Lanjut ke konten

Octorotor: Pesawat Pengintai Tanpa Awak Buatan STEI ITB

Juni 2, 2011

Tindak kejahatan pencurian, khususnya sepeda motor, terus meningkat. Setiap hari, tak kurang dari sepuluh sepeda motor di Jakarta dicuri. Menurut polisi, wilayah Jakarta Pusat paling rawan oleh tindak kejahatan macam itu.  Hal yang mengkhawatirkan, tren tindak kriminal ini pun terus merambat naik.

Nah, pesawat pengintai karya mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini mungkin bisa menjadi solusi yang dinanti polisi. Namanya Octorotor UAV for Visual Target Tracking, heli supermini yang didesain untuk mengikuti dan memantau satu obyek atau sasaran secara terus-menerus dari udara. Tim khusus mahasiswa Jurusan Elektro Kendali, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB memang merancangnya jadi pesawat pengintai tanpa awak.

Pesawat heli berdiameter sekitar 40 cm ini merupakan gabungan dari image processing dan kendali pesawat. “Gambar dihasilkan oleh kamera yang ada di bagian depan pesawat, digunakan untuk mengendalikan pesawat,” ujar Noviantoro Sadewo, salah satu pembuatnya, pada acara STEI Students Innovation Expo di Auditorium Campus Center Timur ITB Bandung pada 9 Mei 2011.

Dia menjelaskan, terlebih dulu kamera berukuran sekitar 5 cm itu mengambil gambar objek, kemudian disimpan di database. Pesawat pengintai yang berada di atas obyek terus mengintai sambil mencocokkan fitur targetnya.

Noviantoro menjelaskan bahwa nama octorotor dipilih karena pesawat heli ini punya delapan baling-baling. Empat baling-baling panjang berputar ke kanan, sedangkan sisanya yang lebih pendek berputar ke arah kiri. Model putaran baling-baling macam itu untuk menjaga keseimbangan. Selain itu, getaran badan pesawat jadi lebih minim sehingga tidak mengganggu fungsi kamera.

“Hal ini supaya pesawatnya seimbang. Tidak hanya berputar ke kanan atau ke kiri saja sehingga terbangnya menjadi stabil,” jelas mahasiswa S2 Jurusan Kendali Elektro itu. Noviantoro menjelaskan, pesawat dengan delapan baling-baling jauh lebih kuat.

Awalnya tim Octorotor membuat pesawat dengan empat baling-baling, namun hanya bisa mengangkat beban seberat 1 kg. Sedangkan dengan delapan baling-baling bias mengangkat beban 2 kg.

“Selain itu menggunakan delapan baling-baling kalau salah satunya rusak, masih ada 7 baling-baling. Jadi pesawat masih bisa bertahan, kalau hanya 4 baling-baling pesawat langsung jatuh,” tuturnya.

Sambil menunjukkan setiap detail pesawat, dia mengatakan, kendali pesawat yang menyerupai gurita ini memiliki pusat kendali di bagian atasnya, yang ditutupi plastik transparan yang terdiri dari navigasi, GPS, kompas, dan flight control sehingga kemiringannya bisa dikendalikan sekitar 15 derajat. Ia dilengkapi chip yang bisa diisi gambar obyek yang akan dikuntit. Selain itu, octorotor dipasangi global positioning system untuk mengenali medan.

Cara kerja alat ini cukup sederhana. Pada ketinggian maksimal 70 meter, robot terbang ini mencari target melalui kamera yang terpasang di bagian depan. Setelah menemukan buruan, octorotor lalu menguncinya. Setelah itu, dengan otomatis, jika target bergerak, octorotor membuntutinya. Melalui gelombang radio, gambar objek dikirim ke layar pengendali.

Untuk pengoperasiannya, pesawat ini tidak menggunakan remote control, namun saat take off dan landing masih menggunakan remote control. “Teknologi kami belum sejauh itu, takutnya kalau tidak menggunakan remote saat landing pesawat malah hancur,” ucapnya.

Bekerja sama dengan LAPAN, pesawat yang dibuat tahun 2010 ini selesai dalam waktu sekitar delapan bulan. Dikerjakan oleh 6 mahasiswa, pengerjaannya meliputi image processing, permodelan, aerodynamic, dan navigasi. Dengan prinsip kerjanya tersebut, pesawat ini bisa dikembangkan untuk kegiatan dunia militer. Namun perlu pengembangan lebih lanjut, baik dari teknologi maupun bentuknya. “Semuanya masih bisa dikembangkan, karena kami saat ini masih dalam proses penelitian,” imbuhnya.

Sumber: SeputarIndonesia, TEMPOinteraktif

2 Komentar leave one →
  1. Juni 6, 2011 11:35 am

    Indonesia memang sip deh! Tidak kalah teknologinya sama negara lain!

  2. dimas permalink
    Maret 20, 2012 11:35 am

    jika saya boleh usul,bagi robot itu, jika ingin tdk memakai remot saat take off / landing, pakai saja lah sensor pantulan suara, jika pesawat itu turun dng ketinggian tertentu maka baling” akan turun kecepatan nya, sehingga aman saat turun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.224 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: