Lanjut ke konten

Wahyu Aditya, Peraih Penghargaan IYCE, Tularkan Kreativitas di Simposium Internasional Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia di London

Oktober 25, 2010

“Saya berharap para pelajar Indonesia di luar negeri juga bisa menghasilkan ide-ide yang brilian,” ujar Wahyu Aditya, peraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur of The Year (IYCEY), kepada para pelajar Indonesia di luar negeri yang tergabung dalam Persatuan Persatuan Pelajar (PPI) di simposium internasional PPI Dunia 2010 yang digelar di KBRI London pada 23-24 Oktober 2010.

Ketua panitia simposium PPI Dunia Andrew Sutedja mengatakan bahwa simposium bertema “Pendidikan Kewirausahaan sebagai Upaya Peningkatan SDM Pelajar Indonesia yang Mandiri dan Inovatif” diikuti sekitar 100 peserta yang datang dari berbagai negara termasuk Indonesia dibuka Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia Yuri Thamrin dengan pembicara utama Dubes RI di Amerika Serikat Dr. Dino Pati Djalal.

Wahyu Aditya yang menekuni bisnis kreatif, meraih penghargaan dari British Council yang diberikan kepada pengusaha muda di bidang film itu mengakui bahwa pertemuan para pelajar sedunia ini sangat bermanfaat bagi para pelajar yang tengah menuntut ilmu di luar negeri. Menurutnya, PPI Dunia merupakan modal bagi para pelajar untuk berorganisasi sejak muda.

Pria kelahiran Malang, 4 Maret 1980 ini berharap para pelajar yang datang dari berbagai negara tersebut dapat membuat jejaringan yang lebih luas.

Sementara itu, pembicara lainnya, Direktur Eksekutif Institute Paramadina, Bima Arya Sugiarto, Ph.D yang mengatakan organisasi PPI di berbagai negara dapat memainkan fungsi pengawasan (watchdog) bagi berjalannya pemerintahan, seperti pengawasan atas efektivitas studi banding yang dilakukan pejabat ke luar negeri.

Bima yang juga Ketua DPP Partai Amanat Nasional, berharap PPI Dunia juga dapat bekerja sama dengan lembaga parlemen atau partai politik untuk memberikan data yang dibutuhkan oleh para anggota DPR yang juga sering melakukan studi banding dalam berbagai negara.

“Untuk mengurangi biaya tinggi dari studi banding, PPI memiiliki potensi kepakaran di berbagai bidang yang dapat dimanfaatkan oleh parlemen,” ujarnya dan partai politik harus siap dan terbuka untuk bekerja sama dengan PPI di berbagai negara.

Dalam kesempatan itu, Bima mengingatkan bahwa Indonesia akan terancam kehilangan kemampuan untuk dapat berkompetisi secara global jika gagal untuk menata sektor edukasi, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang cukup untuk mendorong bangkitnya sektor  industri strategis, seperti pertambangan, maritim dan industri kreatif.

Menurutnya, saat ini jumlah pakar di bidang tersebut masih jauh dari memadai untuk membawa Indonesia pada kancah persaingan global. “Saya menangkap semangat yang luar biasa untuk memperbaiki bangsa dari teman-teman PPI sedunia,” ujarnya.

Bima melihat tantangan utamanya adalah bagaimana para alumni luar negeri dapat memelihara “fighting spirit” dan merawat jaringan ketika berkiprah di Indonesia.  Selain itu, alumni secara individu harus mampu membangun kompetensi personal dan tidak hanya mengandalkan jargon-jargon perubahan dan anak muda saja.

Simposium internasional PPI Dunia yang juga membahas pembentukan organisasi PPI Dunia menyepakati pembentukan forum komunikasi serta mengelar teleconference bersama Menteri Perdagangan RI Mari Elka Pangestu.

Selain itu juga tampil juga pembicara lainnya, yaitu President Commissioner PT Panasonic Gobel Indonesia, Rachmat Gobel, Michael CNCG Putra dari CO2, Policy and Positions Analyst, Shell serta Atase Perdagangan KBRI London Merry Maryati.

Ketua panitia simposium PPI Dunia Andrew Sutedja mengatakan bahwa simposium bertujuan memberikan pelatihan pendidikan kewirausahaan bagi pelajar Indonesia untuk berpikir secara kritis, cerdas dan inovatif, sebagai bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) dari institusi Pemerintah dan swasta agar mutu dan kualitas SDM Indonesia dapat berkompetisi dan tidak kalah dengan SDM negara lain.

Selain itu simposium juga bertujuan untuk menjalin kerja sama PPI Dunia dengan institusi-institusi dalam bidang wirausaha dan pendidikan serta melakukan pembahasan landasan organisasi dan pembentukan kepengurusan PPI Dunia atau “Overseas Indonesian Student Association Alliance” (OISAA).

Saat ini Persatuan Pelajar Indonesia yang telah tergabung dalam OISAA tercatat sejumlah 45 PPI, yaitu PPI di Australia, Austria, Arab Saudi, Amerika, Afrika Selatan, Belanda, Belgia, China, Ceko, Denmark, Finlandia, Hongaria, India dan Inggris.

Selain itu para pelajar Indonesia yang tengah belajar di Iran, Italia, Jepang, Jerman, Korea Selatan, Libanon, Libya, Malaysia, Maroko, Mesir, Kanada, New Zealand, Norwegia, Pakistan, Prancis, Filipina, Polandia, Portugal, Rusia, Singapura, Spanyol, Swedia, Swiss, Sudan, Suriah, Taiwan, Thailand, Turki, Tunisia dan Yaman juga masuk dalam OISAA.

Menurut Andrew, simposium Internasional PPI Dunia ini merupakan sebuah rangkaian penting dari kelanjutan Simposium Internasional 2009 PPI Dunia yang telah diselenggarakan di Den Haag pada 3 – 5 Juli 2009.

Simposium ini mendapat dukungan dari Kemendiknas, Kemenpora, Kemenlu, Kemendag, KBRI London, Britcham, British Council, Radio PPI Dunia, Universitas Ciputra, PT Gobel Indonesia, Modernisator Organisation, Kadin Indonesia, Ikatan Ilmuwan Internasional Indonesia (I-4), Lippo Group, The British International School Jakarta, PPIUK dan PPI Dunia sendiri.

Sumber: Antara

 

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: