Skip to content

Siswa SMKN 1 Bawen Buat Eceng Gondok Jadi Bahan Briket & Pakan Ternak

Desember 4, 2012

briket & pakan ternak dari eceng gondok di indonesiaproud wordpress comMelimpahnya eceng gondok di Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, menjadi masalah. Di Rawa Pening, gambut sisa tanaman eceng gondok memperparah sedimentasi di danau itu.

Selama ini gambut tersebut dimanfaatkan sebagai pupuk dan media tanam jamur yang dikirim ke berbagai kota. Para siswa SMK Negeri 1 Bawen mencoba memanfaatkan gulma air itu menjadi briket dan pakan ternak.

Putra Adi Setiawan, Septia Cahyo Adi, dan Dika Nasabu, siswa kelas XII Jurusan Mekanisasi Pertanian berupaya membuat alat pencetak briket sejak 2011. Alat yang dibuat dari besi itu dapat mencetak 4 briket berdiameter 5 sentimeter sekaligus pada satu kali proses.

”Kami berpikir eceng gondok di Rawa Pening melimpah dan menjadi masalah, mengapa tidak dimanfaatkan saja? Setelah mencoba-coba akhirnya kami membuat briket,” ujarnya. Dalam upaya itu, mereka didampingi guru, Elly Alia.

Para siswa mencoba membuat briket dari gambut eceng gondok yang dikeringkan. Gambut dicampur dengan sekam, serbuk gergaji, dan sedikit tepung kanji untuk perekat. Setelah itu, adonan dimasukkan ke dalam cetakan dan dipadatkan dengan memutar tuas pada alat pencetak.

Gelondongan briket itu kemudian dijemur hingga kering. Satu briket dapat menyalakan api hingga 20 menit. Briket dapat digunakan untuk bahan bakar memasak atau keperluan lain

”Cara pembuatan briket sangat mudah. Warga di sekitar Rawa Pening dapat memanfaatkannya. Apalagi jika mereka memiliki serbuk gergaji dan sekam padi sendiri. Nyaris tidak ada biaya yang dikeluarkan,” kata Elly.

Elly mengakui, briket eceng gondok masih memiliki kelemahan, yakni ada asap. Namun, biaya pembuatannya murah. Untuk membuat 10 briket (lebih kurang 1 kilogram), misalnya, hanya perlu biaya Rp 3.750. Sebagai perbandingan, briket batubara dijual Rp 4.000-Rp 5.000 per kg.

Kini, tim SMKN 1 Bawen ingin mengembangkan alat pencetak briket hidrolik yang lebih praktis. Selama ini alat pencetak briket menggunakan tenaga manusia untuk memutar tuas pemadat. Jika ada mesin yang lebih memudahkan, diharapkan dapat dicetak briket lebih banyak.

Pakan ayam

Siswa pada Jurusan Budidaya Ternak menggunakan daun eceng gondok untuk pakan bagi ayam potong. Guru Budidaya Ternak, Siti Muslichah, menuturkan bahwa selama ini banyak peternak kesulitan ketika harga pakan ayam potong melambung. Karena itu, pakan alternatif yang memiliki kandungan gizi memadai sangat dibutuhkan.

Pemilihan eceng gondok sebagai bahan pakan karena tumbuhan itu merupakan ancaman sekaligus potensi wilayah Kabupaten Semarang. Berdasarkan uji laboratorium, daun eceng gondok mengandung protein 13 persen.

Daun eceng gondok yang masih segar dirajang dan dijemur. Karena eceng gondok mengandung serat sangat tinggi, 20,16 persen, harus dilakukan fermentasi dengan bakteri Aspergillus niger agar kandungan serat berkurang. Ayam ras tidak mampu menoleransi kadar serat lebih dari 5,0 persen.

Hasil dari fermentasi daun eceng gondok dicampur dengan pakan ayam dengan komposisi masing-masing 2,5 persen, 5,0 persen, dan 7,5 persen. Hasilnya, dilihat dari bobot dan perkembangan ayam, pencampuran dengan 2,5 persen pakan ayam adalah yang paling ideal.

Siti mengakui, penelitian itu belum sempurna. Eceng gondok belum dapat menggantikan pakan ayam ras yang ada selama ini. Akan tetapi, setidaknya para peternak dapat menghemat pengeluaran untuk pakan ayam. Penggunaan eceng gondok sebagai campuran dapat menghemat Rp 140.300 untuk pemeliharaan 300 bibit ayam dalam satu siklus.

Kini, Siti dan siswanya, Zaenal Yuhana, tengah meneliti pembuatan pakan alternatif dengan bahan baku tanaman air Azolla pinnata yang juga banyak ditemui di Rawa Pening. Kandungan protein dalam tumbuhan ini lebih tinggi dari eceng gondok, yaitu 25-30 persen, dan kandungan serat kasarnya 9,1 persen.

Dengan cara pembuatan yang sama, pakan dari Azolla pinnata kini tengah diuji. Hasil sementara memperlihatkan penggunaan campuran pakan alternatif dari Azolla pinnata mampu menghemat Rp 282.500 per pemeliharaan 300 bibit ayam hingga 42 hari.

”Penelitian ini belum maksimal karena keterbatasan kami. Kami berupaya agar biaya produksinya murah. Tujuan pakan alternatif ini untuk mengurangi biaya produksi ternak ayam potong,” kata Siti.

Selama ini sebagian besar bahan baku pakan ayam ras harus diimpor, seperti kedelai dan tepung ikan. Karena itu, Siti berharap, penelitian dapat diteruskan dalam skala lebih besar dan lebih mendalam, serta dapat diterapkan oleh masyarakat luas.

Sumber: Harian Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: