Lanjut ke konten

Pentas Gamelan Bali Dharma Swara Pukau Publik New York, AS

Desember 24, 2010

Kelompok Gamelan Bali Dharma Swara memukau lebih dari 200 penonton yang memadati salah satu restoran dan klub terkemuka di Manhattan, New York, yang selama ini dikenal kerap menghadirkan penyanyi, pemain musik, dan penari tradisional maupun modern berkelas internasional, Le Poison Rouge pada Minggu, 19 Desember 2010. Mereka tampil dengan kekuatan penuh dan menghadirkan seni musik gamelan dan tari Bali yang indah dan atraktif.

Dharma Swara adalah kelompok gamelan Bali binaan KJRI New York yang sebagian besar anggotanya merupakan warga negara Amerika Serikat. Beranggotakan 40 orang dengan latar belakang beragam, mulai dari mahasiswa pasca sarjana dari Columbia University, Cornell University, dan Princeton University, pengajar musik di Juilliard School dan University of Richmond, serta musisi profesional seperti Matt Welch (Blarvuster), Richard Marriot (Club Foot Orchestra) dan Michael Lipsey (Talujon).

Di bawah arahan pengarah musik, I Nyoman Saptanyana, dan pengarah tari, Ida Ayu Ari Candrawati, kelompok ini menampilkan empat komposisi tembang dan tiga tarian Bali.  Pertunjukan dibuka dengan penampilan Tari Pendet dengan gaya Desa Peliatan, Bali.

Pertunjukan kali ini juga menampilkan komposisi gamelan ‘Lingga Tangan’ yang merupakan karya perdana Putu Bagus Krisna Saptanyana, putra dari pengarah musik yang baru berusia 17 tahun.  Ditampilkan juga ‘Wiranata’ karya komposer dan koreografer I Nyoman Ridet (1949) dan ‘Kebyar Legong’ karya Pan Wandres (1914).

Pertunjukan semakin menarik dengan kemampuan Direktur Eksekutif Dharma Swara, Andrew McGraw, dalam memperkenalkan suara dan cara memainkan masing-masing alat gamelan. Dharma Swara juga mengundang penonton untuk mengikuti workshop gamelan dan tari Bali di KJRI New York pada Minggu, 9 Januari 2011.

Di akhir acara, ditampilkan gabungan tembang dan tari sepanjang 35 menit  yang tidak saja memukau namun juga membutuhkan tingkat konsentrasi dan stamina yang tinggi. Standing applause dari penonton yang hampir seluruhnya warga Amerika pun menutup pertunjukan tersebut.

Menurut Andrew McGraw, respon dari penonton sungguh di luar dugaan. Apalagi karakteristik tempat dan penonton sangat berbeda dibandingkan penampilan Dharma Swara di tempat-tempat lain. “Respon dari penonton saya lihat sangat luar biasa. Tata panggung, lampu, dan karakteristik penonton, semuanya sangat berbeda. Penampilan ini tidak hanya baru bagi para penonton, tapi juga bagi kami”, jelas Andrew.

Respon meriah tidak hanya datang dari penonton yang hadir. Koran The New York Times bahkan sempat me-review pertunjukan ini dengan judul artikel “Sounds of Bali, Traditional Yet Evolving” dan dimuat pada edisi Minggu (12/12).

Sebagai salah satu grup kesenian di bawah binaan KJRI New York, Dharma Swara telah pentas di berbagai tempat seperti di Asian Society, Symphony Space, Bloomberg, Brooklyn Museum, Brooklyn Academy of Music, UN, dan beberapa kampus seperti New York University dan Columbia University.

Bulan Juli lalu, Dharma Swara berhasil tampil memukau pada ‘Bali Arts Festival 2010’ di Denpasar dan pentas di beberapa desa di Bali dalam Bali Tour 2010. Sebagai kelompok non-Bali pertama pada festival tersebut, Dharma Swara bersaing dengan para pemain profesional asal Bali dalam konser tahunan “battle-of-the-bands”.

Sumber: Deplu (KJRI New York), Dharmaswara.org

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: