Skip to content

Lungguh: Kursi Pembangkit Listrik dari Panas Tubuh Buatan Mahasiswa UKSW Salatiga

Mei 8, 2014
Brian Ganda Pratama di indonesiaproud wordpress com

Brian dan Kursi Lungguh

Pernahkah anda berpikir bahwa panas tubuh anda bisa menghasilkan listrik yang akan mengisi baterai handphone anda?

Ada kabar baik bahwa mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, berhasil membuat kursi inovatif bernama “Lungguh,” yang sekaligus berfungsi untuk mengisi kembali (charge) daya baterai handphone atau perangkat elektronik lainnya.

Pengisian baterai dengan Lungguh tak memerlukan listrik. Kursi ini akan membuat tubuh Anda seperti sebuah powerbank. Ia mengubah energi dari panas tubuh menjadi energi listrik yang kemudian dipakai untuk mengisi perangkat elektronik. Hal yang perlu Anda lakukan untuk membuat kursi inovatif itu berfungsi? Cukup duduk di atasnya dan biarkan Lungguh bekerja.

FA Brian Ganda Pratama, mahasiswa Teknik Elektronika UKSW dan salah satu inovator kursi itu, mengatakan, selain sebagai kursi, Lungguh memiliki fungsi bak pembangkit listrik.

Komponen utama kursi ini adalah TEG (thermal electric generator) yang  akan mengubah panas menjadi listrik. “Prinsip TEG adalah membangkitkan listrik dari perbedaan suhu tubuh dengan suhu lingkungan,” kata Brian.

Brian mengungkapkan, suhu tubuh manusia rata-rata adalah 37 derajat Celsius. Sementara itu, suhu lingkungan sekitar 27 derajat Celsius.

Untuk mengoptimalkan Lungguh, Brian menambahkan komponen yang disebut cold reservoir,  agar jumlah listrik yang dihasilkan lebih besar.

Menurut Brian, gagasan membuat Lungguh berawal dari pengalamannya. “Saya sedang nongkrong di kafe bareng teman-teman, lalu handphone mati, lama. Di situ saya terpikir untuk membuat (Lungguh),” ungkapnya.

Lewat uji coba, selama satu jam, kursi tersebut sudah bisa menghasilkan listrik sebesar 80-500 milivolt, hanya dari panas tubuh manusia.

Jumlah tersebut, menurut Brian, belum besar dan belum bisa dipakai untuk apa pun. Namun, riset dan pengembangan akan dilakukan agar jumlah listriknya lebih besar. Salah satu yang akan diperbaiki adalah permukaan kursi, yang awalnya adalah plastik akan diganti dengan bahan konduktor.

Brian bersama rekannya yang terlibat dalam inovasi ini, Chintya Rizki Amanda dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UKSW, juga akan melakukan beberapa riset sehingga kursi itu bisa digunakan.

Karya Brian dan Chintya menjadi pemenang dari kompetisi Go Green in the City (GGITC) yang diadakan Schneider Electric. Pengumuman pemenang dilakukan pada 13 Maret lalu di Jakarta.

Kompetisi itu digelar untuk menjaring ide tentang cara yang lebih cerdas dan efisien dalam mengonsumsi energi.

Brian dan Chintya mengalahkan lima finalis lainnya, yang ide-idenya tak kalah bagus. Total, ada 93 proposal yang masuk dalam kompetisi ini.

Dengan keberhasilan di tingkat nasional, Brian dan Chintya akan melombakan karyanya di tingkat Asia Timur di Ho Chi Minh City, Vietnam, pada 4 April 2014 dan berlomba dengan tim Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Laos, Myanmar, Thailand, dan Taiwan. Bila menang, karya Brian dan Chintya akan dilombakan di Paris.

Kompetisi GGITC diadakan sejak tahun 2009. Riyanto Mashan, Country President Scneider Electric Indonesia, mengatakan, jumlah proposal meningkat pada tahun ini. Jumlah tahun lalu adalah 60 proposal.

Sumber: majalahinovasi.com (15/3/2014)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: