Skip to content

8 Putra Bangsa yang Jadi Tulang Punggung Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Austria

Mei 21, 2013

8 putra bangsa di IAEA indonesiaproud wordpress comNegeri ini memiliki putra-putri yang punya kemampuan di bidang energi nuklir. Hal ini ditandai dengan menempatkan 8 putra terbaiknya sebagai tulang punggung International Atomic Energy Agency atau Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Peran mereka di lembaga yang bermarkas di Wina, Austria, itu bukan sekadar pelengkap, tapi menjadi tulang punggung untuk mewujudkan misi IAEA mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai dan menangkal pemanfaatannya untuk keperluan militer.

Kedelapan ahli nuklir Indonesia yang pernah atau sedang bekerja di IAEA adalah Agus Indiono, Suhermanto Duliman, Dewanto Saptoadi, Victor Siregar, Agung Basuki, Endang Susilowati (pensiun), Faturrachman (pensiun), dan Trijanto Hadilukito.

Endang Susilowati misalnya, dia pernah bekerja selama 8 tahun di IAEA. Menurutnya, dengan menjabat sebagai inspector safeguards berarti tanggung jawab yang dipegang ialah memverifikasi apakah negara-negara yang memproduksi energi nuklir tersebut sudah sesuai dengan regulasi yang diatur IAEA. Pasalnya, jika suatu negara menggunakan energi nuklir secara berlebihan dan bertujuan untuk pembuatan senjata penghancur massal, hal ini rentan memicu pecahnya perang.

“Hal itu merupakan tanggung jawab saya ketika bekerja di IAEA. Negara-negara yang menjadi anggota IAEA harus diawasi dalam memanfaatkan energi nuklir,” jelasnya.

Endang menjadi satu-satunya ahli nuklir perempuan asal Indonesia yang pernah bekerja di IAEA. Hingga saat ini belum ada lagi kalangan perempuan dari negeri ini yang berhasil menggantikan perannya di badan atom dunia itu. Untuk pekerjaan ini, dia kerap keluar-masuk negara-negara di Eropa guna mengontrol dan menginspeksi pemanfaatan nuklir.

Selain Endang, ada pula ahli nuklir Indonesia yang sudah berakar kuat di IAEA lantaran bekerja sejak 1986, yaitu Victor Siregar. Sama halnya dengan Endang, pria asal Medan ini menjabat sebagai nuclear safeguards inspector sejak Maret 1986. “Sayabertugasmelakukan pengawasan terhadap penggunaan bahan nuklir di berbagai negara Asia seperti China dan Jepang,” tutur Victor.

Selain itu ada sosok Fathurrachman yang pernah bekerja pada posisi yang sama di IAEA selama 7 tahun. Pria asal Bondowoso, JawaTimur, ini mulai bekerja di badan atom dunia itu sejak September 2001 hingga bulan yang sama tahun 2008.

Menurutnya, pengurusan bahan bakar bekas nuklir sangat menyulitkan. Butuh pengamanan tersendiri dan pengawasannya pun harus intensif luar dan dalam. Bahkan dibutuhkan kamera CCTV untuk mengetahui setiap reaksinya. Sebab bahan bakar bekas nuklir ini mengandung bahan bakar baru yang membahayakan.

Pembuatan bom atom juga berasal dari limbah ini. “Pengurusannya sampai diawasi luar dan dalam dan selalu diawasi dengan CCTV agar tidak terjadi kebocoran,” tegas Fathurrachman.

Sementara Trijanto Hadilukito yang lebih akrab dengan sapaan Luki bekerja sebagai nuclear safeguards inspector sejak 2000. Selama mengemban tugasnya, Luki mengatakan bahwa setiap perjalanan tugas ke sebuah negara ada keunikan tersendiri, baik dari sisi kebijakan maupun minimalisasi informasi yang diberikan negara yang bersangkutan.

“Setiap inspeksi ke sebuah negara memiliki standar inspeksi tersendiri. Ketika mereka memberi tahu ada bahan nuklir di negara itu, terkadang negara itu memberikan informasi yang kurang lengkap,” ucap Luki.

Sejatinya, teknologi nuklir bukanlah barang baru bagi Indonesia. Maklum, Indonesia sudah mempunyai reaktor nuklir sejak 1964 di Bandung. Pada 16 November 1964, saat itu para ilmuwan pribumi yang dipimpin Djali Ahimsa sukses menuntaskan criticality-experiment terhadap reaktor nuklir pertama, yaitu Triga Mark II di Bandung.

Selanjutnya, pada 20 Februari 1965, reaktor nuklir pertama milik Indonesia dengan daya 250 KW diresmikan Presiden Soekarno. Reaktor ini kemudian digunakan untuk keperluan pelatihan, riset, dan produksi radioisotop.

Inilah reaktor nuklir pertama di Indonesia yang pada saat kelahirannya mendapat sorotan Radio Australia dengan menyebutkan bahwa Indonesia mampu membuat reaktor atom serta masuk ke abad nuklir. Saat ini, Indonesia memiliki tiga reaktor riset. Selain di Bandung, dua reaktor lagi masing-masing terdapat di Yogyakarta dan Serpong, Tangerang.

Menristek Gusti Muhammad Hata menuturkan bahwa keberadaan kedelapan pakar nuklir itu membuktikan Indonesia memiliki sumber daya manusia yang kompeten di bidang energi nuklir. Sebab, lazimnya para inspektur adalah mewakili negara yang memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), sedangkan negeri ini tidak memilikinya.

Gusti juga mengungkapkan bahwa Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) mendapat pengakuan internasional hingga ditunjuk menjadi team leader untuk membuat legislasi keamanan nuklir dunia.

Sumber: KoranSindo.com (21/5/13)

3 Komentar leave one →
  1. Mei 27, 2013 11:35 am

    Bang kalau bisa memberikan bimbingan thd adik2 yg bergelut dibidang nuklir, agar generasi kegenerasi kita terus ada di badan atom dunia di Wina Austria dan sangat mengagumkan bangsa kita bertengger disana. Slamat….Yaa…..

  2. Mei 27, 2013 11:35 am

    Semoga keberadaan mereka dapat memberikan kontribusi positif thd perdamaian dunia dan bukan sebagai alat untuk kepentingan politik dari bbr negara2 tertentu. Kita support Independensi mereka utk tdk mudah dipengaruhi oleh negara lain

  3. Mei 30, 2013 11:35 am

    Tolong Indonesia untuk memiliki PLTN, penelitian tidak akan menjadi energi yang bermanfaat bagi kemajuan bangsa. tapi kalo listrik PLTN murah, semua orang akan merasakan manfaatnya dan kemudahan dalam segala aspek. termasuk penyelamatan lingkungan, salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: