Lanjut ke konten

Murid SD Bantarjati 9 Bogor Buat Biodiesel dari Minyak Jelantah

Oktober 11, 2013

SD Negeri Bantarjati 9 Bogor, Jawa Barat, sebagai sekolah berstatus Adiwiyata Mandiri, membuat inovasi dengan melibatkan siswanya mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar biodiesel.

“Saat ini kami telah mencoba untuk mengolah sendiri minyak jelantah menjadi biodiesel, walau hasilnya masih dalam skala kecil,” kata Ely Rachmawati, guru SD Negeri Bantarjati 9, Bogor (10/10).

Ely menyebutkan, bahwa pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel baru dimulai oleh pihak sekolah. Sebelumnya, SD Negeri Bantarjati 9 menjadi salah satu sekolah yang memasok minyak jelantah yang disalurkan ke Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) Kota Bogor untuk diolah menjadi biodiesel bahan bakar bus Trans Pakuan.

Pengolahan minyak jelantah sebagai biodiesel tidak terlalu sulit. Cukup menyiapkan methanol, soda api, dan minyak jelantah untuk menjadikan biodiesel.

“Kami sudah mempreaktekan dengan 3 liter minyak jelantah yang dicampur dengan methanol, soda api kemudian diendapkan hingga 12 sampai 14 jam,” jelasnya.

Untuk mengolahnya, campuran minyak jelantah dan ethanol tersebut membentuk lapisan bening yang akan dicampurkan dengan dua liter air lalu disuling untuk diambil biodieselnya. Hasilnya dapat dicobakan untuk bahan bakar kendaraan, dan alat-alat industri lainnya,

Ely mengatakan, biodiesel yang diproduksi para siswa tersebut hanya berskala kecil yang bisa dipasok untuk rumah-rumah.  Untuk memenuhi kebutuhan akan menyak jelantah, pihak sekolah mengumpulkan setiap harinya minyak bekas goreng tersebut dari para siswa.
Hampir setiap hari siswa SD Negeri Bantarjati 9 diajarkan untuk membawa minyak jelantah ke sekolah. Bila dihitung dalam waktu seminggu rata-rata sekolah bisa mengumpulkan 6 hingga 7 liter minyak jelantah.

Kepala Sekolah Yayah Komariah mengatakan bahwa program pengumpulan minyak jelantah kepada siswa sesuai dengan program Pemerintah Kota Bogor dalam mengumpulkan minyak goreng bekas di kalangan masyarakat. Pemerintah Kota Bogor melalui BPLH Bogor saat ini menjadi penampung minyak jelantah dari masyarakat yang akan diolah menjadi biodiesel untuk diolah menjadi bakar bus Trans Pakuan yang dikelola PDJT. Minyak jelantah yang disetorkan oleh masyarakat, sekolah, dan rumah makan oleh BPLH dibeli seharga Rp 3.000 per liternya.

“Kalau selama ini minyak jelantah yang terkumpul dari siswa diserahkan ke BPLH Kota Bogor, tapi mulai saat ini kami mencoba mengolah sendiri minyak tersebut menjadi biodiesel,” kata Yayah. Ke depan pihaknya berkeinginan punya tempat untuk mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel, sehingga bisa menjadi pemasok biodiesel untuk bahan bakar Trans Pakuan.

Menurut Yayah, proses pembuatan biodiesel dari minyak jelantah oleh siswa SD Negeri Bantarjati 9 telah dipraktekkan dihadapan 55 orang rombongan SMP Islam Al Muttaqin Kapuk Muara Jakarta Utara dan staf pengajar dan peneliti dari program Study Lingkungan Pogram Pasca Sarjana Universitas Indonesia Dr.dr.Tri Edhi Budhi Soesilo, bersama Mahasiswa UI pada 5 Oktober lalu.

Kreativitas siswa SDN Bantarjati 9 ini mendapat apresiasi dari staf pengajar dan peneliti dari program Study Lingkungan Pogram Pasca Sarjana Universitas Indonesia.

Sumber: antaranews.com (10/10/2013)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.224 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: