Skip to content

Putu Agastya Satryana: Siswa SMP Pembuat Meja Belajar Listrik Mandiri

Maret 15, 2013

Putu Agastya Satryana (kanan), siswa SMP dari Bali, dengan meja belajar beraliran listrik buatannya. (VOA/Muliarta)

Ide kreatif seringkali muncul dari keterbatasan sarana atau ketiadaan sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah Putu Agastya Satryana, siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Denpasar yang berhasil membuat meja belajar yang dilengkapi listrik mandiri dan memberikan efek positif bagi kesehatan penggunanya.

Meja belajar yang dibuat dengan memanfaatkan mesin jahit bekas tersebut memiliki listrik mandiri karena dilengkapi dinamo, yang kemudian dihubungkan dengan roda pemutar mesin jahit yang digerakkan melalui pijakan kaki pada mesin jahit.

Listrik yang dihasilkan dari dinamo selanjutnya disimpan dalam aki 12 volt dan dapat digunakan untuk menyalakan lampu yang terpasang pada meja belajar atau untuk mengisi baterai telepon genggam, iPod, dan iPad.

Selain itu, meja belajar yang dibuat juga memberikan efek positif bagi kesehatan karena pada pijakan kaki mesin jahit dilengkapi sandal refleksi.

Ide awal

Ide pembuatan meja belajar dengan listrik mandiri tersebut berawal dari pengalaman Agastya ketika berlibur di rumah neneknya di Desa Kubu Karangasem yang belum mendapatkan fasilitas listrik.

“Jadi setiap ke kampung malamnya pasti menggunakan lampu tempel, rawan kebakaran. Oleh karena itu saya ingin membuat alat yang bisa menghidupkan lampu. Sebab saya juga kesusahan belajar karena tidak adanya lampu, makanya saya mengembangkan ide meja belajar yang bisa membangkitkan listrik,” ujarnya.

Agastya mengatakan pembuatan meja tersebut memakan biaya Rp 400 ribu karena sebagian besar berbahan bekas pakai.

Tempat Pembelajaran

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kota Denpasar IGN Eddy Mulya mengatakan pihaknya sedang merancang tempat pembelajaran bagi peneliti-peneliti muda agar kreativitas mereka dapat tersalurkan.

“Agar memberikan ruang dan kesempatan kepada peneliti muda untuk melakukan penelitian berbasis ilmu dan teknologi, tetapi dengan catatan penelitian ini kita harapkan berbasis pada sains terapan. Artinya sains terapan itu hasil penelitian ini diaplikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Kreativitas pengembangan penelitian bagi peneliti muda di Denpasar selama ini terkendala karena keterbatasan peralatan laboratorium yang ada di masing-masing sekolah.

Lebih lanjut Eddy mengatakan bahwa pemerintah kota Denpasar secara bertahap akan berusaha untuk membantu penyediaan peralatan laboratorium di sekolah-sekolah di kota Denpasar.

Sumber: voaindonesia.com

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: