Lanjut ke konten

Syarifuddin Daeng Tutu: Pelestari Seni Tutur Sinrili’ yang Pentas di Dunia

Maret 28, 2011

Sinrili’ telah membawa Syarifuddin Daeng Tutu, pria kelahiran Sungguminasa, Gowa, 28 April 1955 ini melanglang buana. Ia menghibur sambil menyampaikan petuah bijak leluhur dalam sastra bertutur khas budaya Makassar, Sulawesi Selatan. Meskipun sarat pesan moral, kesan serius sirna di balik kejenakaan ayah empat anak ini.

Sinrili’ disampaikan sambil memainkan alat musik gesek, seperti pada biola. Alat musik yang dimainkan sambil duduk bersila ini terbuat dari kayu pohon nangka, kulit kambing, dan dibentangi tiga senar berbahan kuningan. Alat untuk menggesek dibuat dari ekor kuda. Senar dan ekor kuda yang saling bersentuhan menghasilkan bunyi mirip rebab.

Suara Daeng Tutu menyatu dalam lantunan irama musik yang monoton. Ia terdengar seperti orang yang berbicara diiringi musik ketimbang bernyanyi. Sinrili’ biasa dia sampaikan dalam hajatan, seperti perkawinan dan syukuran rumah baru.

Banyak hal dia tuturkan saat menyampaikan sinrili’. Isinya dari falsafah bijak yang diajarkan leluhur hingga mengkritisi kondisi terkini. Kritik sah saja disampaikan lewat sinrili’ mengingat pada masa Kerajaan Gowa empat abad silam, seni bertutur itu menjadi media komunikasi antara raja dan rakyat.

Daeng Tutu memadukan nasihat dan kritik dalam sinrili’. Metode penyampaian yang dulu hanya menggunakan bahasa Bugis-Makassar ia selingi dengan bahasa Indonesia. Ia ingin para pendengar memahami substansi informasi yang disampaikan. Maklum, Daeng Tutu sering membawakan sinrili’ di depan para pejabat yang umumnya tak mengerti bahasa Bugis-Makassar.

Dia juga berani mengubah gaya tradisional para pembawa sinrili’ sebelumnya yang cenderung kaku dan serius. Ia mengolaborasi penyampaian informasi dan kritik lewat gurauan yang kerap membuat penonton tertawa. Inovasi itu bisa mencairkan suasana acara yang dibalut formal sekalipun.

”Sinrili’ bukan sesuatu yang sakral sehingga bisa dilakukan dengan berbagai cara. Jauh lebih penting para hadirin mengerti pesan yang disampaikan,” ujar Staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gowa dan Pengisi materi di Laboratorium Tari Institut Kesenian Jakarta sejak tahun 2000 ini.

Ciri khas itu belakangan membawa berkah bagi Daeng Tutu. Ia kerap dipercaya menjadi pembawa acara. Dalam peresmian kantor baru Komisi Pemilihan Umum Kota Makassar beberapa waktu lalu, misalnya, ia membawakan acara dengan sinrili’. Acara itu berlangsung jauh dari kesan normatif. Sikapnya yang sesekali usil mengkritisi kebijakan pemerintah mengundang tawa hadirin, termasuk pejabat publik.

Pengaruh kakak

Kemampuan bermain sinrili’ Daeng Tutu dipengaruhi kakaknya, mendiang Sirajuddin Daeng Bantang, maestro sinrili’ yang meninggal dunia 2010. Saat masih duduk di bangku SMP, Daeng Tutu sering menemani sang kakak mementaskan sinrili’.

”Saya mulai tertarik sinrili’ dan selalu meminjam alat kakak untuk berlatih,” ujar suami dari Wahidah Daeng Cora ini.

Ia kian bersemangat menguasai sinrili’ karena pamannya, Syamsuddin Daeng Sirua, juga andal memainkan alat musik gesek itu. Lingkungan ini mendukung langkah Daeng Tutu untuk mempelajari sinrili’ otodidak. Ia lantas bergabung dengan sanggar seni yang didirikan kakaknya di Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, pada 1980.

Saat ditetapkan menjadi pegawai negeri sipil tahun 1983, ia bertugas sebagai staf media pertunjukan rakyat tradisional di Departemen Penerangan Gowa. Kondisi ini memungkinkannya berkiprah lebih jauh mendalami sinrili’.

Perpaduannya dengan Sirajuddin Daeng Bantang menghasilkan berbagai terobosan baru dalam pementasan sinrili’. Tahun 1988, Daeng Tutu tampil dalam acara Asian Art Festival di Hongkong. Ia mementaskan sinrili’ bersama pertunjukan tari dan musik kontemporer.

Lima tahun berselang (1993) dalam pertemuan teater se-Indonesia di Makassar, ia menyuguhkan sinrili’ yang berkisah tentang Karaeng Pattingalloang, cendekiawan Kerajaan Gowa. Pertunjukan itu berlangsung meriah karena disertai drama yang mengisahkan kiprah Karaeng Pattingalloang.

Keberaniannya mengemas sinrili’ secara modern mengundang perhatian seniman di Eropa. Pada tahun yang sama (1993) ia tur keliling Eropa. Daeng Tutu diminta menyuguhkan sinrili’ di beberapa negara Eropa, seperti Jerman, Swiss, Perancis, dan Austria. Di belahan Benua Eropa itu, Daeng Tutu dan kawan-kawan mengenang kehebatan Karaeng Pattingalloang yang pada pertengahan abad ke-17 telah menguasai lima bahasa.

Ia juga pentas dengan Mencari keberadaan etnis Makassar dalam Suku Aborigin di Australia pada tahun 1996.

Tahun 2005, Daeng Tutu tampil di Capetown, Afrika Selatan, tempat Syekh Yusuf dimakamkan. Di sini ia menceritakan sosok Syekh Yusuf dan kisah perjalanannya menyebarkan agama Islam dari Gowa hingga mancanegara.

Di kancah nasional, kiprah Daeng Tutu dalam memperkenalkan sinrili’ mungkin tak terhitung lagi jumlahnya. Ia kerap didaulat artis Nungki Kusumastuti untuk berbicara mengenai sinrili’ di laboratorium tari Institut Kesenian Jakarta. Saat berbicara di hadapan para mahasiswa, ia sering mengungkapkan keprihatinannya terhadap kelangsungan sinrili’.

Dari 20 anak muda binaannya di sanggar seni Sirajuddin, hanya segelintir yang berminat menekuni sinrili’. ”Mereka pun sekadar bisa memainkan sinrili’, tetapi tidak bisa sambil bertutur. Jika akhirnya terbentur kendala bertutur, biasanya mereka malas melanjutkan (sinrili’),” kata Daeng Tutu.

Itulah mengapa saat ini sinrili’ terancam punah. Apalagi, masyarakat pada umumnya cenderung lebih senang menggunakan jasa organ tunggal dalam hajatan mereka. Proses regenerasi yang terus diperjuangkan Daeng Tutu hingga kini belum terwujud.

”Buat saya, ini menjadi tantangan terbesar. Saya berharap salah satu anak saya mau menekuni sinrili’,” ujar lelaki yang menjadi satu-satunya pasinrili’ (pemain sinrili’) aktif di Sulsel.

Tantangannya semakin berat karena pemerintah kurang berkomitmen terhadap pelestarian kebudayaan tradisional. Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah tak pernah lagi menyelenggarakan festival budaya secara rutin.

”Kesenian tradisional kian terasing di rumahnya sendiri. Generasi muda terpukau dengan pertunjukan yang semata mengedepankan estetika dibandingkan etika,” ungkap pria yang berencana tetap menjadi pasinrili’ setelah pensiun nanti.

Sumber: Kompas

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: