Lanjut ke konten

Di Bali, Kotoran Gajah Diolah Jadi Kertas

Desember 1, 2011

kertas dr kotoran gajah di indonesiaproud wordpress com

Di setiap kebun binatang atau taman safari, pada umumnya, gajah hanya bertugas sebagai tontonan atau penghibur. Gajah bisa ditunggangi untuk berjalan-jalan, melakukan atraksi, atau sekadar dipegang. Di Bali, gajah punya tugas tambahan, yaitu menyediakan kotorannya untuk dijadikan kertas daur ulang.

Konsep unik ini merupakan kegiatan baru di Bali Safari and Marine Park di Kabupaten Gianyar, Bali. Sejak 5 November 2011, kebun binatang milik PT Taman Safari Indonesia ini meresmikan Safari Poo Paper Factory atau pabrik kertas dari kotoran satwa.

”Pabrik kertas” tersebut berupa bangunan seluas 50 meter persegi di Kampung Gajah, sebuah area konservasi gajah di kebun binatang tersebut. Bangunan tersebut tidak tertutup tembok sehingga pengunjung dapat dengan mudah mengamati proses pembuatan kertas.

Di ujung bangunan terdapat tumpukan kotoran gajah yang baru saja dikumpulkan. Tampak menjijikkan dan bau. Namun, dari tumpukan kotoran gajah itulah semua proses pembuatan kertas daur ulang dimulai.

General Manager Bali Safari and Marine Park, Hans Manansang mengatakan bahwa kotoran gajah sangat tepat digunakan sebagai bahan kertas karena mengandung banyak serat. Gajah terbiasa makan tanaman dan buah, sedangkan proses pencernaannya tidak sempurna.

”Sebanyak 30 persen makanannya tidak dapat dicerna dengan baik. Itu yang kami manfaatkan,” kata Hans. Untuk menghasilkan serat yang bagus, gajah-gajah itu diberi makan rumput gajah.

Bali Safari memiliki 30 ekor gajah. Seekor gajah setiap hari dapat memakan hingga 250 kilogram (kg) makanan dan menghasilkan kotoran sebanyak 50 kg. Apabila satu ekor gajah dapat menghasilkan 100 lembar kertas setiap hari, kertas yang didapat dari seluruh gajah di kebun binatang itu bisa mencapai 3.000 lembar per hari.

Hans mengklaim pembuatan kertas daur ulang berbahan kotoran gajah ini merupakan yang pertama di Indonesia. Ke depan, Bali Safari terus meneliti dan mencari tahu apakah kotoran hewan lainnya juga bisa diolah menjadi kertas.

Daur ulang kertas dengan kotoran gajah ini sebenarnya sudah dikembangkan di Thailand. Sementara di Indonesia baru dikembangkan pembuatan kertas daur ulang dari kotoran kuda oleh siswa SMA Muhammadiyah I Babat, Lamongan, Jawa Timur (Kompas, 12 Agustus 2011).

Proses Pembuatan

Untuk membuat kertas, kotoran gajah dijemur dulu selama satu hari jika cuaca panas. Kotoran tersebut kemudian dicuci sampai bersih dan direbus selama 30 menit. ”Dengan direbus, kertas yang dibuat nantinya tidak bau dan tidak mengandung kuman sehingga aman digunakan,” kata Eva Nurdiah, konsultan proyek daur ulang kertas itu.

Setelah direbus, kotoran tersebut dicuci lagi lalu dihancurkan dengan mesin blender supaya serat lebih halus. Bahan itu kemudian siap dicampurkan dengan bubur kertas yang dibuat dari kertas bekas. Dari 500 gram kotoran ditambah potongan kertas bekas sebanyak dua baskom berdiameter 30 sentimeter, akan dihasilkan sekitar 20 lembar kertas.

Bahan yang sudah tercampur itu pun siap dicetak dengan menggunakan teknik sablon seperti proses daur ulang kertas pada umumnya. Bubur kertas disaring dengan menggunakan screen (alat sablon berbentuk persegi panjang dengan kain khusus) di atas kanvas. Hasil cetakan itu kemudian dijemur selama 3-4 jam.

Kertas yang telah jadi bertekstur kasar dengan serat-serat berwarna coklat. Kertas itu pun tidak berbau dan sangat kuat. ”Kotoran gajah itu menambah kesan artistik. Kertas yang jadi ini sangat cocok untuk dibuat sebagai suvenir,” kata Eva.

Hans menambahkan, kegiatan pembuatan kertas daur ulang ini hanya sekadar sarana edukasi dan bukan pembuatan kertas daur ulang secara massal untuk dijual. ”Kami hanya ingin menunjukkan bahwa kotoran bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semoga masyarakat dapat terinspirasi,” katanya.

”Pabrik kertas” itu diharapkan menjadi daya tarik baru di Bali Safari. Pengunjung bebas melihat proses produksi kertas bahkan boleh mencoba membuatnya sendiri.

Terlepas dari kegunaan produk kertas daur ulang ini, Bali Safari telah mampu menunjukkan bahwa ada satu lagi nilai tambah dari sebuah program konservasi satwa. Sebuah program kecil yang seharusnya dapat menginspirasi kebun binatang lain di Indonesia untuk lebih maju.

Sumber: kompas.com

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: