Skip to content

Dayu Laras Wening dan Luthfia Adila: Dengan “Stik Detektor Boraks” Raih Emas di IEYI 2014

November 10, 2014

luthfia dan dayu di indonesiaproud wordpress comDayu Laras Wening dan Luthfia Adila, siswi asal SMA Negeri 3 Semarang menorehkan prestasi membanggakan dengan berhasil menyabet emas dalam ajang kompetisi inovasi anak muda tingkat dunia, International Exhibition for Young Inventors (IEYI) yang berlangsung di Jakarta pada 30 Oktober – 1 November 2014.

Dayu dan Luthfia mendapatkan penghargaan karena berhasil menciptakan perangkat sederhana namun berguna untuk mendeteksi bahan kimia berbahaya boraks yang diberi nama stick of borax detector atau Sibodec, .

Lewat perangkat serupa tusuk gigi itu, Dayu dan Luthfia berupaya menyelesaikan masalah yang selalu dihadapi masyarakat, yaitu kesulitan memilih makanan bebas bahan kimia berbahaya seperti boraks.

Penemuan mereka ini berawal ketika isu daging yang mengandung Boraks ramai diperbincangkan. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan dan meninggalkan pertanyaan mendalam tentang bagaimana cara mendeteksi daging yang mengandung Boraks.

“Berawal dari kepekaan kita pada lingkungan. Ternyata kalau mau cek itu harus ke laboratorium, bayar Rp 30 ribu untuk satu sample dan menunggu sekitar 3 minggu untuk prosedurnya,” kata Wening

Dara kelahiran 15 November 1996 itu kemudian berkonsultasi dengan guru pembimbingnya hingga akhirnya tercetus memanfaatkan tusuk gigi. Menurut mereka dengan menggunakan tusuk gigi lebih praktis dan yang pasti murah.

“Jadi orang-orang kalangan bawah juga harus bisa cek sendiri. Kalau pakai tusuk gigi kan murah, praktis. Tadinya kepikiran pakai tusuk sate, tapi kebesaran,” tandasnya.

Dibantu guru pembimbing, mereka melakukan penelitian sejak kelas X dan tahun 2013 lalu berhasil menemukan racikan bahan herbal yang bisa diaplikasikan ke tusuk gigi biasa. Cara kerjanya pun cukup efektif, tinggal menusukkannya ke daging dan tunggu 5 detik.

“Kalau berubah merah, berarti mengandung Boraks. Tidak hanya daging, bisa juga mi, caranya digulung dulu jadi bola lalu ditusuk. Kalau krupuk, dihancurkan dan dicampur air kemudian oleskan di tusuk gigi,” terang Wening.

“Jadi kalau ke pasar bisa diam-diam tusukkan ke daging, jadi pedagangnya tidak tahu dan enggak marah-marah. Ini juga tidak merubah kualitas makanan, kok,” timpal Luthfia.

Wening dan Luthfia masih enggan membeberkan rahasia pembuatan tusuk gigi ajaib itu. Kini mereka sedang berusaha memperoleh hak paten atas temuan mereka. “Balai Besar POM Semarang ikut membantu pengujian. Kemarin datang ke Sekolah dan mereka mengakui kalau temuan kami lebih efisien meski harus ada yang diperbaiki lagi,” pungkas Wening.

Tidak hanya mengusahakan hak paten, mereka juga sudah merencanakan menjual Sibodec dengan kemasan kotak kecil berisi 35 sachet dengan harga Rp 35 ribu. Harga tersebut sangat murah karena satu sachet berisi dua tusuk gigi dan bisa digunakan beberapa kali.

Sumber: sains.kompas.com (02/11/14), dakwatuna.com (08/11/14)

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: