Lanjut ke konten

Sjaffriadi & Nugroho Adi Sasongko dari BPPT Ciptakan Kompor Berbahan Bakar Jelantah

Maret 24, 2012

kompor jelantah di indonesiaproud wordpress comAda kabar baik buat ibu rumah tangga atau pedagang gorengan. Dua orang peneliti dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil menciptakan kompor yang bahan bakarnya dari minyak sisa menggoreng alias jelantah yang biasanya cuma dibuang ke tempat sampah.

Api yang keluar dari kompor ini sebiru api kompor gas, panasnya pun tak kalah, bisa mencapai 1.200 derajat Celsius.

Kompor berbahan bakar jelantah ini hasil inovasi Sjaffriadi dan Nugroho Adi Sasongko. Keduanya adalah peneliti Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT di Jakarta.

Mereka menyebut kompor itu sebagai kompor tekan multifuel, yakni kompor tekan yang menggunakan bahan bakar minyak nabati atau minyak goreng bekas.

Bentuknya mirip kompor minyak tanah, tapi memiliki dua tangki bahan bakar. Tabung pertama untuk minyak tanah, dan tabung kedua sebagai wadah minyak nabati, bahan bakar utama kompor.

Kompor berdimensi panjang 30 sentimeter, lebar 30 sentimeter, dan tinggi 60 sentimeter ini dilengkapi konverter, alat yang berfungsi mengubah sifat fisik minyak nabati menjadi bahan bakar gas.

Bahan bakar gas hasil konversi inilah yang selanjutnya dibakar menggunakan alat pembakar gas (burner) yang terpasang menjadi satu bagian dengan konverter. “Kompor tekan ini mampu menghasilkan nyala api biru,” kata Sjaffriadi.

Menurut Sjaffriadi, kompor yang sudah didaftarkan hak patennya ini sebenarnya cukup luwes dalam hal bahan bakar. Bukan hanya jelantah, minyak nabati murni, seperti minyak kelapa sawit dan minyak jarak, juga bisa digunakan, termasuk pelumas bekas mesin atau motor.

“Kalau ingin diisi minyak dari fosil juga bisa, seperti solar, minyak diesel, minyak tanah, dan minyak bakar,” katanya.

Kompor tekan ini juga dirancang untuk mengatasi kelemahan minyak nabati yang membutuhkan temperatur tinggi dan mempunyai tingkat kekentalan (viskositas) tinggi bila dibanding bahan bakar jenis lain. Kompor ini mampu meningkatkan efisiensi penggunaan minyak nabati hingga 60 persen.

Keunggulan lain kompor ini adalah pengoperasiannya yang sederhana, mirip kompor minyak tanah yang biasa digunakan masyarakat.

Risiko meledak seperti apa yang kerap terjadi pada kompor gas elpiji juga tidak ada. Perawatannya pun mudah, irit bahan bakar, dan ramah lingkungan.

Tak hanya memasak, kompor tekan buatan Sjaffriadi juga dapat digunakan sebagai alat pengering hasil pertanian, pemanas ruang untuk sterilisasi pembenihan jamur, dan pemanas ruang pembenihan ikan.

Di luar peruntukan konsumsi, kompor tekan ini pun digunakan sebagai alat pembakar pada industri keramik, gerabah, tekstil, dan industri lain yang memerlukan alat pembakar.

Untuk menguji kompor ini, 15 unit kompor tekan berbahan bakar jelantah buatan BPPT ini telah diserahkan ke Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) Kota Bekasi, Jawa Barat, 21 Februari 2012. Selama 2011, Sjaffriadi dan Nugroho telah membuat 24 unit kompor tekan.

Kompor tekan multifuel ini digunakan sebagai kompor pendamping kompor elpiji oleh sejumlah penjual gorengan dan pengelola rumah makan di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

“Juragan Masyarakat Penjual Gorengan yang memiliki 500 gerobak di daerah Bekasi sudah siap membeli dan memakai kompor tekan multifuel,” kata Sjaffriadi.

“Mereka ingin gorengan buatan mereka lebih higienis sekaligus mengantisipasi kenaikan harga dan kelangkaan elpiji.”

Meski tahu dan tempe goreng yang dijual para pedagang yang tergabung dalam Kopti lebih higienis berkat kompor tekan BPPT, kemampuan kompor itu ternyata masih memiliki beberapa kelemahan.

“Kompor ini belum efektif dioperasikan untuk tukang gorengan, nyala apinya biru tapi kurang besar dan kurang panas, jadinya lama dan kurang bagus untuk gorengan,” kata Burhanudin, Ketua Asosiasi Penjual Gorengan Kota Bekasi, kemarin.

Burhanudin menduga nyala api kompor kurang maksimal karena ukuran lubang burner kurang besar dan tekanan gas tabung terlalu rendah. “Tekanannya seperti tekanan kompor rumah tangga saja,” ujarnya.

Padahal, untuk memasak gorengan, harus digunakan kompor yang memiliki nyala api besar dengan suhu tinggi. Dengan nyala api besar dan panas, penjual gorengan bisa memasak gorengan lebih banyak dan lebih cepat.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Burhanudin menilai kompor tekan jelantah dapat menjadi solusi alternatif bagi para penjual gorengan. Selain gampang dioperasikan, kompor tekan jelantah bisa menghemat biaya produksi.

“Tentu lebih irit kalau pakai minyak jelantah dibanding kompor gas elpiji,” kata ketua asosiasi yang memiliki 500 anggota ini.

Dia mencontohkan, seorang penjual gorengan rata-rata menghabiskan dua tabung elpiji 3 kilogram setiap hari. Jika menggunakan jelantah, mereka cukup menghabiskan 3 liter setiap hari. Mereka pun tidak perlu repot mengeluarkan duit tambahan, karena jelantah diperoleh dari minyak sisa menggoreng.

Menurut Burhanudin, kinerja kompor tekan jelantah pasti akan lebih maksimal jika sudah disempurnakan nyala apinya.

Pada saat yang sama, dia berharap pemerintah segera melakukan sosialisasi tentang penggunaan minyak goreng dan manfaat jelantah untuk bahan bakar kompor.

“Minyak goreng itu cuma bisa dipakai maksimal dua kali untuk menggoreng, sesudah itu tidak boleh dipakai lagi. Lalu minyak goreng sisa itu bisa digunakan untuk bahan bakar kompor,” kata Burhanudin.

Sumber: koran.tempo.co

3 Komentar leave one →
  1. Maret 25, 2012 11:35 am

    Inovasi yang sangat di tunggu2 dimana sekarang2 ini BBM lagi mau naiik, kyknya gas juga naik (tentunya naik harganya.)

    hmm, sudah di produksi masal?
    kalau belum, saya ingin mencoba membuatnya, bagaimana yah?

  2. afit permalink
    April 16, 2012 11:35 am

    Harganya berapa? Saya mau beli 3 buat mamah.

  3. murlia ungil permalink
    Mei 20, 2015 11:35 am

    bisa ajarin saya cara membuat kompor m.jlntah in tpi yg sdrhna saja . buat lomba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: