Skip to content

Lewat Pembangkit Listrik Bertenaga Suhu, Mahasiswa Unibraw Malang Raih Emas di World Inventor Award Festival 2012, Korsel

Januari 29, 2013
Rahmat, Dessy, dan Rifka di indonesiaproud wordpress com

Rahmat, Dessy, dan Rifka

Masyarakat pada umumnya sudah mengenal pembangkit listrik tenaga air, nuklir, ataupun hidro. Namun, 3 mahasiswa Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, yakni  Rahmat Ananta, Dessy Lina Rachmawati, dan Rifka Fahriza Jauhari, melakukan terobosan dengan membuat pembangkit listrik dengan menggunakan suhu dan meraih emas di World Inventor Award Festival di Korea Selatan.

Berawal dari cara kerja dispenser, tercetuslah sebuah ide membuat energi alternatif dengan menggunakan suhu. Jika dispenser menghasilkan air dingin dan panas karena energi listrik, maka Hybrid Micro Thermoelectric Generator (HMTG) milik tiga sekawan tersebut membalik konsep itu. Energi listrik bisa diciptakan dari suhu dingin dan panas.

HMTG adalah sejenis pembangkit listrik yang dihasilkan lebih dari satu sumber. “Sumber tersebut berasal dari panas dan dingin. Untuk menciptakan sebuah energi listrik memerlukan suhu panas dan dingin dengan menggunakan perbandingan 1:2. Jika suhu dinginnya 60 derajat Celcius, maka suhu panasnya berkisar 30 derajat Celcius, atau bisa juga sebaliknya, yang penting mempunyai perbandingan 1:2,” ujar Rahmat.

Rahmat menjelaskan bahwa untuk mendapatkan suhu panas dan dingin sangat mudah. Suhu di dalam dan di luar rumah pun bisa digunakan. Misalnya, jika di luar rumah suhunya dingin otomatis di dalam rumah lebih hangat. Sementara sumber suhu yang lain juga bisa didapat melalui air panas, air dingin, es, geyser atau salju.

Untuk daerah yang mempunyai suhu ekstrim, seperti daerah Kutub dan Padang Pasir, lanjutnya, alat tersebut masih bisa digunakan selama masih ada perbedaan suhu.

“Pada suatu daerah yang mempunyai suhu ekstrim, seperti di daerah kutub dan padang pasir, Hybrid Micro Thermoelectric masih bisa digunakan selama ada selisih perbedaan suhu. Contohnya, di daerah Kutub Selatan yang sangat ekstrim dengan suhu dinginnya. Suhu di bawah dan di atas es pasti mempunyai perbedaan. Jadi dengan menggunakan perbandingan 1:2, maka alat tersebut bisa digunakan,” paparnya.

Selain kelebihannya menggunakan suhu, HMTG juga bisa digunakan dalam skala besar, seperti menggerakan mesin-mesin industri.

Menurut Rahmat, sumber dari energi listrik yang dihasilkan oleh  HMTG berasal dari suatu lempeng yang bernama elemen Peltier.

Elemen Peltier tersebut berfungsi untuk mentransmisikan suhu dingin dan panas menjadi suatu energi listrik. “Satu lempeng elemen bisa menampung minimal 12 Volt Ampere hingga maksimal 80 Volt Ampere,” kata Dessy.

Inovasi kreatif dari ketiga mahasiswa ini pun mendapat medali emas di World Inventor Award Festival di Seoul, Korea Selatan pada Desember 2012. Bahkan, menyadari keunggulan yang dimliki HMTG, mereka berinisiatif untuk segera mematenkannya.

“Saat ini kami sedang berusaha mencari perusahaan yang mau bekerjasama dan mematenkan produk atas nama kami bertiga,” imbuh Rahmat.

Sumber: kampus.okezone.com

One Comment leave one →
  1. Januari 29, 2013 11:35 am

    Smg bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: