Lanjut ke konten

Timeline Studio: Ada Sentuhan Tangannya di Doraemon, Sinchan & One Piece

Juni 26, 2013

timeline studio di indonesiaproud wordpress comGusti Artana dan Dewa Widiarta sibuk di depan komputer mereka di ruangan Timeline Studio. Di atas drawing pad digital yang terkoneksi dengan komputer, Artana asyik memberikan sentuhan warna terhadap salah satu latar belakang B-Daman, sebuah film animasi Jepang. Widiarta juga tak kalah serius memainkan fitur-fitur Photoshop untuk menyelesaikan animasinya.

Dari tangan-tangan mereka di Timeline Studio, kartun-kartun Jepang dibuat. Mereka menerima proyek film animasi dari beberapa studio animasi Jepang. Sebut saja Crayon Sinchan dan Doraemon yang seri-serinya masih terus mereka kerjakan. “Bahkan, saking banyaknya permintaan, kami sempat menolak beberapa,” ungkap Agung Oka, salah satu animator Timeline.

Untuk pengerjaan animasi Crayon Sinchan dan Doraemon, Timeline Studio mendapat jatah menyelesaikan latar belakang animasi. Misalnya, detil-detil rumah beserta kelengkapannya, pohon-pohon, langit biru, halaman, dan segala macam suasana latar belakang animasi. Untuk satu seri Sinchan saja, Timeline mesti memproduksi 100 buah latar belakang animasi yang mesti dirampungkan dalam waktu seminggu.

animasi timelinestudio di indonesiaproud wordpress com
Agung Oka yang juga salah satu pendiri Timeline Studio mengaku kalau beberapa studio Animasi di Jepang memang cenderung melimpahkan pengerjaan latar belakang animasinya kepada Timeline Studio. Meskipun pernah ditawari untuk mengerjakan karakter animasi, namun Timeline lebih tertarik bergabung dalam produksi latar belakang animasi saja.

Oka menambahkan studio animasi di Jepang itu memang sengaja melemparkan beberapa proyek animasinya ke negara-negara seperti Korea, Indonesia, dan Singapura. “Ini lantaran biaya untuk membayar animator di luar Jepang terbilang lebih murah,” jelasnya.

Lebih dari 30 judul film animasi Jepang yang elemen latar belakangnya dikerjakan oleh Timeline Studio. Selain Sinchan dan Doraemon, ada serial animasi lainnya yang banyak digandrungi anak-anak, seperti One Piece, Prince of Tennis, Fairy Tale, B-Daman, dan lain-lain.

Tak hanya menerima proyek film animasi dari luar negeri, di dalam negeri pun Timeline sering mendapat tawaran. Misalnya mengerjakan film animasi pendek, iklan-iklan animasi dari produk makanan ringan, video klip musik hingga pengerjaan visual efek sebuah film lokal. Bahkan Timeline juga pernah diajak kerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia untuk mengerjakan seri-seri dari animasi Cerita Rakyat Nusantara.

Awalnya…

Timeline Studio berdiri pada tahun 1990. Awalnya, studio ini memang sengaja untuk menangani segala tawaran proyek animasi dari Negeri Sakura. Lambat laun, studio ini tak hanya dilirik oleh industri animasi Jepang, melainkan industri kreatif dalam negeri hingga negara barat seperti Australia.

Namun, Agung Sanjaya salah satu pengagas berdirinya Timeline, masih pesimis dengan perkembangan industri animasi dalam negeri. Ini lantaran kurangnya sumber daya manusia yang bisa siap pakai untuk diterjunkan langsung ke industri animasi.

Padahal, menurutnya, secara umum, industri animasi itu ada di Indonesia. “Sayangnya belum banyak generasi muda yang benar-benar berani dan serius terjun ke dunia industri,” kata Oka.

Serupa dengan Oka, W. Joniartha Siada animator sekaligus pengajar di New Media mengatakan masih sedikit animator Bali yang fokus menggarap film-film animasi sebagai peluang usaha.

“Mereka lebih suka memproduksi animasi dalam bentuk visualisasi untuk kebutuhan sektor industrial. Misalkan visualisasi untuk keperluan properti, tutorial, hingga iklan,” jelas pria yang memiliki usaha animasi Digital Studio.

Agung Sanjaya mengungkapkan keprihatinannya terhadap pendidikan animasi yang diberikan di SMK maupun lembaga edukasi multimedia di Bali. Pria yang kini tengah merintis sebuah sekolah animasi ini menilai banyak lulusan tersebut belum memiliki kemampuan yang diharapkan industri animasi sesungguhnya.

Kemampuan dalam pengaplikasian sebuah ide, teknik pergerakan animasi, editing, hingga teknik drawing pun ditengarai masih lemah. Banyak lulusan tersebut juga belum memikirkan animasi sebagai industri. Mereka hanya menganggap animasi hanya sebatas hobi yang masih dilapisi aneka idealisme.

“Banyak yang saya lihat belum punya etos kerja, tak bisa kerja tim, lemah dalam mempertahankan kualitas dan tak tepat deadline,” ucap pria asal Negara, Jembrana ini.

Maka, Timeline pun hingga saat ini belum berani menambah personil timnya lantaran belum mendapatkan animator yang cocok untuk bekerja secara industri kreatif. Dari awal pendirian hingga sesibuk sekarang, mereka masih tetap bertujuh. “Makanya kami masih keteteran kalau menerima banyak proyek animasi lantaran kekurangan tenaga,” tutup Oka.

Sumber: balipublika.com

3 Komentar leave one →
  1. Juni 27, 2013 11:35 pm

    Reblogged this on ragelycious and commented:
    SALUUUUTTTTTT…..
    gak nyangka ternyata doraemon, sinchan, de el el dapat sentuhan orang Indonesia juga.
    one piece juga!!! hei,,,one piece yang gambar latarnya colorfull itu !! :D
    wahhh…jempol deh pokoknya buat abang2 dari Timeline Studio b^^d
    sukses terus ya…. ^^9

  2. Ria Angraini permalink
    Januari 19, 2014 11:35 am

    Permisi, saya mau tanya.
    Bisakah sepupu saya ikut dalam timeline studio? Kebetulan sepupu saya suka menggambar komik. Tolong di tanggapi yaa.
    Riaangraini04@gmail.com

Lacak Balik

  1. Timeline Studio: Ada Sentuhan Tangannya di Doraemon, Sinchan & One Piece « Geez! Ika's Zone!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.238 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: