Skip to content

Ratnawati Sutedjo: Lewat Precious-One, Dampingi Tunarungu Berkarya

Desember 23, 2010

Suatu saat, jika anda melihat suatu barang kerajinan, apakah anda menemukan tulisan ”Produk ini adalah karya terbaik dari mereka yang berkebutuhan khusus sebagai bukti bahwa hidup mereka sangat berarti…” Jika ya, maka barang kerajinan itu adalah produk dari para tunarungu yang dihimpun Ratnawati Sutedjo dalam yayasan Precious-One.

Suatu siang di ruang kerja Precious-One, Jalan Gunung Sahari XI, Jakarta Pusat, sejumlah orang sibuk bekerja. Mereka membuat barang kerajinan. Ada yang menjahit, memasang payet, dan merangkai aksesori.

Karya mereka berupa tas, tempat tisu, dompet, sarung bantal, tutup galon air, boneka jari, dan aneka hiasan dinding. Semua pekerja tersebut adalah orang-orang berkebutuhan khusus, para tunarungu.

Yunita (26), seorang tunarungu yang bekerja di Precious-One, tengah hamil lima bulan. Ia telah bergabung dengan Precious-One selama lebih dari dua tahun. Ia datang ke tempat kerja dari rumahnya di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, diantar dengan sepeda motor oleh suami yang sedang terkena pemutusan hubungan kerja.

”Saya senang bisa bekerja di sini. Saya bisa mencari uang untuk masa depan,” kata Yunita, dengan intonasi datar. ”Kami di sini banyak teman dan bisa saling membantu,” ujar Yunita, lulusan Sekolah Luar Biasa Tunarungu Santi Rama, Jakarta.

Ulfa (27), tunarungu lainnya di Precious-One, juga bisa membantu ekonomi keluarga. Begitulah Yunita, Ulfa, juga mereka yang berkebutuhan khusus mendapat tempat untuk beraktualisasi diri dalam bentuk kerja di Precious-One atau P-One yang berada di bawah yayasan sosial Karya Insan Sejahtera.

P-One melatih dan menciptakan lapangan kerja bagi para tunarungu untuk bisa menghasilkan karya. Mereka juga memberi kesempatan kepada para pemilik bidang usaha lain guna memberi kesempatan bagi orang-orang berkebutuhan khusus untuk bekerja.

”Dengan bekerja, mereka bisa menemukan rasa berharga dalam hidup,” kata Ratnawati Sutedjo, pengelola P-One, yang dengan sabar dan setia mendampingi orang-orang berkebutuhan khusus.

”Mereka dilahirkan sebagai pribadi yang berharga. Kami menerima mereka untuk memunculkan rasa bahwa mereka berarti lewat bekerja,” kata perempuan kelahiran Semarang, Jawa Tengah, itu. Ada sekitar 30 orang yang bergabung dengan P-One. Hasil karya mereka dipajang di tempat kerja yang sekaligus menjadi ruang pajang. Direncanakan, P-One akan pindah ke bilangan Sunter Garden, Jakarta Utara, menjelang akhir tahun ini.

Sebagian hasil karya dari mereka yang berkebutuhan khusus itu juga dijual di sejumlah toko di Jakarta. Ada beberapa perusahaan yang sering memesan hiasan dinding bertuliskan semacam slogan perusahaan. Sejumlah sekolah juga memesan alat peraga.

Beri kesempatan

Gagasan memberi ruang kerja bagi orang-orang berkebutuhan khusus muncul ketika Ratna tengah tak berdaya fisiknya pada tahun 2000. Saat itu ia sakit, dan selama dua bulan harus istirahat total. Ratna yang sebelumnya sibuk sebagai seorang sekretaris itu tiba-tiba harus berdiam diri tanpa aktivitas. Dalam ketakberdayaan fisik itu dia merenung.

”Saat itu saya merasa hidup saya tidak berarti. Saya yang punya anggota tubuh lengkap, tetapi tidak bisa apa-apa. Bagaimana dengan orang-orang yang cacat, mereka dengan kebutuhan khusus?”

Dari perenungan itu Ratna berjanji dalam hati, jika diberi kesembuhan, dia akan bekerja bagi orang-orang berkebutuhan khusus. Setelah pulih dari sakit, ia mulai belajar bahasa isyarat dari Ny. Baron Sastradinata selama dua tahun.

Ratna kemudian membentuk komunitas anak-anak berkebutuhan khusus. Suatu hari pada tahun 2004, dia bertemu seorang tunarungu yang sudah tujuh kali melamar pekerjaan dan ditolak terus karena alasan keterbatasan fisiknya.

”Saya sedih sekali. Tuhan menghadirkan dia, tetapi masyarakat menolak dan tidak memberinya kesempatan. Itu yang mendorong saya untuk melakukan sesuatu.”

Suatu ketika dia melihat contoh kain jok di sebuah toko. Ratna yang hobi membuat kerajinan tangan itu membayangkan contoh kain jok itu bisa dibuat aneka barang kerajinan. Pemilik toko memberikan satu dus contoh kain jok itu secara cuma-cuma kepada Ratna. Dalam hati Ratna mengatakan, kain itu harus menjadi sesuatu.

Pada saat yang hampir bersamaan, ia mengenal seorang perempuan tunarungu berusia 20-an tahun yang belum mendapat pekerjaan. ”Saya ajak dia. Kamu mau enggak ikut, saya ajari bikin sesuatu,” kata Ratna dengan bahasa isyarat.

Ratna lalu mengajarinya membuat dompet sampai jepit rambut. Rupanya orang berkebutuhan khusus itu cepat belajar. Hasilnya pun layak jual. ”Murid” pertama Ratna itu lalu mengajak teman-teman senasib. Dari yang semula hanya seorang tunarungu, kini Ratna menghimpun 30 tunarungu dalam P-One.

Tidak berkeluh kesah

”Precious-One itu lahir dari sini. Precious itu berharga. One itu seseorang, satu pribadi. Siapa pun kita, dalam keadaan apa pun kita, semua berharga di mata Tuhan,” kata Ratna tentang awal berdirinya Precious-One pada tahun 2004.

Kini P-One telah berkembang dengan tambahan dua divisi, yaitu The Silent Art dan Dancing with Heart. Lewat wadah The Silent Art, orang berkebutuhan khusus akan dilatih membatik. Untuk itu, Ratna terlebih dahulu belajar membatik. Sementara itu, lewat aktivitas Dancing with Heart, penyandang tunarungu dilatih menari. Mereka pernah tampil di depan publik.

Para tunarungu itu memang tidak bisa mendengar musik. Mereka bergerak berdasarkan hitungan ketukan. Namun, yang lebih penting bagi Ratna, mereka dilatih menari untuk mengungkapkan kegembiraan jiwa. ”Orang menari itu pasti hatinya senang. Waktu mereka menggerakkan tangan dan tubuh, itu gerakan dari hati.”

Dari pergaulannya dengan orang-orang berkebutuhan khusus, Ratna melihat mereka sebagai orang yang tidak melihat kelemahan sebagai penghalang. Mereka melihat kelebihan yang ada dalam hidup mereka.

Dalam pengantar buku Aku Bisa Melewati Hidup Ini yang berisi kesaksian orang-orang berkebutuhan khusus, Ratna menulis: Berhentilah untuk mengasihani diri sendiri. Berhentilah untuk selalu melihat kelemahan diri. Berhentilah untuk berkeluh kesah. ”Karena banyak orang yang terus berjuang dengan keterbatasan fisik mereka untuk melewati kehidupan ini. Dan, mereka bisa tetap tersenyum,” kata Ratna.

Sumber: Kompas

20 Komentar leave one →
  1. Desember 23, 2010 11:35 am

    Terima kasih atas inspirasinya yang luar biasa untuk berkarya dan melayani orang lain.. ^_^

  2. Lola Wulandari permalink
    Desember 23, 2010 11:35 pm

    Salut, turut merasa bahagia, juga berterima kasih pada Tuhan atas pekerjaan baik dari hati mba Ratnawati Sutedjo ^_^ sungguh membuat saya merasa bahagia membaca ulasan singkatnya mengenai yayasan sosial Karya Insan Sejahtera ini.

    Apa ada alamat atau e-mail mbak Ratnawati Sutedjo yg bisa dihubungi ya? terima kasih banyak sebelumnya :). Sukses terus untuk semua saudara2 kami yg tergabung di yayasan. Semoga Allah melimpahkan rezeki, kelancaran, kegembiraan. Juga keberkahanNya. Amin. ^^ Love, lola

  3. Imelda permalink
    Januari 3, 2011 11:35 pm

    Saya juga tertarik membantu setelah membaca artikel ini. Mohon alamat atau nomor telepon atau e-mail untuk menghubungi Precious-One.

    Terima kasih sebelumnya.

  4. Feni puji lestari permalink
    Maret 13, 2011 11:35 am

    Saya kagum dengan keagungan hati ibu..
    Dan saya juga berminat untuk bergabung di P-one.

  5. nikma permalink
    Maret 19, 2011 11:35 am

    Saya pernah membaca profil ibu di majalah Kartini.. salut atas perjuangannya yang membuahkan hasil sangat membanggakan.
    Yang ingin saya ketahui kira-kira ada cabang p-one di surabaya tidak. karena kebetulan saya mempunyai kakak ipar laki-laki yang menyandang tunarungu-wicara. kebetulan kakak saya sedang menganggur,sudah pernah mencoba mencari kerja tetapi belum berhasil.
    Sudilah kiranya ibu Ratna berbagi info tentang usaha serupa di Surabaya. terima kasih atas atensinya. Salam…

  6. puji lestari permalink
    Maret 27, 2011 11:35 am

    Bu…Saya punya adik tunarungu lulusan SMA yg sedang cari kerja. Apa adik saya bisa bergabung di yayasan ibu? Kalau boleh saya minta alamat atau no telponnya. Terima kasih.

  7. franceska mima permalink
    April 1, 2011 11:35 pm

    Ibu Ratna…Saya bangga dan semoga Tuhan Yesus memberkati karya emas anda.
    Saya barusan menonton acara anda di TV ONE ‘Yang Terlupakan”. Kebetulan saya baru sj kenal dgn tetangga pengontrak & anaknya cantik. Dia menderita tuna rungu. Keluarga tdk mampu membiayai sekolah lg. Tapi kemarin dia sempet merengek sm ibunya yg hanya penjual gado-gado bhw dia minta kerja, pengen membantu keluarganya. Di rumah itu, tinggal tiga saudaranya lg. Ada yg sdg sakit dan tiap bulan hrs beli obat. Ada kakaknya yg ditinggal pergi suaminya dgn dua balita, lalu ayahnya sakit mata krn terkena pecahan keramik waktu sdg bekerja. Ingin rasanya saya menunjukkan bu Ratna pd anak itu, tapi saya bingung kalo lokasi kantor ibu di gn sahari, sdgkan kami diCileduk. Trims. Mohon infonya.

  8. Enggano Anwar permalink
    Oktober 4, 2011 11:35 am

    Saya bangga akan apa yang ibu lakukan untuk sesama. Mudah2an suatu saat saya bisa spt ibu, minimal mendukung pelayanan ibu. Tuhan memberkati.

  9. Maret 17, 2012 11:35 am

    good bu ratna saya juga berminat menjadi pengusaha suatu saat nanti, bisa menyalurkan ilmu saya untuk murid2 saya yg tunarungu. apakah ada pelatihan bisnis nya yg bisa sya ikuti?
    agar bisa mengikuti jejak ibu. trims ya

  10. vera permalink
    Juni 10, 2012 11:35 am

    bisa minta contact address bu ratna?

  11. Mei 19, 2013 11:35 pm

    good bu ratna.. saya ingin melamar ke preciuse one bu… kemarin” saya udah menunggu kabar dari bu ratna ternyata samapi tidak menyangka emailku udah jadi saya lupa sekali… bolehkah saya minta nomer hap bu ratna untuk mau hubungi sms >> terimasaih bu ratna:)

  12. September 28, 2014 11:35 am

    siang bu ratna,,,,,saya punya adik tunarungu usia 21thn…lulusan smu,,,apakah dia boleh bekerja ditempat ibu?????saya minta alamatnya bu???trimakasih bu……

  13. Maret 30, 2017 11:35 am

    Terima kaaih ibu ratnawati atas karyanya, aayà punya anak tuna rungu, apakah anak saya bisa ikut bergabung sama ibu ratnawati, ini no hp saya 081366585129, terimà kasih ibu ratnawarti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: