Lanjut ke konten

Mahasiswa UGM Manfaatkan Limbah Cangkang Telur Menjadi Pakan Unggas

November 19, 2010

Selama ini, setelah isi telur ayam diambil dan digunakan untuk keperluan konsumsi harian, misalnya dengan memasaknya, kita seringkali membuang cangkangnya begitu saja. Padahal potensi limbah cangkang atau kerabang telur di Indonesia cukup besar.

Namun sayang, potensi tersebut hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya sebagai pakan unggas, dan hanya dimanfaatkan untuk hiasan atau pernak-pernik kerajinan.

Hal itu disebabkan sejauh ini limbah kerabang telur mudah terkontaminasi mikrobia dan kecernaan mineral kalsiumnya masih rendah. Di samping itu, keberadaannya juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan karena sulit didegradasi oleh mikrobia tanah.

Terkait dengan limbah kerabang telur ini, Prof. Dr. Ir. Tri Yuwanta, S.U., D.E.A. (Dekan Fakultas Peternakan UGM) telah berhasil mengembangkan metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur.

Metode yang digunakan dalam prosesing limbah kerabang telur diawali dengan perendaman kerabang telur dengan air panas 80ºC selama 15-30 menit kemudian dibersihkan dan dikeringkan. Selanjutnya, limbah direndam lagi menggunakan asam fosfat dengan beberapa konsentrasi dan setelahnya dibuat tepung. Setelah menjadi tepung kemudian dicampur dengan bahan baku pakan lain, seperti jagung giling, bekatul, dan bungkil kedelai.

“Metode prosesing limbah kerabang telur menjadi pakan sumber mineral ayam petelur ini sudah mulai dikembangkan,” kata Ahmad Rois Mansur, mahasiswa Fakultas Peternakan, Program Studi Ilmu dan Industri Peternakan angkatan 2007 yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.

Pemanfaatan limbah kerabang telur ini merupakan salah satu upaya untuk memperkaya nutrien mineral pakan untuk ayam petelur. Kerabang telur menyusun sekitar 10% dari total berat telur. Kerabang telur sebagian besar (98,4%) terdiri atas bahan kering dan hanya 1,6% air. Ia juga mengandung 95,1% mineral dan 3,3% protein.

“Di antara mineral tersebut, yang paling banyak adalah kalsium karbonat (98,43%), magnesium karbonat (0,84%), dan kalsium fosfat sebanyak 0,75%,” rincinya.

Sementara itu, sebagai gambaran, produksi telur ayam ras nasional pada tahun 2009 sebesar 1.071.398 ton. Jika rata-rata berat telurnya 60 g, kerabang telur yang dihasilkan dalam setahun adalah 178.566,33 ton. Berat itu setara dengan 175.762,84 ton kalsium karbonat, 1.499,96 ton magnesium karbonat, dan 1.339,25 ton kalsium fosfat.

Mansur mengatakan biaya produksi tepung kerabang telur (untuk 100 kg) diperkirakan sebesar Rp 89.000. Jadi, harga pembuatan tepung kerabang telur per kilogramnya adalah Rp 890, sedangkan harga sumber mineral yang juga sering digunakan, yakni tepung kerang berharga Rp 2.500/kg (selisih Rp 1.610).

“Rata-rata konsumsi pakan ayam petelur per hari adalah 100g/ekor/hari dengan penggunaan tepung kerabang telur per harinya 3 gram (3% dari total pakan), maka biaya produksi per hari yang dapat dihemat adalah sebesar Rp 48.300/hari pada populasi ayam 10.000 ekor atau Rp 1.449.000/bulan,” kata Mansur yang bersama timnya menjadi juara II dalam 2nd SATU Student Business Plan Competition di National Cheng Kung University Taiwan belum lama ini.

Lebih jauh Mansur menguraikan bahwa ayam yang diberi kerabang telur sebagai sumber mineral mampu mencapai produksi 76,2%, sedangkan dengan suplemen mineral lain sebesar 71,1% (selisih 5,1%). Dengan demikian, pada peternakan ayam petelur yang memiliki populasi sebesar 10.000 ekor, akan dihasilkan telur 510 butir lebih banyak (=30,6 kg).

Jika harga 1 kg telur Rp 12.000, keuntungan yang dapat diperoleh adalah Rp 367.200/hari atau Rp 11.016.000/bulan, dengan asumsi rata-rata berat telurnya 60 gram. Jika dihitung, keuntungan total per bulan yang dapat diperoleh, baik dari efisiensi pembuatan pakan maupun penjualan telur adalah Rp 12.465.000.

“Semakin besar skala usaha/semakin banyak populasi ayam, maka keuntungan yang diperoleh juga akan semakin banyak. Selain keuntungan finansial yang bisa diperoleh, suplementasi mineral menggunakan tepung kerabang telur juga dapat mendukung program ramah lingkungan,” pungkasnya.

Sumber: Humas UGM, OkeZone

2 Komentar leave one →
  1. Januari 21, 2018 11:35 am

    Salam saya yoyo saya sangat tertarik dgn pengolahan cangkang telur dan saya sangat inin sekali ini jadi suber penghasilan tapi saya bingung kemana saya harus menjual hasil produknya nanti mungkinkah bisa jadi pendaping dan memberi pengarahan bagi saya terimakasih atas oerhatiannya

Trackbacks

  1. 15 Tips Menjaga Kebersihan Toilet - Info - Artikel Unik, Lucu, dan Menarik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: