Skip to content

Ni Putu Risma Yanti: Karateka Belia Peraih Emas di Basel Open Master 2013, Swiss

Oktober 30, 2013

indonesiaproud wordpress comKarena potongan rambutnya pendek, jika tidak diperhatikan secara seksama banyak yang mengira gadis mungil yang mempunyai tinggi 125 centimeter itu anak lelaki. Ni Putu Risma Yanti nama lengkapnya, Ia berasal dari Kintamani, Bali.

Risma adalah gadis pemalu. Namun siapa sangka dibalik sifatnya tersebut, Risma adalah seorang petarung, karateka belia yang mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Saat ini, Risma memegang sabuk coklat. Seharusnya, dia memegang sabuk hitam, namun umurnya yang masih di bawah 14 tahun, sehingga mau tidak mau dia harus puas dengan sabuk coklat.

Tim karateka Indonesia yang terdiri dari 12 pelajar SMA dan SMP, berhasil membawa pulang 5 medali emas, 3 medali perak dan 5 medali perunggu dalam kejuaraan karate kelas dunia Basel Open Master 2013 yang berlangsung pada 19-20 Oktobe lalu di Swiss.

Hebatnya lagi, Risma meraih dua medali sekaligus, yakni 1 emas dari kategori kata perorangan dan 1 perak dari kategori kumite perorangan putri kurang dari 47 kilogram.

“Awalnya memang agak takut-takut, melihat lawan yang besar-besar badannya,” ujar pelajar kelas VIII SMPN 1 Kintamani tersebut. Meski demikian, Risma tidak gentar. Dia membulatkan tekad, turun melawan karateka yang postur tubuhnya lebih tinggi dari dirinya.

“Untuk mencari poin, saya mengarah ke perutnya. Walaupun dapat poin tidak banyak,” lanjut dia. Akhirnya dia, meraih medali perak untuk kategori kumite. Sementara untuk kategori kata yang lebih sulit, dia meraih medali emas.

Selain masalah lawan, suhu yang dingin juga menjadi kendala. Tim Indonesia tiba di Basel, Swiss, disambut dengan suhu sembilan derajat celsius, padahal saat itu jam menunjukkan pukul 11 siang.

“Karena dingin, pemanasan harus lama. Beda di Indonesia, pemanasan dikit, sudah berkeringat,” jelas anak pasangan Ketut Nuyati dan I Wayan Reken itu.

Anak pedagang jeruk itu menceritakan karate adalah panggilan jiwanya. Ayahnya yang juga seorang karateka mengenalkan beladiri asal Jepang itu pada dirinya.

“Terus saya juga melihat senior berlatih di sekolah.” lanjut dara kelahiran 12 Februari 2000 itu, Setiap hari, Risma tidak lelah mengikuti latihan. Untuk Senin hingga Sabtu, dia berlatih mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WITA. Sedangkan pada Minggu dia berlatih mulai pukul 07.00 hingga 10.00 WITA.

Olahraga tersebut juga bermanfaat bagi dirinya untuk pertahanan diri. Misalnya, ketika dia diledek oleh teman laki-lakinya dia mengajak untuk berkelahi satu lawan satu. “Waktu itu saya baru kelas satu. Saya sebel karena sering digodain ama cowok itu. Ya saya tonjok saja dia,” ujarnya sambil tersenyum ceria.

“Saya ingin menjadi guru olahraga,” cetus Risma saat ditanya mengenai cita-citanya. Atas prestasinya itu, Kemendikbud memberikan hadiah uang sebesar Rp22,5 juta. Risma mengatakan uang tersebut akan diberikan kepada orang tuanya.

Sumber: antaranews.com (27/10/13), sports.sindonews.com (23/10/13)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: