Lanjut ke konten

Perahu Kayu Buatan ITS Diminati Kalangan Asing

Juli 26, 2011

Tim ITS Maritime Challenge diskusikan kerangka Kapal Merdeka III, usai "Keel Laying" di Bengkel Non-Metal PPNS ITS (25/7).

Nenek moyang Indonesia terkenal sebagai pelaut ulung dunia. Mereka membuat kapal kayu dan mengarungi samudera luas. Kita tentunya kenal dengan Phinisi yang legendaris. Tak hanya sebagai pelaut andal, bangsa ini juga piawai dalam membuat perahu atau  kapal kayu.

Perahu kayu buatan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang mengikuti ajang bahari internasional “Atlantic Challenge” sejak 2002 hingga kini selalu diminati kalangan asing.

Beberapa prestasi yang berhasil diraih itu antara lain Penobatan Kapal Merdeka I sebagai kapal tercantik di Marine USA pada tahun 2001, Trophy of Spirit pada tahun 2002, dan menjadi satu-satunya perwakilan negara Asia Pasifik pada Atlantic Challenge 2004 di Toulouse Perancis.

Sejak 2006, tim Maritime Challenge ITS kemudian mulai membawa misi budaya pada setiap perlombaan internasional yang diikutinya. Mulai dari memperkenalkan Golekan, kapal tradisional indonesia pada Atlantic Challenge di Genoa Italia, hingga memperkenalkan tari remo pada Atlantic Challenge 2008 di Finlandia, dan pada tahun 2010 di Canada.

“Tahun 2010, tim Maritime Challenge (MC) ITS menggunakan Kapal Merdeka II yang diberi nama Kapal ‘Garuda Nusantara’ yang akhirnya dibeli Yayasan Atlantic Challenge untuk kapal percontohan dalam berbagai workshop di AS,” kata pakar kelautan & Pembina Tim MC ITS, Prof DR Daniel M Rosyid (25/7).

Oleh karena itu, tim MC ITS membuat Kapal Merdeka III untuk mengikuti ajang serupa di Irlandia pada 24-31 Juli 2012 yang mulai dirancang sejak Maret 2011.

“Kapal yang dirancang dengan teknologi laminasi bambu itu juga sudah ditawar untuk dibeli oleh tim dari Belanda dan Belgia. Tapi kami belum memutuskan, karena adik-adik mahasiswa masih fokus pada pengerjaan perahu dan persiapan tim lomba,” ujarnya.

Menurut Daniel, Kapal Merdeka I yang mengikuti ajang serupa sejak 2002 juga mendapatkan penghargaan sebagai perahu kayu tercantik dengan tim yang sportif dan memiliki “spirit” pun masuk ke Museum Kanada.

Kapal Merdeka II sendiri dibeli Yayasan Atlantic Challenge senilai 35 ribu dolar AS yang akhirnya digunakan untuk memberangkatkan tim MC ITS pada lomba kebaharian atau kepelautan di Irlandia pada 2012.

Hal serupa juga terjadi pada Kapal Merdeka III. “Kalau laku pun hasilnya akan kami gunakan memberangkatkan tim pada lomba serupa pada tahun 2014, sedangkan bantuan sponsor akan kami gunakan pengerjaan kapal itu sendiri,” jelas Daniel.

Tentang teknologi laminasi bambu, Daniel mengaku bambu dijadikan alternatif, karena kayu semakin sulit dicari dan harganya pun mahal. Apalagi kandungan serat bambu juga lebih bagus sehingga kapal akan lebih kuat.

“Dengan dukungan lem dari rekanan dari perusahaan Jepang di Probolinggo, kami sudah menggunakan laminasi bambu untuk tiang kapal. Dan untuk lomba kebaharian internasional 2012 akan kami gunakan untuk tempat duduk penumpang,” katanya.

Senada dengan Daniel, Kepala Laboratorium Perkapalan PPNS ITS Surabaya, Putu Arta Wibawa, menegaskan bahwa kapal yang terbuat dari fiberglass yang dibuat mahasiswa ITS untuk praktik juga banyak diminati pembeli lokal.

“Kami sudah pernah melayani pesanan kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan RI sebanyak tiga unit untuk operasi di wilayah terdepan Indonesia di Ternate dan Irian,” ujarnya.

Sumber: Republika.co.id, its.ac.id

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: