Skip to content

Bilwan & Kemal Ciptakan Alat Pengering dari Rongsokan Untuk Petani

Agustus 3, 2011

Bawang merah, cabai, jamur, dan parutan kelapa itu sudah mengering. Dengan terbungkus plastik, bahan-bahan tersebut dijajarkan rapi di atas meja.

Beberapa menit lalu, hasil bumi itu baru dikeluarkan dari lemari es kecil, yang berada di belakang meja. Hawa hangat masih menyeruak dari benda yang catnya sudah terlihat lusuh. Sang lemari es tersebut memang tidak dioperasikan sebagai pendingin.

Barang itu sebenarnya sudah tidak dipakai lagi, alias telah menjadi rongsokan. Namun, barang yang sebelumnya tidak berguna itu kini diubah fungsinya, menjadi pemanas. Sebuah alat pengering dengan teknologi pengaliran air dingin.

Kulkas, sebutan lain barang itu, berukuran 60 x 60 sentimeter. Di dalamnya ada lampu bertenaga 40 watt, filamen kulkas yang masih dipertahankan, serta kipas bekas komputer. Inilah kreasi dua anak muda yang kini mengembangkan usaha di Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah.

Mereka adalah Bilwan Feriyanto dan Julian Kemal Pasha, yang tidak berpangku tangan ketika petani dirundung masalah. Pengering murah mereka persembahkan dari barang-barang bekas.

Selama tiga bulan terakhir, keduanya memanfaatkan barang-barang bekas yang dikemas menjadi alat pengering. Iwan mengaku pengerjaan alat pengering itu dikebut dalam tiga bulan terakhir. Perangkat itu terbuat dari bahan-bahan rongsokan yang dipadukan dengan menggunakan air dingin.

“Awalnya iseng saja, karena di daerah ini hujan terus turun. Bahkan, pada musim kemarau pun hujan sudah biasa turun di sini,” jelas Bilwan. Dari kondisi itu, muncul ide untuk membuat alat pengering sederhana dengan memanfaatkan barang-barang bekas.

Bilwan tidak sendiri. Ia menyapa sahabatnya Kemal, yang mengerti soal-soal teknik. Keduanya sepakat untuk membuat alat pemanas pertanian. Proyek kecil-kecilan itu bergulir. Dalam benak Bilwan, ia sangat ingin membantu warga di sekitar Baturraden, yang kebanyakan adalah petani.

Jika alat pengering berhasil diciptakan dengan harga murah, warga Baturraden akan terbantu. Karena itu, alat difokuskan untuk pengeringan bahan-bahan hasil pertanian. Petani di Baturraden sering dihadapkan pada masalah sulitnya mengeringkan hasil pertanian seperti gabah, sayuran, cabai, dan jamur.

Penyebabnya, Baturraden adalah kawasan yang sering didatangi kabut dan penyinaran matahari selalu kurang terik. Hujan pun sering datang. Praktis, untuk mengeringkan gabah butuh waktu minimal tiga hari. Padahal, di daerah lain dengan terik matahari baik, hanya butuh waktu 3 jam untuk mengeringkan gabah di halaman.

Di Baturraden juga banyak petani yang menanam sayuran. Pada saat produksi banyak, mereka sering mengeluh karena sebagian hasil panen membusuk. Mereka tidak bisa menyimpan.

“Keluhan-keluhan inilah yang kemudian kami jawab dengan membuat alat pengering. Alat ini untuk petani,” tambah Bilwan.

Sederhana

Sang teknisi, Kemal, menjelaskan bahwa mekanisme pengeringan dengan memadukan berbagai macam barang rongsokan tersebut sebetulnya cukup sederhana. “Kulkas bekas yang sudah tidak berguna dipilih karena ruangan di dalamnya cukup rapat,” ujarnya.

Kemudian, filamen-filamen di dalam kulkas yang biasanya diisi CFC atau freon digantikan dengan menggunakan air dingin. Untuk pemanasnya cukup dengan memakai lampu 40 watt. Sinar yang dihasilkan lampu mampu membuat suhu ruangan di dalam kulkas menjadi hangat.

Selain itu, Kemal juga menggunakan kipas-kipas komputer yang sudah tidak terpakai untuk menyedot udara keluar dari ruangan kulkas. Prinsip dasar pengeringan sebetulnya hanya menciptakan kelembapan seminimal mungkin. Oleh karena itu, alat yang dibuat menghasilkan panas yang tidak terlalu tinggi suhunya.

Mekanisme kerja pemanas ini sangat sederhana. Air dingin dialirkan melalui filamen-filamen kulkas bekas. Dengan perbedaan suhu, antara air dengan ruangan, akan menghasilkan uap atau embun. Udara yang mengandung air kemudian disedot dengan menggunakan kipas, sedangkan air yang masuk ke filamen akan terbuang.

Hasil buangan air itu cukup bersih dan airnya hangat. Air buangan yang juga tetap bersi itu bisa dimanfaatkan sebagai air panas untuk mandi. Selain pemanas ukuran kecil, Kemal juga telah membuat alat pengering yang lebih rapi, yakni besi siku dan penutup dari terpal dengan ukuran 1,2 x 1,2 meter dengan tinggi 2 meter.

Bahan lain yang dipakai adalah AC bekas dan pemanas dari kompor. Pemanas ini berukuran lebih besar sehingga akan lebih cocok untuk mengeringkan padi. Apalagi di dalam alat itu juga telah dilengkapi dengan alat pengukur suhu dan kelembapan. “Alat ini mampu mengeringkan gabah dalam waktu 12 jam,” imbuh Kemal.

Kreativitas kedua anak muda itu ternyata sudah terdengar ke sejumlah pemangku kepentingan di Banyumas. Salah satunya sejumlah petinggi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Staf ahli Penelitian dan Pengembangan Bappeda Banyumas Dekan Jaya, misalnya, menyatakan ide kreatif kedua pemuda itu akan sangat berguna bagi petani. Ia mengakui, di Baturraden, pengeringan menjadi persoalan besar yang menghadang para petani. Beban petani makin berat saat musim penghujan datang. 

Sumber: mediaindonesia.com

3 Komentar leave one →
  1. rifi permalink
    Januari 19, 2012 11:35 pm

    Kreatif nih! Bisa dicoba. Maju terus karya anak bangsa.

  2. hendra permalink
    Oktober 30, 2015 11:35 pm

    apakah ada no kontak yang bisa saya hubungi terkait pemesanana produk pengering sayuran tersebut

Trackbacks

  1. Bilwan & Kemal Ciptakan Alat Pengering dari Rongsokan Untuk Petani | 1SJA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: