Skip to content

Extensometer: Alat Peringatan Dini Bahaya Longsor Buatan UGM yang Digunakan di China & Myanmar

Juli 17, 2013

Sebuah perangkat peringatan dini untuk bahaya longsor, yang dikenal sebagai Extensometer dibuat oleh Teuku Faisal Fathani, dosen Universitas Gadjah Mada (UGM), telah digunakan di Myanmar dan China.

Namun sayangnya hal ini belum banyak digunakan di sini meskipun perangkat ini harganya terjangkau dan Indonesia rentan terhadap longsor.

Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa pemerintah China pertama kali melihat perangkat ini tahun 2007. Setahun kemudian China membeli 100.000 untuk dipasang di daerah-daerah rawan longsor. Di Myanmar, para pembelinya  adalah perusahaan pertambangan emas multinasional, Amerika Mercury Group.

Menurut Faisal, perusahaan membeli 6 perangkat senilai Rp 120 juta (US $ 12.000) secara total. Harga, kata dia, berkisar antara Rp 10 juta sampai Rp 40 juta. Versi analog dengan harga Rp 10 juta, versi digital sebesar Rp 20 juta dan versi dengan mekanisme pengiriman data melalui telemetri Rp 40 juta.

Dwikorita yang mengembangkan perangkat tersebut bersama Faisal dan Wahyu Wilopo sejak tahun 2005 mengatakan bahwa UGM awalnya memiliki sebuah proyek dengan Universitas Kyoto, Jepang, dan menerima sebuah paket extensometer dari Jepang.

“Jepang membuat perangkat terlalu mahal untuk diterapkan di Indonesia. Jika ada sesuatu yang salah dengan itu, perlu kembali ke Jepang untuk pemeliharaan, ” kata Dwikorita.

Menurut Faisal, satu unit extensometer analog, buatan Jepang, bernilai sekitar $ 4.000. Ia mengatakan timnya telah mengembangkan generasi ketiga dari perangkat yang khusus untuk perusahaan panas bumi. “Sudah ada sekitar 30 varian analog maupun digital,” ujar Faisal.

Secara terpisah, Wahyu mengatakan instalasi perangkat perlu sangat hati-hati dilakukan. Tim harus melihat lokasi terlebih dahulu sebelum menginstal perangkat.

Perangkat utama terpasang di tanah yang stabil. Sebuah kawat logam terhubung dari perangkat utama dan ditempatkan di tanah yang dianggap tidak stabil. Ketika tidak stabil tanah bergerak, ia akan memindahkan kawat, yang kemudian bergerak skala pada extensometer untuk menunjukkan kekuatan bergerak.

Jika tanah bergerak ke titik kritis yang mungkin dapat menyebabkan tanah longsor, suara sirene. Hal ini kemudian bahwa orang yang diperingatkan untuk mengungsi karena ancaman longsor mungkin. Extensometer ini juga dilengkapi dengan alat pengukur hujan karena longsor biasanya juga terjadi pada musim hujan.

Perangkat ini telah menyelamatkan nyawa 37 keluarga desa di Kabupaten Banjarnegara Kalitelaga, Jawa Tengah, pada 2007, karena mereka bisa dievakuasi sebelum terjadi longsor. “Sirene berbunyi empat jam sebelum tanah longsor melanda daerah ini,” katanya.

Di Indonesia, perangkat telah digunakan di sejumlah daerah di Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Kalimantan. Sejumlah perusahaan tambang, termasuk PT Arutmin Indonesia dan PT INCO Soroako juga telah menggunakan perangkat ini.

Dwikorita mengatakan bahwa Indonesia, 50 persen yang rawan longsor, belum sepenuhnya terpasang perangkat dalam langkah-langkah kesiapsiagaan bencana tersebut. “Mungkin pemerintah memiliki prioritas lain,” tambahnya.

Sementara itu, juru bicara Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa selama Januari-Mei 2013 terdapat 138 tanah longsor, menewaskan 115 orang.

“Tanah longsor sedang mengintensifkan di Indonesia,” katanya, menyalahkan kondisi pada kerusakan di daerah aliran sungai, curah hujan tinggi dan mitigasi bencana yang terbatas.

Sumber: thejakartapost.com (20/6/13)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: