Skip to content

Paragita UI Raih Special Awards di Béla Bartók 25th International Choir Competition & Folklore Festival, Hungaria

Agustus 14, 2012

bela bartok di indonesiaproud wordpress com

paragita ui di indonesiaproud wordpress comPaduan Suara Mahasiswa “Paragita” Universitas Indonesia (UI) mendapatkan special awards pada kompetisi Béla Bartók 25th International Choir Competition & Folklore Festival di Debrecen, Hungaria yang berlangsung pada 26-30 Juli 2012.

Paragita UI dihadiahi penghargaan khusus ‘Outstanding interpretation of Agnus Dei by Peter Tóth’ atau penghargaan atas interpretasi lagu wajib terbaik. Lagu karya komposer Hungaria ini dinyanyikan pada babak semifinal untuk kategori mixed choir (kategori suara campuran).

Paragita UI bersaing dengan 12 paduan suara dari 9 negara lain, yakni Moldova, Hungaria, Ukraina, Bulgaria, Jerman, Rusia, Filipina, Amerika Serikat, dan Latvia.

Indonesia sendiri menempatkan dua wakilnya di ajang ini, yakni Paragita UI dan Paduan Suara Gracioso Sonora Malang, Jawa Timur.

Pada kompetisi ini, Paragita UI memang belum mendapatkan nomor utama. Meski demikian, Paragita UI tetap tampil menarik dan memberi nuansa tersendiri. Apalagi baru kali ini paduan suara Indonesia menginjakkan kaki di panggung kompetisi tersebut.

Sebagai hasil akhir, Paragita UI mendapatkan nomor urut keempat untuk kategori choirs of equal voices (kategori untuk suara wanita) dengan nilai 73,7 dan mixed choir dengan nilai 80,9.

Secara khusus, Maruli Tua Sagala, Duta Besar Indonesia untuk Hungaria,  mengatakan bahwa kehadiran Paragitadi kompetisi tersebut telah menanamkan kesan yang baik dan secara tidak langsung telah memperkenalkan Indonesia kepada pengunjung dari belasan negara yang hadir.

Dubes beserta staf KBRI pun setia menemani kontingen Indonesia selama babak semifinal dan final pada 27 dan 28 Juli di Kölcsey Hall, Debrecen.

“Saat ikut menonton saya melihat banyak penonton yang antre menunggu penampilan Paragita UI, itu menandakan kehadiran kalian ditunggu-tunggu. Terima kasih sudah memberi kesan yang baik kepada masyarakat Hungaria,” ujar Maruli Tua.

Selain berkompetisi, Paragita UI juga menggelar konser budaya di istana era Raja Austria-Hungaria, King Joseph I dan Queen Elisabeth (Sissi) di Royal Palace of Gödöllö, Hungaria 1 Agustus lalu.

Sekitar 350 orang penonton yang merupakan undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Hungaria dan warga sekitar yang hadir, antusias menyaksikan paduan suara beranggotakan 45 penyanyi ini.

Adapun wakil Indonesia lain asal Malang-Jawa Timur yang mengikuti kompetisi ini, yaitu Gracioso Sonora (GS) Choir pimpinan Budi Susanto Yohanes tidak berhasil melaju ke babak final di satu-satunya kategori yang diikuti. GS harus tersisih bersama tiga paduan suara lain asal Belgia, Rusia dan Hungaria di babak semifinal.

“Kita sih harapannya memang tampil bener aja, enggak nargetin apa-apa,” ujar Budi sebelum pengumuman kontestan yang lolos ke babak final.

Meski demikian Budi menilai beruntung dapat berkompetisi bersama kompetitor yang hebat. Menurut Budi, kompetisi ini memberikan pengalaman berharga dan wawasan baru tentang paduan suara.

Hal senada juga diungkapkan Asisten Pelatih Paragita UI Barkah Adji Kasyono. “Kalau dipikir-pikir ya boleh dibilang kalah, tapi kita beruntung berkompetisi di sini sama mereka, kompetisi yang berat,” ujar Adji berbesar hati.

Aning mengaku perjalanan ke Hungaria dengan segala aktivitas baik kompetisi dan konser merupakan pengalaman berharga.

“Banyak pelajaran di sini, banyak yang bisa diambil manfaatnya, kita juga disini tidak lupa berterima kasih dengan KBRI yang sudah banyak memfasilitasi,” tutur ibu dari dua orang anak ini.

Menurut Aning salah satu tingkat kesulitan kompetisi ini adalah jenis lagu yang diperlombakan. “Interpretasi lagu kontemporer atau modern itu lebih luas karena pakemnya tidak ada. Itu kesulitan dalam membawakan lagu-lagu modern,” ujarnya.

Aning pun berharap suatu saat dapat kembali lagi ke Hungaria. “Mudah-mudahan kedepannya kita bisa kembali kesini dengan prestasi yang lebih baik. Debrecen itu kompetisi yang bisa dibilang berat, kalau kita bisa membuktikan disini kan baik,” ujar Aning optimistis.

Selain Paragita UI, paduan suara lain yang mendapatkan penghargaan khusus adalah Paul D Head (University of Delaware Chorale, USA), Edgardo L Manguiat (University of the Philippines Singing Ambassadors), dan Nemes Jozsef (Lautita Children’s Choir, Hungary), masing-masing mendapatkan penghargaan sebagai conductor terbaik.

Kompetisi Béla Bartók merupakan salah satu anggota dari ajang EGP, kompetisi tertinggi untuk paduan suara di dunia. Kompetisi ini sendiri merupakan gabungan dari beberapa penyelenggara kompetisi paduan suara di Eropa seperti Tolosa-Spanyol, Maribor-Slovenia, Debrecen-Hungaria, Arezzo-Italia, Varna-Bulgaria, dan Tours-Perancis.

Setiap tahunnya juara umum dari kompetisi-kompetisi ini akan dipertandingan di tahun berikutnya. Tercatat dua paduan suara yang telah berhasil memenangkan kompetisi ini dua kali, yaitu Philippine Madrigal Singers asal Filipina dan APZ Tone Tomsic University of Ljubljana asal Slovenia.

Untuk Indonesia, hingga saat ini baru Batavia Madrigal Singers (BMS) pimpinan Avip Priatna yang baru saja berhasil memasuki European Grandprix pada Mei lalu setelah berhasil menjadi juara umum di Varna – Bulgaria dan berhak untuk bertanding tahun depan mewakili Varna.

Sumber: okezone.com, tempo.co

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: