Skip to content

Stephanus Widjanarko: Alumni ITB yang Jadi Desainer Mobil F1

Agustus 2, 2014

Stephanus Widjanarko di indonesiaproud wordpress comPara penggemar balap mobil pasti kenal Formula One (F1), salah satu ajang balap mobil tingkat dunia yang digandrungi berbagai kalangan. Maka, menjadi sebuah kebanggaan ketika mampu menjadi bagian dalam ajang bergengsi tersebut.

Perasaan itu yang dialami alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) 2004, Stephanus Widjanarko saat bekerja sebagai salah satu engineer yang bertugas mendesain mobil balap F1 di Italia.

Bekerja di perusahaan F1 merupakan impian pria yang akrab dipanggil Tephie ini dari masa kecil. Hal ini karena memang Tephie dan Ayahanda sangat suka melihat pertandingan balap mobil F1. “Tahun 2004 kemarin saat saya baru masuk ITB, saya diajak Ayah nonton F1 secara langsung di Kuala Lumpur. Kemudian saya berfikir kayaknya bakal seru kalau kerja di F1 setelah lulus nanti,” tuturnya.

Tephie bergabung dalam tim Scuderia Torro Roso yang merupakan tim junior dari Red Bull Racing. Dalam tim ini, ia berperan sebagai Computational Fluid Dynamics (CFD) aerodynamicist pada CFD khususnya di bagian external aero development.

“Saya bertugas untuk merancang bagian depan berdasarkan sisi aeronya. Atau secara lebih detailnya pada bagian front wing, nose, forward barge board, suspension layout, tyre shield,” jelasnya.

Menurut Tephie, terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan dalam proses pembuatan kerangka mobil balap F1. Pertama, mereka membuat ide terlebih dahulu yang kemudian direalisasikan dalam bentuk 3D surfaces. Setelah itu model dimasukkan dalam CFD, kemudian dilakukan pengujian terakhir dengan menggunakan wind tunnel. Setelah pengujian wind tunnel menunjukkan hasil yang baik, model kemudian dikirimkan ke bagian Design Office untuk direalisasikan dalam skala full body.

Dia menyebut, proses penyusunan ide hingga pengujian melalui wind tunnel memakan waktu sekira 2-3 minggu. Meski demikian, Tephie mengaku jika setiap hari merupakan deadline untuk tugas tertentu.

“Inilah yang membedakan kerja di F1 dengan perusahaan lainnya. Ritme kerja di F1 itu padat karena timeline nya pendek-pendek, sehingga hampir setiap hari ada deadline,” papar Tephie.

Sejak awal bergabung pada F1 pada April 2013, Tephie terlibat dalam fase terakhir pengembangan mobil TR8. Pada 2014, dia terlibat dalam hampir seluruh fase development mobil TR9. “Sekarang saya sudah mulai menggarap proyek pembuatan mobil untuk tahun depan,” ungkapnya.

Sumber: itb.ac.id (18/07/14). kampus.okezone.com (21/07/14)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: