Lanjut ke konten

Dwi Tristi Hartini: Dalang Wayang Kulit ‘Ngisor Pring’

Maret 10, 2011

Dalang wayang kulit Dwi Tristi Hartini, yang terkenal dengan nama Nyi Wiwik Sabdo Laras, saat menerima tamu di rumahnya dengan nada guyon nan tegas mengungkapkan tentang rumah di antara rimbunan pohon bambu hasil jerih payahnya itu. ”Rumah ini seperti profesi saya, dalang ’ngisor pring’ (di bawah pohon bambu),” ujar wanita kelahiran Kudus, 23 Februari 1979 ini.

Selama sekitar 15 tahun mendalang, rumah Dwi relatif sederhana. Bangunannya semipermanen seluas 90 meter persegi. Di ruang tamu ada layar (kelir) ukuran kecil dengan tiga tokoh wayang, yaitu Setiyaki, Aswotomo, dan Bambang Prabukusumo.

Seperti ungkapan ngisor pring, bagi dalang seperti Dwi, yang jiwanya lekat dengan hidup berkesenian, menyandang profesi perempuan dalang tentulah istilah ngisor pring itu bukan tanpa makna. Sebagai perempuan dalang, ia merasa banyak kalangan yang belum melirik kemampuannya.

Karena itu, ia makin bertekad melakoni hidup sebagai dalang sekaligus mendobrak tradisi pedalangan yang dianggap ranahnya kaum lelaki. ”Dunia pedalangan masih beranggapan, perempuan dalang itu seperti timun wungkuk (jelek), hanya sebagai imbuh (tambahan). Perempuan dalang cocoknya main siang, bukan dalang utama pada malam hari. Pandangan itu harus diakhiri.” ujar lulusan SMKI Pedalangan, Solo ini.

Jadi, ngisor pring juga menggambarkan kondisi perempuan dalang yang masih di bawah dominasi lelaki dalang. Bila ada masyarakat meminta dirinya pentas, alasannya hanya dua, yakni ingin tahu kelihaian perempuan mendalang dan karena ia memang pantas menjadi dalang.

Mencari Dwi Tristi Hartini di Dusun Klopo, Desa Bringin, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah—sekitar 20 kilometer arah selatan Kota Semarang—agak sulit. Pasalnya, nama Dwi di desa itu kurang dikenal. Namun, bila mencari perempuan dalang Nyi Wiwik, pasti semua orang di desa itu tahu.

Sebagai dalang, Nyi Wiwik berhasil meraih gelar dalang favorit pada Festival Dalang Wanita yang diselenggarakan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Komisariat Daerah (Komda) Jateng dan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng tahun 2008.

Pesan sang ayah

Di kalangan pedalangan di Ungaran, Salatiga, Boyolali, Kendal, Kota Semarang, dan sekitarnya, Nyi Wiwik tak hanya dianggap sebagai dalang ”pupuk bawang”. Kemenangannya pada festival dalang membuat namanya naik daun. Setelah itu, ia kerap diundang sebagai dalang utama, memainkan wayang kulit semalam suntuk.

Nyi Wiwik pun bertekad agar setiap lakon yang dia bawakan dihargai dan disegani, sebagaimana pesan almarhum ayahnya, Sutrisno Madiyocarito, dalang sesepuh yang banyak mengajar dalang muda di daerah itu.

Kendati namanya relatif dikenal, Nyi Wiwik mengaku tak mematok harga pentas setinggi lelaki dalang. ”Lelaki dalang mematok ongkos pertunjukan sampai Rp 50 juta lebih semalam. Saya belum sebesar itu. Honor mendalang saya kelas medium, terjangkaulah. Bahkan, kalau ada yang mau nanggap dengan bayaran Rp 10 juta komplet, kelompok saya siap,” katanya.

Memainkan wayang kulit secara komplet, ia lebih mengutamakan garapan cerita alternatif atau carangan, di luar cerita wayang klasik yang sudah pakem. Dalam carangan terdapat formasi lawakan, campursari, juga organ tunggal.

Seperti dalang lain, Nyi Wiwik menguasai carangan, seperti Semar Boyong, yang berkisah tentang penculikan Semar, juga cerita pakem alias babonan. Namun sebagai dalang, ia dapat memenuhi permintaan untuk memainkan cerita klasik dan carangan. Bedanya, dalam cerita klasik wayang tidak ada improvisasi, seperti lawakan atau selingan campursari.

Dari pengalamannya, Nyi Wiwik berpendapat, mementaskan wayang kulit dengan garapan cerita alternatif lebih mudah untuk menyampaikan pesan-pesan, seperti tentang pembangunan. Pesan-pesan itu mudah mengalir lewat adegan limbukan, goro-goro, atau lawakan. Dengan cara itu, pesan yang disampaikan mudah dipahami masyarakat penonton.

Nyi Wiwik bercerita, saat belajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Solo, ia sebetulnya ingin mengambil jurusan tari. Namun, ia dilarang ayahnya. ”Saya diminta mengambil jurusan pedalangan,” ujar Nyi Wiwik yang lulus SMKI Solo tahun 1997.

Permintaan ayahnya itu dibarengi pemberian warisan berupa keprak empat biji kuningan (alat dari kuningan, besi atau perunggu, dipijak kaki kiri untuk mengatur ritme pertunjukan) dan tiga wayang kulit berupa tokoh Setiyaki, Cakil, dan Buto.

Kain yang leluasa

Sebagai perempuan dalang, Nyi Wiwik telah memiliki kelompok pendukung yang jumlahnya sekitar 50 orang. Mereka terdiri dari pesinden, penyanyi, dan pemain organ campursari, pelawak, pengrawit, dan peniti sebanyak 6-8 orang.

Peniti adalah pembantu dalang yang tak hanya menyiapkan wayang kulit untuk dijejer di samping kanan-kiri pakeliran, tetapi juga menyiapkan dan membantu mengatur tokoh-tokoh wayang untuk dimainkan dalang.

Setiap tampil, Nyi Wiwik biasanya mendalang selama 8 jam, mulai pukul 21.00 hingga menjelang subuh. Pementasan semalam suntuk umumnya terbagi dalam beberapa pengadegan, seperti jejer sepisan, limbukan, paseban jaba, jejer pindho, perang, goro-goro, pertapan, sanga pindho, jejer manyura, dan perang brubuh.

Ketika sedang mendalang, Nyi Wiwik mengaku tidak leluasa seperti halnya lelaki dalang, dalam berbusana. Bagi perempuan dalang, busana yang dipakai nyaris sama dengan pesinden. Perempuan dalang juga memakai kebaya. Bedanya hanya pada bagian depan kain yang dimodifikasi supaya saat perempuan dalang duduk bersila kain bisa menjadi lebar. Ini diperlukan dalang agar kaki mereka leluasa bergerak, seperti dalam memainkan keprak.

”Biasanya banyak juga penonton yang berada di belakang kelir, dekat posisi saya duduk. Mungkin mereka ingin tahu bagaimana dalang beraksi. Padahal, kain saya kan terbuka lebar, makanya wajib untuk perempuan dalang memakai celana. Kalau tidak, bisa bubar wayang kulitnya,” cerita Nyi Wiwik sambil tertawa.

Di tengah pertarungan dunia pedalangan, munculnya banyak lelaki dalang yang makin agresif dan gemar berimprovisasi, seperti Ki Enthus Susmono (dalang dari Tegal), Ki Warseno ”Slank” dari Solo, dan Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta, menurut Nyi Wiwik, merupakan tantangan sekaligus menumbuhkan inspirasi.

Dia merasa semakin mantap untuk mengembangkan kepiawaian menyabet wayang kulit dan turut langsung melestarikan tradisi wayang kulit di negeri ini.

Sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: