Skip to content

Suprapto: Guru Bertani Organik dari 16 Negara Asal Sleman

Januari 30, 2011

Rumah  TO Suprapto yang sederhana tak pernah sepi dari tamu. Petani dari Sabang sampai Merauke, bahkan dari luar negeri, datang berguru. Ibarat dunia persilatan, dialah salah seorang suhu yang harus dicari untuk berguru. Bagi Suprapto, bertani organik juga sebuah filosofi. Bertani organik adalah soal kebutuhan dan kejujuran. Dari tembang-tembang Jawa kuno, ia menimba ilmu pertanian.

Lima paweling atau wejangan tentang pertanian pun disarikannya dari tembang kuno sebagai dasar lahirnya konsep pertanian Manajemen Akar Sehat (MAS). Tahun 1996 konsep MAS itu dibagikan kepada petani dari 16 negara yang berlatih di wahana pembelajaran organik Joglo Tani yang ia dirikan.

Metode MAS lalu dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris menjadi System of Rice Intensification (SRI). Metode SRI sukses dikembangkan di Madagaskar. Anehnya, Pemerintah Indonesia mengadopsi teknologi itu dari Madagaskar, bukan dari sumbernya di Sleman. ”Teknologi temuan petani masih dianggap remeh karena bukan temuan institusi,” ujar pria yang akrab dipanggil Pakde TO itu.

Metode SRI terbagi tiga prinsip pertanaman, yaitu tanam satu, tanam muda, dan tanam dangkal. Padi ditanam satu bibit satu lubang, bibit harus sudah berdaun empat, dan ditanam dangkal. Metode SRI terbukti meningkatkan hasil dan ramah lingkungan.

Ajaran leluhur

Wejangan lain tentang pertanian yang dianjurkan adalah pemberian pupuk sebagai makanan dan air sebagai penghidupan. Keduanya harus seimbang. Keluarnya bunga jangan sampai bersamaan dengan banyaknya angin sehingga harus ada perhitungan jadwal tanam.

”Metode ajaran leluhur dipakai, tetapi kita harus terus membaca situasi kekinian dengan memasukkan teknologi di tengah perubahan iklim,” katanya.

Sejak tahun 1990-an, ia menularkan konsep dasar pertanian itu. Diawali dari petani di Sleman, Yogyakarta, ilmu pertanian organik tersebar di seantero Nusantara. Pelatihan pertanian organik di Joglo Tani juga diminati anak-anak dari taman kanak-kanak hingga mahasiswa. Dalam sebulan, lebih dari 100 orang belajar dari Suprapto.

Pemerintah Provinsi DI Yogyakarta pun secara rutin mengirim calon transmigran dari Yogyakarta untuk belajar ilmu pertanian organik. Sepanjang tahun 2010, terdapat 10 angkatan atau 250 transmigran belajar di Joglo Tani.

Tahun ini, pemerintah menjadwalkan pelatihan bagi 13 angkatan transmigran yang masing-masing angkatan terdiri dari 25 orang. Ditjen Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional pun rutin memberi beasiswa pelatihan di Joglo Tani. Para peserta harus mengetahui komposisi dan praktik pembuatan pupuk organik. Muaranya adalah kemerdekaan petani dari ketergantungan pada pabrik pupuk dan benih!

Belum merdeka

Menurut Suprapto, petani di Indonesia belum merdeka. Mereka hidup di bawah tekanan ekonomi, alam, sosial, budaya, globalisme, dan kebijakan. Pemerintah belum berpihak kepada petani. Beragam tekanan itu kian mengimpit petani karena mereka cenderung berjuang sendiri dengan kepemilikan lahan rata-rata di Jawa hanya 0,1-0,2 hektar per petani. Kelompok tani biasanya hanya sebatas papan nama sehingga mudah dimainkan tengkulak. ”Dari pemenuhan kebutuhan awal produksi, mayoritas petani sudah dikangkangi kapitalis sehingga tidak mandiri,” katanya.

Mengawali pekerjaan sebagai guru dan sempat menjadi wasit sepak bola nasional, Suprapto mulai memperdalam ilmu pertanian sejak mengikuti Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) tahun 1989-1999. Meski tak dibayar, ia bersemangat menjadi pemandu kelompok-kelompok petani di Kabupaten Sleman.

Ketika pemerintah tak lagi melanjutkan proyek SLPHT, Suprapto dan rekan-rekannya melahirkan wadah baru Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Sejak tahun 1999 hingga kini, ia menjadi koordinator umum IPPHTI nasional dengan keanggotaan sekitar 10 juta petani di seluruh Indonesia.

Bagi dia, Joglo Tani menjadi monumen kebangkitan petani. Petani yang pernah berjaya lalu terpuruk bisa bangkit lagi menjadi mandiri. Namun, kemandirian harus diawali perubahan pola pikir dari anorganik ke organik. Agar tak mudah dipermainkan rantai panjang produsen ke konsumen, petani perlu kembali membangun monopoli kelompok dengan menciptakan pupuk, pestisida, dan benih sendiri.

Secara fisik bangunan, Joglo Tani baru diresmikan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X tiga tahun lalu. Namun, proses pelatihan pertanian organik sudah diawali tahun 1990. Tenaga pendidik berjumlah 16 orang, ditambah pengajar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, atau Institut Pertanian Yogyakarta.

Memandirikan dusun

Joglo Tani di Dusun Mandungan I, Margoluwih, Seyegan, Sleman, itu menempati lahan seluas 8.000 meter persegi. Selain membangun pendopo untuk berkumpul, Suprapto menanam padi, beternak, dan membangun kolam ikan. Ia mendapat penghasilan harian dari menjual telur itik serta mengolah dan menetaskannya. Penghasilan juga dia dapat dari panen ikan, padi, sayur, serta menjual ternak.

Dengan menyewa tanah kas desa seluas 2,25 hektar yang dimanfaatkan sebagai kolam ikan dan lahan pertanian, Joglo Tani menyumbang pendapatan asli bagi dusun. Dari lahan seperempat hektar dibangun 17 kolam ikan, 5 di antaranya diberikan cuma-cuma kepada semua ketua RT sebagai kompensasi. Satu kolam diberikan kepada kelompok karang taruna dan 11 kolam disewakan kepada masyarakat.

Hidup Suprapto dilandasi prinsip, kang kongkon yo kang nglakoni (yang menyuruh juga harus yang melakukan). Ia bermimpi, konsep wadah pembelajaran Joglo Tani bisa dikembangkan hingga ke seluruh Nusantara. Ia mengajak petani untuk tidak kecewa terhadap keadaan, tetapi bergerak maju dengan kemandirian.

Sumber: Kompas

22 Komentar leave one →
  1. Februari 18, 2011 11:35 am

    Bagaimana caranya dapat berhubungan langsung dengan Pak TO Suprapto ?

    Bisakah melalui hubungan telepon untuk konfirmasi?

    thanks

  2. furqon permalink
    Februari 20, 2011 11:35 pm

    Permisi pakde TO sy mau tanya kalo pingin ikutan belaja di sekolah pertanian pakde bagaimana caranya dan apa persyaratannya.
    Sebelumnya sy ucapkan trimakasih….

  3. hotma tarigan permalink
    Mei 7, 2011 11:35 am

    Boleh kah kami mengundang bapak TO.Suprapto untuk memberikan materi seminar untuk kelompok petani bagi daerah kami? Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

  4. ENDRI permalink
    Mei 12, 2011 11:35 am

    Pak, tolong kirim informasi /brosur beasiswa joglo tani TA 2011/2012 ke email saya (en_ibnu@yahoo.co.id). terimakasih ENDRI Pemda Kabupaten Pasaman Barat -SUMBAR

  5. amrullah permalink
    Agustus 2, 2011 11:35 am

    Pak T.O apakah saya bisa ke tempat bapak untuk belajar bertani organik? Bagaimana caranya mendapatkan beasiswa?

  6. supriyadi permalink
    September 29, 2011 11:35 pm

    Salam sejahtera pakde, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan seputar joglo tani.
    1. siapa saja yang bisa belajar di lembaga pakde
    2. adakah beasiswa bagi mereka yang kurang mampu dalam segi ekonomi dan bagai mana cara untuk mendapatkan nya.jika pakde to berkenan mohon di jawab ke email saya ( spyddarmando@gmail.com )

  7. Gathot Suwardiyono permalink
    Desember 12, 2011 11:35 am

    Bapak TO yg Terhormat dan saya banggakan, saat ini saya bertugas pada dinas pertanian dan peternakan kab. Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah. Saya telah meneruskan ilmu bapak tentang falsafah budidaya padi pada petani “WULEN SEPANEN, JOTHO TINOTO, LAS KANG MENTES” tetapi saya ingin sekali memperdalam kajian2 tersebut agar tidak melenceng dari makna yang terkandung di dalamnya, di mana saya harus membaca buku tersebut pak, terima kasih salam untuk keluarga bapak…khususnya mas Johan… gimana kelincinya Om..adakah kelinci yang cocok untuk daerah saya (Kalintan Puaanas banget)

  8. Februari 5, 2012 11:35 am

    Menurut saya pertanian organik adalah pertanian masa kini dan masa depan. Banyak orang di negara2 maju yang suka dengan Pangan yang sehat dan bergizi tinggi yaitu yang diproduksi dari bahan-bahan alami tanpa merusak lingkungan. Tulisan anda sangat inspiratif dan mencerahkan. Thanks. Mari kita majukan pertanian organik di bumi Indonesia.

  9. OOOZZIX permalink
    April 3, 2012 11:35 am

    Bersama teman2 ingin kembangkan agropolitan di bumi Sukoharjo. Maturnuwun, slam dari segenap teman IPPHTI Sukoharjo.
    Sehat2 dan sukses selalu.

  10. April 19, 2012 11:35 pm

    Jadi ingat ketika goes to field dan selama beberapa hari belajar di joglo tani. Cara belajarnya asyik, tidak membosankan, tapi ilmu dan informasi yang saya dapatkan tidak setengah-setengah. Belajar bersama dengan siswa-siswanya di joglo, dan bersama bernyanyi Bahay, bahay, bahay.. seru!

  11. Suhirman permalink
    Juli 24, 2013 11:35 pm

    Salam..
    Sy dri pulaw lombok.
    Slama ini kami slalu trgantung pd pertanian non organik.
    Sy ingin pertanian organik agar kami tidak trus bergantung pd harga pupuk yg smakin tinggi.
    Tapi sy tidk tahu harus bagae mana caranya.?
    Sy mohon bantuannya dan solusinya.

  12. imammurdyono permalink
    Oktober 21, 2013 11:35 am

    salam pak de TO..saya dari jayapura pak de,sy ingin anak saya bersekolah sambil belajar bertani organik, kebetulan anak saya sangat hobi/senang sekali dg bidang pertanian dan perikanan,siap tau bisa diterapkan di Jayapura,mohon penjelasan dan solusinya pak de TO..terimakasih…

  13. Ody permalink
    Juni 25, 2014 11:35 am

    Salam Pak T.O terima kasih sudah memberikan waktu dan kesempatan untuk berdialog dan bertemu langsung dengan Pak T.O di Sleman kemarin. banyak ilmu yang kami dapatkan. Terima kasih Pak.

    Salam,
    Ody SKK Migas Kalimantan & Sulawesi

  14. dede suwandi permalink
    November 20, 2014 11:35 pm

    Assalamualaikum…
    Pak, apakah saya dapat belajar tentang pertanian organik ? kebetulan saya adalah mahasiswa smstr 7 yang sedang belajar tentang matakuliah Biologi Terapan…rencananya kami akan mengunjungi tempat bapak..kalau boleh saya meminta nomor yang bisa di hubungi guna kepentingan jika saya daan teman teman jadi berangkat ke tempat Bapak.
    terimakasih…

  15. Desember 18, 2014 11:35 am

    Good Luck P. TO selalu semangat -Salam Ramah Lingkungan – http://www.petanipeneliti.com

  16. ahmad syarifudin permalink
    Januari 2, 2015 11:35 pm

    slm suxes pa,bagaimna cara mengikuti sekolahn bpk,dan sarat’a apa saja pak?

  17. Mei 16, 2016 11:35 pm

    maaf bapak, saya mau tanya, jika ingin mengikuti sekolah di joglo tani syaratnaya apa saja geh? saya mahasiswa semester 6 dan ingin ingin bisa mengembangkan lahan pertanian di daerah saya… terimaksih atas jawabannya

  18. November 9, 2016 11:35 am

    Pakde saya berharap pemerintah pusat melalui kementan dapat mbuat terobosan program organik,tau subsidi pupuk di cabut mkn petani akn mulai berpikir….intinya kesadaran kita…..nurohman mesuji lampung pakde

  19. Mahmuda hafiana permalink
    Januari 16, 2018 11:35 pm

    Kami bangga punya pak to suprapto yg akan membangun indonesia menjadi pertanian yg lebih maju dan lebih inovatif dan akan membagikn ilmu nya pada semua petani di indonesia

Trackbacks

  1. Tweets that mention Suprapto: Guru Bertani Organik dari 16 Negara Asal Sleman « Indonesia Proud -- Topsy.com
  2. Petani Indonesia (BELUM) Merdeka! « Malanove

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: