Skip to content

Ahmad Abdul Hadi: Mengantar Mangga Gedong Gincu ke Pasar Dunia

Oktober 5, 2012

Di saat sebagian masyarakat kita gandrung dengan buah-buahan impor, seorang pemuda kelahiran Cirebon justru bangga memasarkan buah asli nusantara ke luar negeri.

“Saya mau bicara praktik di lapangan. Buah kita mampu bersaing di luar negeri. Itu semestinya  terus ditingkatkan,” kata Hadi, panggilannya, saat ditemui di gudang buah SAE yang dikelola keluarganya di Jalan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Lahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, Ahmad Abdul Hadi rupanya yang paling berhasil mengembangkan usaha jual-beli buah yang dirintis  orangtuanya, Sukarya (61) dan Entin (55). Nama SAE  kependekan huruf depan nama mereka, S untuk Sukarya, A untuk Ahmad, dan E untuk Entin.

Tak hanya menyuplai buah seperti mangga, manggis, dan rambutan untuk pasar domestik, Hadi mengembangkan usaha itu hingga pasar dunia. Mangga jenis gedong gincu terutama, menjadi andalan ekspornya.

Di tangan pemenang Asia Pacific Entrepreneurship Awards 2011 ini, buah itu merambah Singapura, Hongkong, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar. Permintaan  mangga gedong gincu  terus meningkat sejak pertama diekspor tahun 2008.

Hadi sejatinya terlambat meneruskan usaha keluarga ini.  “Waktu itu saya berpikir untuk kerja apa pun, asal bisa mandiri dari orangtua,” kata pemuda kelahiran Cirebon, 7 Oktober 1984 ini.

Awalnya ia ingin mencoba usaha selain berdagang buah. Saat menginjak bangku kuliah tahun 2005, Hadi membuka usaha bengkel kendaraan bermotor. Baru setahun berjalan, usaha itu ambruk. Di sela-sela kuliah, ia berdagang gula merah hingga cabe, tetapi gagal juga.

Pada saat bersamaan ada dorongan orangtua untuk meneruskan usaha keluarga. Hadi yang awalnya merasa berat hati, kemudian berusaha menyiasati bagaimana mengembangkan usaha buah itu. Saat itu pasar domestik sudah kenyang dengan suplai mangga gedong gincu. Pengusaha buah di wilayah Cirebon hanya fokus di pasar dalam negeri.

“Saya  mencoba sesuatu yang belum dilakukan pengusaha lain. Saya manfaatkan internet untuk belajar membuat invoice. Klien pertama saya dari Singapura, kenalnya lewat internet,” kata lulusan S1 Ekonomi dari Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon ini.

Usaha perdagangan lintas negara memang  mensyaratkan keahlian berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang baik. Belakangan, klien Hadi  meluas hingga ke Timur Tengah. Itu berkat penguasaannya berbahasa Arab.

Soal kemampuan berbahasa itu, dia peroleh saat  mengenyam pendidikan di Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Di pesantren Hadi belajar bahasa Inggris dan Arab secara  intensif.

Ia bercerita, paket ekspor pertamanya ke Singapura sudah  dikemas dalam kardus dan dilengkapi merek  SAE. “Saya ingat sekali, itu terjadi tanggal 13 Oktober 2008. Itu tanggal lahir ibu saya.” kata suami dari Fitri P. Nurkamal ini.

Prospektif

Keberhasilan Hadi tercium Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan dan Kehutanan, Kabupaten Cirebon. Pada 2009 instansi itu  memfasilitasi Hadi ikut dalam rangkaian pameran perdagangan buah dan hortikultura ke Hongkong, Kuwait, dan Bahrain.

Dari pameran itu dia tahu tingginya animo pasar dunia pada mangga gedong gincu.  Pemesan terus berdatangan dari Timur Tengah, meski pembeli terbesar tetap dari Singapura.

Dari satu negara ia bisa mendapat 10 pembeli dengan pesanan bervariasi, dari  satu ton mangga  sampai 50 ton. Gudang SAE  tak pernah sepi dari suplai mangga. Petani mangga di sejumlah sentra pun terangkat dengan kondisi ini.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Mangga Sami Jaya di Desa Sedong Lor, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Haerudin (52) adalah  salah satu yang menyuplai mangga kepada Hadi.

Petani di kawasan itu  memanen mangga gedong gincu minimal 125 ton dari lahan seluas 25 hektar (ha). Di wilayah Sedong  ada 400 ha lahan mangga gedong gincu, yang rata-rata menghasilkan 2.000 ton  setahun.

Dari tangan petani, mangga masak pohon dihargai Rp 10.000-Rp 25.000 per kilogram (kg). Rata-rata lahan satu ha  ditanami 100 pohon yang masing-masing menghasilkan 50 kg per tahun.

“Jika petani punya satu ha lahan, ia bisa dapat minimal Rp 50 juta per tahun dengan harga mangga terendah Rp 10.000 per kg,” ungkap Haerudin.

Selain Cirebon, Hadi juga menerima suplai dari daerah lain seperti Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, di  Jawa Barat,  Tegal, Jawa Tengah,  dan Probolinggo,  Jawa Timur. Untuk ekspor saja ia memerlukan  ratusan ton mangga, belum termasuk untuk memenuhi pasar dalam negeri.

Bersaing ketat

Di pasar dunia gedong gincu bersaing dengan mangga dari Pakistan dan India. “Di luar (negeri)  gedong gincu  namanya mangga alfonso. Rasa gedong gincu asal Indonesia tak kalah enak dari mangga India dan Pakistan. Sayang, kita tak bisa bersaing dalam  harga.”

Sebagai gambaran, harga dasar gedong gincu di pasar ekspor sekitar satu dollar AS  per kg. Sampai di luar negeri harganya menjadi 3 dollar, karena tambahan  2 dollar untuk biaya  pengiriman. Alhasil, mangga asal Indonesia lebih mahal dua kali lipat dibanding dari India dan Pakistan.

“Itu kendala terbesar  saya, karena biaya transportasi barang dari Indonesia  lebih mahal dua kali lipat dibanding harga produknya,” ujar Hadi.

Dari sisi produksi, Indonesia juga lebih unggul. Pakistan dan India hanya panen  selama tiga-empat bulan, pada Maret-Juni. Sedang  Indonesia  pola panennya bisa sampai  sembilan bulan.

“Saat mangga mereka (Pakistan-India) habis, mangga kita masih ada. Kita bisa panen  Maret sampai November, tetapi harganya tetap lebih mahal,” katanya.

Di luar kendala harga, ada problem yang  perlu dipecahkan bersama antara petani, pengusaha, dan peneliti hortikultura, yakni masa simpan mangga gedong gincu yang terlalu cepat.

Masa simpan mangga ini hanya 10 hari. Jika dikonsumsi lebih dari waktu itu, kualitasnya turun, sedangkan  mangga dari Pakistan dan India masa simpannya  sebulan.

Tentang kesuksesan usahanya, Hadi mengutamakan jejaring  yang dipelihara dan diperluas, selain menjaga kepercayaan konsumen.

“Saya pernah ditipu  puluhan juta rupiah. Dia menolak membayar tagihan dengan alasan tidak jelas. Untuk orang macam itu, saya langsung tutup hubungan.” lanjut Pemenang Terbaik I Nasional Wirausahawan Mandiri, Kategori Jasa dan Mandiri dari Bank Mandiri, 2010  dan peraih Penghargaan Ketahanan Pangan dari Pemerintah RI, 2009 ini.

Sumber: Kompas Cetak

7 Komentar leave one →
  1. Oktober 5, 2012 11:35 am

    Reblogged this on yes, i'm freak and commented:
    Indonesia pantas bangga :’)

  2. Oktober 7, 2012 11:35 pm

    Yth pak Ahmad, saya dari Kediri tertarik untuk menjadi suplier mangga di perusahaan bapak. Bagaimana prosedurnya pak? Atas responnya saya sampaikan banyak terima kasih. BUDI, 082131295766.

  3. Januari 25, 2013 11:35 am

    Assalamu Alaikum wr wb,pagi pagi pak,pak sy dgn Saeful cirebon majasem,mau tanya pak,kalau tuk mangga saat ini ada ga ya pak ,trimakasih atas penjelasannya

  4. agung cahyo wibowo permalink
    September 20, 2013 11:35 pm

    as. pa Hadi kalau mangga cengkir apa mau nerima? dan dihargai berapa perkilo?boleh minta alamat lengkapnya?

  5. Oktober 18, 2013 11:35 am

    Assalamu’allaikum Pak Hadi saya dari jakarta saya ingin menjadi Supplayer Gedong Gincu bagaimana saya dapat menghubungi anda, Mohon Japri, by Email. Terima Kasih. Wassalamu”allaikum Wr.Wb

    • fredy setiawan paulus permalink
      September 20, 2015 11:35 pm

      Saya butuh mangga gincu untuk export ke korea, ada link yg murah gak ya…? Saya butuh kurang lebih 100 ton untuk harga yang bagus…. berat 0.255 per mangga nya…. nomor telp saya 081314450001…. 021-91533478 thx

Trackbacks

  1. Ahmad Abdul Hadi: Mengantar Mangga Gedong Gincu ke Pasar Dunia | Promosi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: