Skip to content

Ni Wayan Mertiayani: Gadis Miskin yang Juara Foto Internasional Anne Frank, Belanda

Februari 17, 2011

Siapa sangka, dengan kamera pinjaman dan memotret objek sederhana, seorang gadis dusun Bali memenangkan lomba foto internasional. Gadis itu adalah Ni Wayan Mertiayani.

Mengenakan baju Bali, dengan kebaya putih dan kamen biru, Wayan Mertiayani menerima hadiah dari Annemarie Becker. Gadis asal Banjar Biasiantang, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Karangasem, Bali ini menerima hadiah kamera Canon G11, buku-buku tentang Anne Frank, dan fotonya sendiri yang menang lomba dari perwakilan Yayasan Anne Frank pada 3 Mei 2010 di Amsterdam, Belanda.

Gadis berusia 14 tahun itu memenangkan lomba foto internasional tentang Anne Frank. “Kisah Anna Frank sama dengan kisah saya,” katanya di Hilversum, Belanda.

Wayan bercita-cita jadi wartawan dan penulis. Cita-cita itu muncul setelah dia membaca buku Catatan Harian Anne Frank, The Diary of Anne Frank,. Dua tahun lalu Wayan meminjam novel dari tetangganya yang biasa dipanggil Bu Marie, warga Belanda pemilik vila Sinar Cinta di pantai Amed. Wayan dan teman-temannya biasa datang ke vila Marry untuk meminjam buku.

Wayan mengaku langsung jatuh cinta pada cerita Anne Frank, gadis Yahudi korban kekejaman Nazi. Frank bersembunyi dari kekejaman Nazi selama dua tahun sejak tahun 1942. Frank menulis cerita harian yang kemudian diterbitkan dalam berbagai bahasa termasuk Indonesia

“Tiang merasa patuh ajak ceritane Anne Frank,” kata Wayan dalam Bahasa Bali, yang artinya, saya merasa hidup saya sama dengan cerita Anne Frank.

Sulung dari dua bersaudara ini memang berasal dari keluarga miskin.Ibunya, I Nengah Kirem, (52) sudah bertahun-tahun menderita ginjal dan harus bekerja serabutan. Ayah Wayan telah meninggal sejak dia berumur tiga tahun. Mereka tinggal di gubuk berdinding bilik bambu dengan satu kamar tidur.

Untuk menopang kehidupan, tiap sore hingga gelap menyergap, pelajar kelas III SMP Negeri 2 Abang, Karangasem, itu berjualan permen, kue jajanan, dan makanan kecil lain di Pantai Amed, salah satu pusat wisata di bagian timur Karangasem.

Jika dagangannya laku, dia bisa memperoleh pendapatan hingga Rp 50 ribu. Tapi lebih sering dia rugi karena banyak yang tidak bayar. “Ätau kalau tak habis saya makan sendiri, jadi ya rugi,” ujar Wayan tersipu. Dia bahkan hampir putus sekolah karena tidak punya uang untuk biaya sekolah.

Wayan  mengaku punya puluhan ayam dan bebek serta beberapa ekor kambing. Ayam-ayamnya pun dibiarkan berkeliaran tak dikandangkan. Terkadang Wayan harus menyabit rumput untuk memberi makan kambingnya sebelum berjualan. Namun, di sela kehidupan keras yang dilaluinya, Wayan biasa meluangkan waktu dengan membaca di perpustakaan milik Marie Johana Fardan, tetangganya.

“Sudah dua tahun dia menjadi langganan tetap perpustakaan. Dia menyukai buku Anne Frank itu,” ujar Marie, yang mengantar Wayan dan adiknya, Ni Negah Jati, terbang ke Belanda.

Awal Pemotretan

Pada September tahun 2009, ada tamu dari Belanda yang memberi tahu Wayan tentang lomba foto dari Yayasan Anne Frank. Wayan tertarik. Dia pun meminjam kamera digital pada tamu tersebut.

Wayan mengambil 15 foto dari sekitarnya seperti ayam, telur, kamar, dapur, dan ayam di atas pohon. Jepretan terakhirnya adalah sebuah potret pohon ubi karet dengan dahan tanpa daun yang tumbuh di depan rumahnya. Seekor ayam bertengger di salah satu dahan, serta handuk berwarna merah jambu dan baju keseharian yang dijemur di bawahnya.

“Foto (ayam di atas pohon) itu, tiang ambil terakhir,” ujarnya.

Semua foto itu kemudian dia serahkan pada Dolly Amarhoseija, turis Belanda yang meminjamkan kamera tersebut. Dua bulan kemudian dia mendapatkan kabar kalau fotonya menang. “Wah, tiang merasa sangat senang. Lega sajan,” kata anak pasangan Ni Nengah Kirem dan I Nengah Sangkrib ini.

Foto sederhananya  itu memikat 12 fotografer kelas dunia dari World Press Photo yang menjadi juri lomba foto internasional 2009 yang digelar Yayasan Anne Frank di Belanda. Tema lomba yang yang diikuti 200 peserta itu adalah “Apa Harapan Terbesarmu?”

Dua belas juri dari World Press Photo mengatakan, semua unsur dalam foto Wayan bekerja sangat bagus. “The shape of the tree, the one chicken up in the branches, the color and light. They all work in its favor. All of this relays the photographer’s reality through subtle symbolism,” tulis juri di dalam website resmi Yayasan Anne Frank.

“Melalui foto itu, Wayan tak hanya memperlihatkan dunianya, tapi juga cita-citanya sebagai wartawan,” tambah Annemarie Backer dari Yayasan Anne Frank.

Wayan sendiri mengatakan ayam yang sedang bertengger di atas pohon saat itu memang menarik perhatiannya. “Ayam itu menggambarkan kehidupan saat ini sekaligus cita-cita saya,” katanya menjelaskan. Ayam itu simbolisasi diri dan kehidupannya. “Ayam itu kalau panas kepanasan, hujan kehujanan. Sama seperti saya,” ujarnya.

Wayan mengaku tidak menyangka fotonya akan menang. Tapi, itulah kenyataannya. Foto gadis dari desa miskin itu membawanya ke Belanda. Anak pertama dari dua bersaudara ini datang bersama adik kandungnya, Nengah Jati.

“Saya semakin yakin untuk menjadi wartawan setelah berkunjung ke Belanda,” katanya.

Negeri Kincir Angin menjadi tempat pertama Wayan mengenal dunia di luar Bali. Dia mengaku senang bisa menjejakkan kaki di Belanda, yang menurut dia bersih, ramai, meski cuacanya kurang bersahabat. “Senang tapi makanannya tidak enak, mentah-mentah. Lebih enak jajanan saya,” ujarnya disambut tawa hadirin.

Wayan berharap bisa menyelesaikan sekolah dan mewujudkan cita-citanya menjadi jurnalis. Sepulangnya dari Belanda, ia mendapat kabar gembira berupa kelulusannya dari ujian nasional.

“Saya ingin membahagiakan ibu saya,” ujarnya sendu. Matanya bulat menerawang. Dia sangat sadar kemiskinan mengancam kelanjutan pendidikannya. “Anne Frank lebih susah hidupnya. Jika dia tak mengeluh, saya juga seharusnya tidak,” ujarnya kemudian.

Kisahnya Dibukukan

Kisah perjalanan hidup Ni Wayan Mertayani dibukukan. Pande Komang Suryanita, penulis buku berjudul “Potret Terindah dari Bali” itu mengatakan buku itu diterbitkan Kaifa (grup Penerbit Mizan) pada awal Februari 2011.

Materi buku mengungkapkan sisi kehidupan gadis yang biasa dipanggil dengan Ni Wayan atau Sepi itu.

Penulis menguraikan secara detil bagaimana alur kehidupan Sepi yang begitu memilukan. Bermula dari kehilangan ayah dan rumah tinggal, Sepi bersama ibu dan adiknya, pindah ke sebuah gubuk di tepi Pantai Amed, Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur.

Di gubuk itu, Sepi menjalani hidup sebagai penjual makanan dan sesekali memulung barang bekas setelah pulang sekolah untuk dapat membantu ekonomi keluarga, terlebih ibunya dalam kondisi sakit-sakitan.

Hingga suatu ketika, ia bertemu dengan turis asal Belanda bernama Dolly yang meminjami kamera untuk belajar memotret. Hasil “jepretan” Sepi kemudian didaftarkan oleh Dolly pada lomba foto internasional yang diadakan Yayasan Anne Frank di Belanda, dengan tema “Apa Harapan Terbesarmu”.

Tak disangka, foto Sepi yang berobjek ayam yang sedang bertengger di pohon singkong karet berhasil menjadi pemenang dan mengalahkan 200 peserta lain dari berbagai negara.

Menurut Pande Komang Suryanita, objek foto Sepi berupa ayam, merupakan representasi diri Sepi. Bila hujan ia kehujanan begitu juga kala panas menyengat karena kondisi gubuk yang ditempatinya begitu memprihatinkan.

“Namun, cerita hidup Sepi bukan bermaksud mencari simpati dari pembaca tentang nasib kurang beruntung yang dialaminya. Justru, kisah itu kami angkat menjadi buku, dengan harapan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia agar tidak pernah menyerah dalam menjalani hidup,” ujar Suryanita.

Kisah hidup Sepi, lanjut Suryanita, terbukti amat inspiratif karena dalam kondisi hidup serba kekurangan, Sepi tak pernah berhenti berupaya agar roda hidupnya bergulir menjadi lebih baik.

Tak berbeda dengan kisah hidup Anne Frank, yakni seorang gadis Yahudi yang bertahun-tahun hidup dalam persembunyian untuk menyelamatkan diri dari tentara Nazi, yang menjadi tokoh idola bagi Sepi. Dalam persembunyian, Anne menulis dalam buku harian tentang cita-cita yang ingin diraihnya kalau keadaan sudah aman.

Buku “Potret Terindah dari Bali” sekaligus ingin mengungkapkan bahwa mimpi atau cita-cita dapat menjadi kekuatan seorang anak agar dapat menjalani hidup, sesulit apa pun, kata Suryanita.

“Seperti halnya yang dialami Sepi. Mimpi dan cita-citanya menjadi jurnalis, membuatnya tak pernah putus asa. Hidupnya yang sulit,bukan membuatnya tak bisa berkelit,” ujar penulis yang menetap di Denpasar itu.

Sumber: Antara, TEMPOinteraktif, balebengong.net

lanjutannya lihat video 2, video 3, video 4, video 5

19 Komentar leave one →
  1. fans permalink
    Februari 17, 2011 11:35 am

    Aq jg suka Anne Frank.

  2. ariksm permalink
    Februari 17, 2011 11:35 am

    Selamat atas perjuangan yg panjang dan tdk terbayangkan…… Hanya sekilas iseng tp bukan tanpa arti…. Semoga penghargaan ini menjadi pemicu hidup yg akan dijalani kedepan…. Saya yakin bahwa kamu bisa…..

  3. Februari 17, 2011 11:35 am

    Wow…Luar biasa.

  4. Februari 23, 2011 11:35 am

    This is it… Indonesia For The World! I am so proud… Hope to meet Ni Wayan Mertiayani soon… GBU, Indonesia 🙂

  5. agus susanto permalink
    Maret 2, 2011 11:35 am

    Selamat,..kembali mengharumkan nama Indonesia. Kamera bisa dari mana aja, tapi ide dan rasa tetap yang terpenting.

  6. memes permalink
    Maret 11, 2011 11:35 am

    like this…

  7. k.hadi ismanto permalink
    April 29, 2011 11:35 pm

    Subhannallah…tak sanggup aku menahan air mata bahagia atas perjuangan “sepi”. Lanjutkanlah..

  8. intan permalink
    Mei 2, 2011 11:35 am

    Salut banget. Anak2 di Indonesia spt Ni Wayan tsb. kerja kerasnya luar biasa.

  9. JohnSil permalink
    Mei 2, 2011 11:35 am

    Ni Wayan is amazing, talented, high and strong motivation you have motivate Indonesian Youth, thank you, Wassalam

  10. JohnSil permalink
    Mei 2, 2011 11:35 am

    We thank you Ni Wayan for giving us a hope and motivation to be our own self . We need you to be the best figure for all Indonesian Youth, (Social Girls XI of SMA IIBS RI, Cikarang) West Java

  11. Melani permalink
    Mei 5, 2011 11:35 pm

    Outstanding! Anda adalah contoh orang POSITIF : mencari KESEMPATAN dalam KESEMPITAN. Berjuanglah terus, kesempatan anda masih banyak dan terbuka lebar. Berdoalah selalu agar Tuhan membukakan jalan bagimu.

  12. November 25, 2011 11:35 am

    Artikel ini membantu saya dalam mengerjakan tugas nice.

  13. Harun Permadi permalink
    Desember 12, 2011 11:35 am

    Saya mengagumi I Wayan Mertiayani …. dalam keadaan sulit tetap bersemangat dan bercita-cita tinggi dan pantang putus asa ….. luar biasa … Melihat cuplikan video Kick Andy, I Wayan Sepi terlihat sangat ceria….. keberhasilannya meraih juara foto Yayasan Anne Frank semoga berlanjut kepada sukses2 lain, agar I Wayan Sepi bisa melanjutkan sekolah dan menjadi wartawan seperti yang dicita2kannya ……

  14. el kari permalink
    Februari 18, 2012 11:35 am

    Terus berkarya dalam keadan apapun…Jangan pernah membatasi karyamu….salut
    🙂
    Terus buat foto menjadi hidup dan biarkan foto yang berbicara…Selamat ya…Good luck!

  15. Maret 4, 2012 11:35 am

    Tetap semangat,, terus berjuang krn aku juga punya cita-cita yang sama seperti kamu menjadi seorang wartawan.. Let’s building our dreams 😀

  16. Maret 5, 2012 11:35 pm

    kelak akan menjadi wartawan hebat… Indonesia Jaya

  17. awan setiawan permalink
    April 26, 2012 11:35 pm

    luar biasa,,,,,

  18. mahyudin permalink
    Oktober 13, 2012 11:35 am

    kalau Allah menghendaki, terjadilah maka terjadilah
    luar biasaa

  19. Karel permalink
    Oktober 30, 2013 11:35 pm

    So smart and briliant..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: