Skip to content

Murni Srijani: Sang Duta Wirausaha Kecantikan di Suriname

Desember 4, 2012

murni srijani di indonesiaproud wordpress comMurni Srijani Dasai-Djamin menjadi salah satu penerima gelar Beautypreneur dari Puspita Martha International Beauty School di acara penganugerahan 75 Beautypreneurship Awards pada 30 November lalu. Ia dinilai mampu menciptakan alternatif lapangan kerja dalam industri kecantikan, mode, dan gaya hidup.

Uniknya, walaupun menimba ilmu di Puspita Martha Yogyakarta dan Jakarta, wanita kelahiran 1977 ini setia mengembangkan usahanya di tanah Suriname.

Berawal dari dana investasi yang tidak seberapa, ia menyatakan akan merogoh kocek sedalam setengah miliar tahun depan untuk bisnisnya.

Menjadi Beautypreneur

Awalnya Murni terkesan sekali pada sekotak peralatan rias yang ia peroleh ketika kecil. Hal itu menginspirasi mimpinya untuk menjadi seorang make up artist. Namun, sulit sekali mewujudkannya sebab mayoritas orang Suriname memandang make up secara negatif.

Pada tahun 2001, Murni berkesempatan kursus ngadibusana dan rias pengantin Jawa di Kedutaan Besar Republik Indonesia. Dari situ, ia mulai diminta merias orang.

Di tahun 2007, Murni datang ke Yogyakarta dan belajar di Puspita Martha International Beauty School. Ketika kembali ke Suriname pada 2010, ia bekerja sambilan sebagai perias secara diam-diam karena saya masih pegawai negeri di sebuah perusahaan.

Tak lama, pekerjaan itu membuatnya kecewa dan akhirnya ia berhenti.  Pada Mei 2011, ia membuka salon Murni Indah di Suriname. Usaha ini berjalan sekitar 1 tahun, namun terpaksa tutup selama ia berada di Jakarta hingga tahun depan.

Modal & Pelanggan

Dari sudut modal, dana yang dibutuhkan sangat murah sebenarnya, kurang lebih Rp 15 juta. Hal itu dikarenakan investasinya hanya untuk desain interior salon dan biaya kursus. Untuk tempat, ia masih memakai ruang tamu. Sebagian besar peralatannya pun sudah dimiliki sebelumnya. Harus diakui, ia banyak dibantu oleh suaminya dalam hal ini.

Pelanggannya berasal dari beragam komunitas, mulai dari Cina, India, Afrika, hingga Belanda. Namun, sebagian besar adalah orang Jawa yang tinggal di Suriname yang umumnya dari kelas menengah.

Murni melihat suatu perbedaan karakter antara pelanggan Jawa dan Cina. Pelanggan Jawa lebih memperhatikan biaya sehingga mereka ngotot menggunakan riasan minimalis, sekalipun mereka akan menikah. Sebaliknya, pelanggan Cina selalu ingin tampil menarik. Mereka tidak peduli semahal apa pun biayanya. Pelanggan seperti inilah yang lebih mudah diajak bicara tentang kualitas.

Industri Kecantikan Suriname

Industri kecantikan dan gaya hidup di Suriname belum berkembang sebab penduduknya mempunyai cara pikir yang bertolak belakang dengan orang Indonesia.

Orang Suriname menyukai wajah yang polos. Oleh karenanya, ia sering dikritik, mengapa mengenakan make up jika tanpa itu Anda sudah cantik? Ia setuju bahwa kecantikan dari dalam (inner beauty) itu ada, namun tidak semua perempuan merasa percaya diri tanpa kecantikan dari luar. Itulah mengapa ia mempertahankan riasan yang “berani” dalam bisnisnya.

Di Suriname, pebisnis hanya berpromosi dari mulut ke mulut, berbeda dengan cara pebisnis Indonesia yang berpromosi sangat beragam. Sebenarnya, ini menjadi keterbatasan untuk bisnisnya. Untunglah, sudah banyak tetangga di Suriname yang tahu bahwa ia selalu memberi pelayanan yang memuaskan. Supaya lebih terbantu, ia juga menggunakan Facebook.

Di negara dengan jumlah penduduk 500.000 jiwa seperti Suriname, pasar sebenarnya terbilang sepi. Make up artist yang berbakat baru sedikit. Tetapi Murni yakin, tak lama lagi akan muncul pemain-pemain baru. Karena sifat orang Suriname itu jika seseorang, entah mempunyai keterampilan merias atau tidak, melihat tutorial rias wajah sendiri (self image) di You Tube kemudian bisa menirukannya, dia akan langsung mengeklaim dirinya seorang make up artist. Padahal, tidak segampang itu menjadi seorang make up artist profesional. Tambahan lagi, kesadaran masyarakat sendiri masih rendah.

Murni pernah menawarkan paket pelatihan (workshop) rias wajah sendiri. Tujuannya adalah membuat pola pikir pelanggan lebih terbuka sehingga mereka tergerak untuk berias sendiri di rumah. Semula ia memasang tarif terjangkau. Syaratnya hanyalah peserta harus membawa peralatan make up sendiri. Rupanya yang berminat tak lebih dari 4 orang.

Kemudian Murni mengubah strategi. Peserta difasilitasi dengan peralatan miliknya, namun tarif dinaikkan. Hasilnya, ada 10 peserta dalam tempo 3 minggu. Ia senang sekali. Ada beberapa peserta yang sekarang menjadi pesaingnya. Bagi Murni, pesaing bukanlah ancaman. Justru inilah tanda adanya perkembangan. Dalam bisnis kecantikan, pemain yang sungguh-sungguh memiliki keahlianlah yang bisa bertahan.

Keadaan Bisnis & Rencana ke Depan

Bagi Murni, untuk saat ini, keadaan bisnisnya cukup memuaskan. Meskipun masih bekerja sendiri, ia bisa menangani 30-50 klien dalam setahun. Untuk sementara, Murni memasang tarif terjangkau, sekitar Rp 200 ribu untuk riasan pengantin biasa. Untuk riasan pengantin menggunakan air brush, sekitar Rp 1 juta. Itu pun, tidak sedikit pelanggan yang mengeluh bahwa harganya tidak masuk akal.

Akhir 2013, Murni akan kembali ke Suriname. Ia siap menghadapi persaingan yang lebih ketat dengan bekal keterampilan dari sekolah kecantikan di Yogyakarta dan Jakarta. Murni ingin bisa memberikan pelayanan facial dan spa nantinya. Dahulu, ia memang tidak terlalu memperhatikan dana investasi. Namun, untuk tahun depan atau 2014, ia menganggarkan sekitar setengah miliar untuk memantapkan bisnisnya.

Sumber: swa.co.id

2 Komentar leave one →
  1. Februari 7, 2013 11:35 am

    wau cantiknya natural banget keren habis dch

Trackbacks

  1. soetta.org | Murni Srijani: Sang Duta Wirausaha Kecantikan di Suriname

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: