Skip to content

Zeth Lekatompessy: Dari Bintang Radio & TV, Penyanyi Legendaris, Rekor MURI Hingga Piala Grand Marshall, AS

September 15, 2010

Anda pasti kenal Utha Likumahua, Yopie Latul, Broery Pesolima, dan John Tanamal. Namun, apakah anda kenal Zeth Lekatompessy? Zeth adalah guru mereka.

Itulah Opa Zeth, begitu panggilannya, yang kini ”mengabdikan” vokalnya untuk merekatkan persaudaraan di Maluku. Lebih dari 60 tahun ia merengkuh hidup dengan menyanyi dan menyanyi.

Suatu hari pada pertengahan tahun 2000. Ketika jam menunjukkan pukul 03.00 WIT, Opa Zeth hendak pulang sehabis menyanyi di Tanjung Alang, Ambon, Maluku. Ia bersama sejumlah musisi dalam perjalanan menuju rumahnya di kawasan Amahusu. Saat melintas kawasan Batu Merah, salah satu ban mobil yang dikendarainya gembos.

Kala itu, kerusuhan masih berkecamuk di Ambon dan Batu Merah merupakan salah satu area konflik. Resah dan cemas menghantui Opa Zeth berikut sejumlah musisi di mobil itu. Untunglah, sampai ban mobil diganti, tak ada peristiwa yang membahayakan.

Zeth memang ”hanya” penyanyi, tetapi ancaman bahaya seperti itu bukan pertama kali dia alami. Pasalnya, bukan kali itu saja ia harus menyanyi di daerah konflik.

”Saat ada tawaran menyanyi di daerah yang berbahaya, saya tidak pernah takut. Saya justru senang karena yakin dengan musik, tali persaudaraan bisa semakin erat dan perdamaian pun terwujud,” tuturnya.

Saat konflik berkecamuk di Ambon sekitar 10 tahun silam, dia kerap tampil menyanyi di hadapan ratusan orang di Lapangan Merdeka, tanpa khawatir pertikaian meledak di tengah penampilannya.

Lagu-lagu yang liriknya mengangkat soal persaudaraan masyarakat Maluku dinyanyikannya, seperti ”Gandong” dan ”Maluku Tanah Pusaka”. Melalui lagu-lagu itu, pesan perdamaian disampaikannya kepada masyarakat.

Tak hanya di Ambon, sekitar tahun 1978, Zeth tak menolak ketika diundang menyanyi di Papua Niugini guna mendamaikan masyarakat Irian Jaya (Papua Barat) dan Papua Niugini yang saat itu bertikai. Lewat lagu-lagu, kedua masyarakat yang bertikai larut dalam kegembiraan.

Tahun 1982 dan 1987 dia kembali diminta pemerintah menyanyi di Belanda, di hadapan komunitas asal Maluku yang sudah beranak pinak di negeri itu. Melalui musik, Zeth diharapkan mengajak masyarakat Maluku yang tergabung dalam gerakan Republik Maluku Selatan (RMS) kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.

”Saat itu RMS masih kuat. Dipikir-pikir, menyanyi di Belanda untuk mengajak mereka kembali ke Indonesia sama saja bunuh diri,” katanya tersenyum.

Namun, dengan keyakinan ”ikan tidak akan makan sesama ikan”, Zeth tak melihat ada bahaya di balik itu. Dilantunkannya lagu ”Sio Mama”, yang berkisah kerinduan perantau pada kampung halaman. Lagu itu mampu menggetarkan hati mereka sehingga beberapa di antaranya mau kembali ke Ambon.

Suara Opa Zeth ”empuk” didengar, pembawaannya tenang. Tak banyak gerak tubuh yang diperagakannya saat menyanyi. Suaranya mampu menggerakkan emosi para pendengar. Tak heran jika dia sering diundang ke daerah-daerah konflik.

Kepiawaian menyanyi Zeth tak datang dari langit. Latihan olah vokal telah dimulainya sejak usia lima tahun dengan menyanyi di gereja. Dua kali sepekan, dia menjalani latihan bersama paduan suara gereja. Latihan fisik pun digenjot dengan berjalan naik-turun bukit di belakang rumahnya. Stamina tubuh dan kekuatan vokal dibutuhkan saat menyanyi.

”Sejak kecil saya ingin menjadi penyanyi. Jadi, saya terus berlatih. Rasanya ada yang hilang kalau sehari tidak menyanyi,” katanya.

Tak heran, saat duduk di kelas II SMP ia menjadi juara pertama menyanyi se-SMP di Kota Ambon. Prestasi ini membuatnya makin giat berlatih. Menyanyi pada acara ulang tahun atau pernikahan sering dilakoninya sebagai bagian latihan. Selulus SMP, ia sempat bekerja sebagai kuli angkut batu dan pasir. Siang kerja kuli, sore dan malam hari ia tetap menyanyi di berbagai acara.

Tahun 1964 Zeth menjadi juara pertama kategori hiburan atau pop pada ajang Bintang Radio dan TV se-Ambon. Dia mampu menjuarai ajang itu hingga 1976. Pada 1976 pula ia menjadi juara kedua Bintang Radio dan TV tingkat nasional.

Setelah tahun 1976, Zeth beralih ke kategori seriosa. Meski berganti aliran, dia mampu meraih juara nasional pada 1980. Rasa cintanya pada menyanyi membuat Zeth memilih berhenti sebagai pegawai negeri sipil.

Setelah tahun 1980 kariernya sebagai penyanyi melejit. Dia sering mendapat tawaran menyanyi di sejumlah tempat. Zeth antara lain menyanyi di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dua kali di antaranya di Istana Negara.

Zeth juga pernah ditunjuk menjadi satu dari lima penyanyi asal Maluku yang mewakili Indonesia dalam ajang Tournament of Roses di Pasadena, Amerika Serikat, 1992. Mereka membawa Indonesia untuk pertama kalinya memperoleh Piala Grand Marshall.

Semua prestasi yang diraihnya itu tak membuat dia tinggi hati. Keahlian menyanyi justru ditularkannya kepada sejumlah penyanyi asal Ambon, seperti Utha Likumahua, Yopie Latul, Broery Pesolima, dan John Tanamal.

Di samping itu, Zeth pun tidak berhenti berlatih. Semua aliran musik dia pelajari dengan sungguh-sungguh, mulai pop, seriosa, keroncong, hingga dangdut.

Semua latihan yang dilakukannya selama ini kemudian membuat Zeth mampu mengukir rekor pada Museum Rekor Indonesia (MURI) tahun 2007. Ketika itu dia menyanyikan 50 lagu nonstop tanpa teks selama dua jam dengan lagu-lagu beraneka aliran musik berbahasa daerah Ambon, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

”Setiap hari selama dua minggu, saya juga berlatih fisik. Saya berenang di pantai, naik-turun bukit,” kata Zeth tentang persiapannya sebelum mengukir rekor MURI.

Totalitas menyanyi Opa Zeth sejak kecil hingga kini pun mengantarkan dia meraih penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2008 sebagai penyanyi legendaris Maluku.

Bagi Opa Zeth, menyanyi adalah bagian hidupnya. Dengan menyanyi, ia tak hanya menghibur orang lain, tetapi juga ikut berperan dalam mengatasi berbagai konflik.

”Ada atau tak ada penghargaan, ada atau tak ada imbalan, saya akan tetap menyanyi,” tegasnya.

Sumber: Kompas

One Comment leave one →
  1. ahmadsubagyo permalink
    April 23, 2011 11:35 pm

    Memang benar. Opa Zeth orang yang hebat. Tahun 1975, waktu masih SMA Kelas 2, aku wakil bintang radio TV DIY di tingkat nasional. Aku kenal Om Zeth di acara itu. Salam dari Jogja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: