Setahun kemudian, toko di Manado, yang biasa memesan kain karawo kepadanya, gulung tikar. Persediaan kain yang ada lalu dijualnya di toko milik sang suami di Kota Gorontalo. Kini, toko itu menjadi sentra penjualan kain karawo.

Djahra pun makin serius menekuni produk kain karawo dari hulu hingga hilir. Maka, sekitar lima tahun kemudian, toko itu diperluas menjadi sekitar 100 meter persegi. Jumlah perajin binaannya pun bertambah menjadi sekitar 150 orang.

”Saya tetap memilih perempuan perajin dan mengutamakan ibu-ibu rumah tangga. Mereka yang terlibat dalam produksi kain karawo tak hanya yang tinggal di Huntu Selatan, tetapi tersebar di Kota Gorontalo dan sekitarnya,” katanya.

Tahun 2000-2001, usaha kain karawo Djahra sempat melesu. Dia lalu mencoba membuat karawo dengan bahan dasar sutra. Sebelumnya dia menggunakan bahan dasar seperti kain sifon.

”Kain sutra itu lebih halus, pengerjaannya harus lebih hati-hati,” tutur Djahra, yang menjual produknya antara Rp 250.000 sampai Rp 600.000 per helai kain.

Pada beberapa produk kain karawonya, Djahra juga menambahkan hiasan payet-payet. Kain karawo berpayet ini harganya lebih mahal. Kemeja pria, misalnya, berharga sekitar Rp 150.000-Rp 300.000.

Tidak hanya motif, hiasan dan bahan dasar yang lebih variatif. Djahra juga membuat produk karawo lebih beragam, seperti taplak, tas, dasi, juga kopiah dan mukena.

Industri kain karawo kembali berkembang ketika Gorontalo resmi menjadi provinsi sendiri, hasil pemekaran dari Sulawesi Utara. Djahra bercerita, kala itu Hana Hasanah, istri Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, mewajibkan penggunaan pakaian bermotif karawo pada pegawai negeri sipil. Dia juga mengimbau agar jemaah haji asal Gorontalo menggunakan pakaian bermotif karawo.

Sumber: Kompas

One Comment leave one →
  1. KUSLIYATI permalink
    Juni 6, 2017 11:35 am

    boleh minta no HP atau WAnya pak…biar komunikasi untuk pesan enak. kalo FB nya alamatnya apa? tks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: