Skip to content

Agung Pambudi: Pembuat Aplikasi HalalMinds yang Diburu di Jepang

Juni 24, 2014

Agung bersama koleganya, Dai Oshiro (kiri) dan Goto Hironobi (kanan) menunjukkan aplikasi HalalMinds

Kesibukan Agung Pambudi pada akhir Mei 2014 lalu meningkat drastis. Selain harus menyiapkan ujian doktoralnya di Kyusu University, ia juga harus melayani permintaan wawancara dari sejumlah media Jepang. Permintaan wawancara mengalir setelah alumni Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Semarang (Unnes) ini meluncurkan aplikasi pemburu produk halal bernama HalalMinds.

Diberitakan Bloomberg Bussinesweek, HalalMinds telah menyita perhatian pemerhati teknologi di Jepang. Aplikasi ini diprediksi memiliki prospek bisnis yang baik karena mampu memecahkan persoalan serius yang banyak dialami Muslim di dunia. HalalMinds adalah aplikasi smartphone yang dapat mendeteksi produk halal.

Fitur utamanya adalah scanner barcode yang bisa digunakan saat belanja di supermarket. Pengguna tinggal memindai barcode produk, secara otomatis scan langsung melacak database dari sekitar 500.000 item untuk menentukan apakah produk tersebut sarat bahan halal atau tidak.

Agung sebetulnya bukan dari jurusan teknologi informasi. Riset S3-nya bahkan tentang “Energi dan Analisis Exergy dari Pembangkit Listrik Panas Bumi”. Namun berangkat dari kegelisahannya mengenai unsur sake dan daging babi yang ada di hampir semua produk di Jepang mendorongnya menciptakan aplikasi halal. HalalMinds kini tersedia untuk sistem operasi Android sejak 3 April dan iOS iPhone sejak 28 April.

Layanan ini akan membantu mahasiswa dan masyarakat muslim secara umum yang tinggal di Jepang—bahkan negara lain—untuk mencari produk halal sesuai dengan aturan Islam. Data yang dihimpun HalalMinds, kini tersebar 150.000 muslim di Jepang dan lebih dari 1 juta muslim menjadi turis di Negeri Sakura. Pengunjung muslim datang dari Malaysia, Indonesia, dan Timur Tengah.

Tak hanya produk halal, sistem buatan Agung ini pun menawarkan informasi restoran halal, kompas kiblat, dan ayat-ayat Al-Qur’an. Kendati baru tersedia dalam bahasa Inggris, hingga bulan lalu sudah lebih dari 1.100 yang mengunduh aplikasi tersebut sejak diluncurkan.

Berkolaborasi dengan Pengusaha Jepang

Proses riset HalalMinds berawal ketika Agung mengunjungi Startup Weekend, forum kongko para wirausahawan bidang teknologi informasi. Dalam forum muda-mudi itulah, Agung dikenalkan dengan Dai Oshiro yang merupakan Chief Executive Officer Whatz.jp, komunitas pendatang dan masyarakat lokal di Jepang.

Dai Oshiro juga satu almamater dengan Agung di Kyushu, tapi dari Departemen Ekonomi. Pria sipit ini juga mengikuti ajang Startup Weekend, keduanya pun menjadi akrab. Agung kemudian menceritakan ide membuat aplikasi halal yang akhirnya dikembangkan bersama hingga saat ini. Dari pertemuan intens dan kesamaan visi itu, HalalMinds terbentuk melalui bendera Kyushu Lab.

“Saya yakin, upayanya membuat aplikasi ini menjadi langkah besar bagi masyarakat muslim,” kata Dai.

Berdirinya HalalMinds tak pernah disangka karena begitu cepat terealisasi. Sejak lama Agung bercita-cita ingin mendirikan perusahaan rintisan (startup) internasional, tapi buta dari mana awalnya.

“Ayah ibu saya hanya seorang pendidik. Saya sendiri tidak ada relasi ke sana, yang ada hanyalah impian. Tapi pada tahun terakhir saat saya ikut Startup Weekend, dari sana saya banyak bertemu dengan teman-teman dari Jepang yang memiliki mimpi sama,” cerita Agung pada Bloomberg.

Ia kadang harus pintar-pintar mencuri waktu. Biasanya malam hari selesai dari lab, Agung mengembangkan HalalMinds. “Karena di tim ini saya-lah yang muslim, kadang tidak ada diskusi tentang ini dengan anggota lain. Mangkanya sebenarnya saya perlu teman lain yang bisa mewujudkan ide-ide saya.” terangnya.

Agung mendapat dukungan dari Hironori Goto, warga Jepang yang pernah bekerja di bekerja di Panasonic Communication Co. Ltd. Goto memiliki pengalaman panjang di bidang TI karena lebih dari 20 tahun ia bertanggung jawab dalam pengembangan desain, rencana produk untuk perangkat keras, lunak, servis jaringan, dan proyek bisnis baru. Goto juga pernah bekerja sebagai Advanced Demonstration Project Leader di Fukuoka IST, Industry, Science & Technology Foundation.

Sumber: unnes.ac.id (13/6/2014)

2 Komentar leave one →
  1. Juni 30, 2014 11:35 pm

    Reblogged this on hanifny.

  2. Juli 2, 2014 11:35 am

    kereeen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: